Puluhan perempuan Palestina menggelar aksi pada Selasa (10/03) di luar kantor Komite Internasional Palang Merah di Tulkarem, Tepi Barat bagian utara. Mereka menyatakan solidaritas dengan para tawanan Palestina, khususnya perempuan tawanan di penjara-penjara Israel. Aksi protes tersebut diselenggarakan oleh Persatuan Umum Perempuan Palestina untuk memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret.
Presiden serikat pekerja, Nada Tuweir, menegaskan hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri dan mengakhiri pendudukan Israel. Ia menekankan bahwa perjuangan perempuan Palestina merupakan bagian penting dari perjuangan yang lebih luas untuk pembebasan nasional, keadilan, dan kesetaraan.
Tuweir mengatakan Hari Perempuan Internasional tahun ini datang di tengah meningkatnya tantangan yang perempuan Palestina hadapi karena pendudukan Israel yang berkelanjutan. Di samping itu, mereka juga menderita akibat pembunuhan, pengusiran paksa, perluasan permukiman, dan perampasan tanah.
Baca juga : “Perempuan Tawanan Palestina Hadapi Pelecehan di Penjara Israel“
Ia juga menyoroti memburuknya kondisi ekonomi dan sosial yang memengaruhi perempuan. Ini terjadi khususnya pada perempuan yang mengungsi, menjanda, atau bagian dari angkatan kerja yang berjuang untuk menghidupi keluarga mereka.
“Perempuan Palestina bukan sekadar korban marginal perang,” kata Tuweir. “Mereka adalah pilar utama ketahanan komunitas dan mitra aktif dalam perjuangan nasional serta dalam membangun perdamaian.” Dia menyerukan pemberdayaan perempuan yang lebih besar dan memastikan partisipasi penuh dan adil dalam posisi pengambilan keputusan di semua tingkatan.
Tuweir juga mendesak komunitas internasional untuk melindungi hak-hak perempuan Palestina. Ia menuntut jaminan akses mereka ke platform internasional tanpa batasan, dan mengambil tindakan serius untuk mengakhiri pendudukan dan mencapai perdamaian berdasarkan keadilan dan kebebasan.
Ia menekankan pentingnya mengadopsi kebijakan ekonomi dan sosial yang memperkuat ketahanan perempuan serta memberikan perlindungan dan dukungan kepada kelompok yang paling rentan.
Serikat tersebut juga menyerukan pengintegrasian perempuan ke dalam upaya bantuan dan rekonstruksi serta perluasan peran mereka dalam kehidupan politik dan ekonomi. Ia menggambarkan pemberdayaan perempuan Palestina sebagai komponen kunci dari proyek pembebasan nasional yang lebih luas dan pembangunan masyarakat yang berdasar pada keadilan dan kesetaraan.
Sementara itu, Perhimpunan Tawanan Palestina mengatakan bahwa Hari Perempuan Internasional diperingati ketika pasukan pendudukan Israel terus menahan 72 perempuan Palestina di penjara mereka, sebagian besar di penjara Damon. Menurut organisasi tersebut, para tawanan termasuk tiga anak di bawah umur dan 32 ibu dengan total 130 anak.
Kelompok tersebut mengatakan bahwa Israel menahan 17 perempuan di bawah penahanan administratif tanpa pengadilan. Sementara itu, lima lainnya telah menerima hukuman penjara dengan durasi yang berbeda-beda. Hukuman terlama, 16 tahun, Israel jatuhkan kepada tawanan Shatila Ayad.
Israel masih menahan sebanyak 50 perempuan lainnya masih tanpa vonis akhir, termasuk 16 perempuan atas tuduhan “penghasutan” oleh Israel. Namun, kelompok hak asasi manusia memperkirakan jumlah tawanan sebenarnya lebih tinggi.
Sumber: Palinfo








