Menurut al-Baladzuri, seorang tokoh sejarawan Islam pada abad ke-9, Islam masuk ke Palestina pada 637 atau 638 M. Hadirnya Islam di tanah Palestina bukan sekadar hasil dari invasi atau kemenangan militer oleh orang-orang Arab, melainkan murni merupakan pembebasan. Meski sebelumnya para nabi telah meninggalkan jejak Islam di tanah Palestina, namun pada 614 M, bangsa Persia Sassanid menginvasi Palestina, kemudian pada 629 M, Kaisar Byzantium Heraclius merebut tanah Palestina, membuat Palestina berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Byzantium.
Di dalam buku berjudul Palestine, A Four Thousand Year History, disebutkan bahwa proses Arabisasi dan Islamisasi di Palestina dan transformasi komunitas agama di wilayah tersebut adalah proses sejarah yang berbeda dan tidak boleh secara otomatis disamakan atau disinkronkan secara historis. Proses Arabisasi di Palestina telah lama mendahului proses Islamisasi di sana, ditandai dengan sudah adanya komunitas Kristen Palestina yang berbahasa Arab ketika masuknya agama Islam.
Dengan kata lain, Islam datang ke Palestina bukan untuk mengklaim dirinya sebagai satu agama di antara agama-agama lain, melainkan hadir untuk melengkapi pesan-pesan wahyu samawi yang sudah ada di Palestina. Sebab, sesungguhnya Islam telah lama hadir di bumi Palestina. Nabi Sulaiman, misalnya, memegang peran penting dalam merenovasi Masjid Al-Aqsa sebelum Al-Quds (Yerusalem) diserang oleh Nebukadnezar dari Babilonia dan dihancurkan lagi oleh Kaisar Titus dari Roma.
Bagi orang Yahudi Palestina, Islam hadir sebagai pewaris Ibrahim dan Musa, sedangkan bagi orang Kristen Palestina, Islam memuliakan Yesus atau Isa, bukan sebagai Tuhan, melainkan sebagai nabi atau utusan Tuhan. Pesan damai inilah yang membuat Islam membawa periode kemakmuran dan toleransi beragama serta kemajuan dalam bidang ekonomi, agama, dan budaya bagi komunitas Kristen dan Yahudi di tanah Palestina.
Perang Yarmuk, Gerbang Pembuka Pembebasan Palestina

Secara historis, Palestina menjadi bagian dari negara Islam setelah perang Yarmuk yang terjadi pada 636 M. Perang Yarmuk merupakan pertempuran bersejarah antara Kekaisaran Byzantium dengan Kekhalifahan Islam yang saat itu masih berada di bawah pimpinan Khulafaur Rasyidin. Pertempuran besar umat Islam melawan Kristen-Romawi ini menandai babak baru ekspansi Islam dari Semenanjung Arab hingga kawasan Levantina atau Syam (wilayah di sepanjang pantai timur Mediterania, sekarang meliputi Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah, dan sekitarnya).
Konteks sejarah pertempuran ini muncul setelah Nabi Muhammad saw. wafat pada 632 M, empat tahun sebelum Perang Yarmuk terjadi. Pada masa itu, Nabi Muhammad saw. dan pasukannya sudah berhasil menaklukkan Semenanjung Arab dan menyebarkan Islam di kawasan tersebut. Setelah beliau wafat, Abu Bakar ash-Shiddiq diangkat yang menjadi Khalifah Islam yang pertama. Dua tahun kemudian, setelah wafatnya Abu Bakar, kemudian, posisi khalifah digantikan oleh Umar bin Khattab.
Di masa pemerintahannya, Khalifah Umar sangat ingin melanjutkan ekspansi Islam ke Irak dan Suriah. Namun, ia segera menghadapi konflik dengan Kekaisaran Byzantium. Saat itu, Kaisar Heraclius baru saja menaklukkan wilayah Syam dan Suriah dari Kekaisaran Sassanid (Persia). Ia ingin melindungi wilayah yang telah direbutnya tersebut serta melancarkan serangan balasan terhadap umat Islam.
Kedua belah pihak mengumpulkan pasukan mereka dan akhirnya bertemu di selatan Sungai Yarmuk, anak sungai utama Sungai Yordan, di tenggara Golan dan di timur Danau Kinneret, di wilayah yang sekarang menjadi perbatasan antara Yordania dan Suriah. Meski jumlah pasti pasukan masih menjadi perdebatan, namun dapat dipastikan bahwa pasukan Byzantium jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan pasukan Islam pada saat itu. Diperkirakan pasukan Byzantium berjumlah antara 80.000 hingga 150.000 orang, bahkan ada yang menyebutkan hingga 240.000 orang dan bersenjata lengkap. Sementara itu, pasukan Islam saat itu hanya berjumlah 15.000 hingga 40.000 orang, dan ada pendapat lain yang menyebutkan hingga 45.000 orang.
Namun, umat Islam dalam pertempuran tersebut memiliki Khalid bin Walid, seorang pejuang yang diberi julukan Syaifullah atau Pedang Allah oleh Nabi Muhammad. Beliau merencanakan strategi untuk membagi pasukan ke dalam sayap kanan, tengah dan sayap kiri yang masing-masing dipimpin seorang komandan. Kemudian, dari masing-masing sayap tersebut dibentuk lagi pasukan-pasukan kecil yang juga dipimpin oleh seorang komandan.
Khalid bin Walid menyusun strategi tersebut karena ia paham betul bahwa pasukan lawan terdiri atas pasukan kavaleri (pasukan yang menggunakan kendaraan) dan pasukan infanteri (pasukan yang berjalan kaki). Oleh karenanya, ia membentuk pasukan kecil agar ketika jarak antara pasukan kavaleri dan infanteri Romawi terpisah jauh, pasukan Islam dapat masuk dan berada di tengah antara pasukan kavaleri dan infanteri. Dengan cara tersebut, pasukan Islam dapat menyerang dari depan dan belakang.
Pertempuran berlangsung selama enam hari. Selama beberapa hari pertama, pasukan Islam memakai strategi bertahan dan hanya melawan dengan kekuatan kecil. Akan tetapi, di hari-hari terakhir, saat pasukan Byzantium sudah merasa akan menang dan terlena oleh suasana, pasukan Islam melancarkan serangan besar-besaran yang mengantarkan mereka pada kemenangan.
Meski jumlah pasukan umat Islam dalam pertempuran Yarmuk lebih sedikit dibandingkan pasukan Byzantium, namun umat Islam berhasil meraih kemenangan yang gemilang. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Byzantium kehilangan banyak pasukan, dengan estimasi tentara yang meninggal sebesar 70.000 hingga 120.000 orang. Sebaliknya, dari umat Islam hanya jatuh sekitar 3.000 korban. Kemenangan umat Islam atas pertempuran ini menandai kemajuan besar dalam penaklukan wilayah Islam dan membuka jalan bagi pembebasan Palestina, terutama kota suci Al-Quds (Yerusalem).
Pembebasan Palestina dan Janji Perdamaian untuk Seluruh Umat Beragama

Setelah wilayah Syam, termasuk Palestina, berada di bawah kekuasaan Kekhalifahan Islam, Khalifah Umar mengunjungi barak militer di al-Jabiyah, yang terletak di sebelah utara medan pertempuran Yarmuk. Tujuan kedatangannya adalah untuk memperingati penaklukan wilayah secara damai, menetapkan status negeri taklukan, menyusun aturan-aturan baru, juga bertukar pikiran dengan jenderalnya, yaitu Abu Ubaidah, yang ia tunjuk untuk menggantikan Khalid bin Walid setelah Perang Yarmuk.
Di Al-Quds (Yerusalem), Patriark Kristen Sophronius memberikan tawaran perdamaian dengan syarat Khalifah Umar sendiri yang datang ke Al-Quds untuk memastikan syarat pelaksanaan perdamaian tersebut. Khalifah Umar menyetujuinya dan beliau datang ke Al-Quds untuk menemui Patriark Sophronius. Ketika Sophronius menemani Umar berkeliling ke situs-situs suci, ia sangat terkejut menyaksikan kesederhanaan dan pakaian sangat sederhana yang dikenakan oleh Khalifah Umar. Ia berkata, “Sungguh, inilah kesahajaan dan kegetiran yang dikabarkan oleh Daniel Sang Nabi ketika ia berdiri di tempat suci ini.”
Seorang sejarawan bernama Rapoport memberikan gambaran saat menceritakan kedatangan Khalifah Umar ke Al-Quds. Ia menyebutkan bahwa penduduk Al-Quds sebelumnya menyaksikan kemegahan dan kemewahan dalam pakaian berlapis emas Kaisar Byzantium. Oleh sebab itu, mereka kaget dan tercengang ketika menyaksikan kedatangan Umar bin Khattab yang memasuki Al-Quds hanya dengan mengenakan jubah bulu unta di atas seekor unta yang membawa seluruh harta bendanya dan perbekalan kurma. Keadaannya sangat kontras dengan kemewahan yang lazim diperlihatkan oleh kalangan kaisar dan pejabat Byzantium. Kesederhanaan Khalifah Umar ini kemudian memberikan dampak positif di hati masyarakat yang selama ini marah terhadap pemerintahan Byzantium yang bercirikan tirani dan brutal.
Penaklukan Islam atas wilayah Palestina juga tidak serta merta membuat Khalifah Umar dan umat Islam memaksakan keyakinan mereka terhadap penduduk Yerusalem. Para ahli sejarah Arab menyebutkan bahwa Khalifah Umar bahkan menolak undangan dari Patriark Al-Quds (Yerusalem) agar beliau melaksanakan salat di salah satu gereja di sana. Saat itu, Umar bin Khattab menyebutkan bahwa ia khawatir umat Islam akan menganggap tindakannya sebagai alasan dan pembenaran untuk mengubah gereja tersebut menjadi masjid untuk mengenang bahwa Khalifah Umar pernah singgah dan melaksanakan salat di sana.
Sebaliknya, setelah penjajah Byzantium angkat kaki dari Palestina, Khalifah Umar menyerukan persatuan bagi umat Yahudi, Kristen, dan Muslim, serta menjamin keselamatan jiwa dan harta benda mereka. Sejarawan Rapoport menyebutkan di dalam bukunya, The History of Palestine, bahwa deklarasi Khalifah Umar membuktikan toleransi yang sangat besar dan diwarnai dengan semangat keadilan. Seruan Khalifah Umar meninggalkan dampak besar pada jiwa umat Yahudi dan umat Kristiani di Suriah dan Palestina yang dulunya dianiaya karena perbedaan agama dan menderita di bawah kekejaman pejabat dan beban pajak yang tinggi.
Pembebasan dengan jalan damai inilah yang kemudian membuka gerbang bagi Islam untuk masuk ke wilayah Palestina. Di bawah kekhalifahan Umar bin Khattab, Palestina berada dalam kondisi yang damai dan sejahtera. Al-Quds (Yerusalem) menjadi kota suci bagi tiga agama: Islam, Yahudi, dan Kristen.
Kondisi ini terus berlangsung hingga Umar bin Khattab wafat dan digantikan oleh Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Sepeninggal Khalifah Ali, para pemimpin Arab berkumpul pada 660 M di Al-Quds (Yerusalem) untuk mengikrarkan kesetiaan pada Muawiyah. Peristiwa tersebut menandai peralihan kekuasaan Islam di Palestina dari masa Khulafaur Rasyidin ke masa Kekhalifahan Dinasti Umayyah.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
Garaudy, R. (2024). Filisthin Ardh ar-Risalat as-Samawiyah (M. Husnil, Ed.; M. Munir, Trans.). Dar Thalas.
Hitti, P. K. (2002). History of The Arabs. Palgrave Macmillan.
Masalha, N. (2023). Palestine: A Four Thousand Year History. Bloomsbury Academic.
On This Day: Arabs win historic victory over Byzantines at Battle of Yarmuk








