Sabtu (28/02), Israel menutup pos-pos perbatasan Gaza yang sangat penting untuk pengiriman bantuan kemanusiaan dan evakuasi pasien. Penutupan terjadi ketika pasukan Israel dan AS melancarkan serangan skala besar terhadap Iran. Pemerintah pendudukan Israel mengumumkan penutupan perbatasan dengan Gaza dalam sebuah pernyataan:
“Beberapa penyesuaian keamanan yang kami perlukan telah diterapkan. Ini termasuk penutupan penyeberangan ke Jalur Gaza, di antaranya Penyeberangan Rafah, hingga pemberitahuan lebih lanjut,” kata Koordinator Kegiatan Pemerintah Israel di Wilayah Pendudukan (COGAT).
Penyeberangan Rafah yang berada di perbatasan selatan Gaza dengan Mesir baru terbuka kembali pada awal Februari. Pembukaan tersebut memungkinkan sejumlah kecil warga Palestina melewatinya untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan. Di antara warga yang menyeberang, banyak pasien yang membutuhkan perawatan medis mendesak.
Hampir seluruh penduduk Gaza, yang berjumlah lebih dari dua juta jiwa, mengungsi selama genosida Israel yang tiada henti. Akibatnya, Jalur Gaza sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Baca juga : “Hanya 29% Kepatuhan Israel yang Tercatat dalam Pembukaan Penyeberangan Rafah“
Pada pertengahan Februari, PBB melaporkan bahwa tim kemanusiaan di Gaza terus menghadapi pembatasan Israel saat berupaya memberikan bantuan penyelamatan jiwa. Israel telah melakukan penolakan terhadap beberapa misi meskipun kebutuhan mendesak.
Human Rights Watch menyatakan dalam sebuah laporan pada Februari bahwa pembatasan bantuan oleh Israel terus menyebabkan kekurangan obat-obatan, makanan, bahan bakar, dan air di dalam Jalur Gaza.
PBB menyatakan pada Jumat (27/02) bahwa Israel telah memblokir atau menolak lebih dari setengah pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza pada bulan Februari. Akibatnya, hal ini semakin memperburuk kekurangan bagi warga sipil.
“Jatah makanan telah Israel potong setengahnya pada bulan Februari dan sekitar dua pertiga truk bantuan yang datang melalui koridor Mesir, telah Israel kembalikan bulan ini,” kata juru bicara PBB Stephane Dujarric dalam konferensi pers.
Dujarric melaporkan bahwa di dalam Gaza, pergerakan kemanusiaan yang terkoordinasi dengan otoritas Israel juga terus berlanjut. “Dari sepuluh misi yang kemarin telah terencana, empat berhasil terlaksana – termasuk pengumpulan bahan bakar, tenda, dan perlengkapan bayi dari perbatasan Kerem Shalom/Karem Abu Salem,” katanya. Ia menambahkan bahwa “Lima misi terhambat, dan permintaan untuk menilai fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan di Gaza Utara ditolak mentah-mentah.”
Sementara itu, tentara pendudukan Israel masih melakukan serangan udara dan penembakan artileri di berbagai wilayah Jalur Gaza pada Ahad (01/03) pagi. Menurut sumber media, penembakan artileri Israel menargetkan daerah Ash-Shakoush dan Al-Mawasi di Rafah, Gaza selatan. Selain itu, serangan artileri lainnya terjadi di wilayah timur Kota Gaza.
Tank-tank Israel juga melepaskan tembakan senapan mesin ke arah timur Khan Yunis, selatan Gaza. Di samping itu, pesawat tempur Israel melancarkan dua serangan udara di sebelah timur Khan Yunis, selatan Gaza.
Sumber: Palinfo, Middle East Monitor, Middle East Eye, Al Jazeera








