Anak-anak di Gaza saat ini terpaksa bekerja untuk bertahan hidup, mengorbankan pendidikan dan impian masa kecil mereka. Serangan Israel – termasuk serangan udara, penembakan, dan penghancuran secara sengaja – telah menghancurkan sebagian besar Gaza. Menurut PBB, lebih dari 97 persen sekolah di Gaza telah rusak atau hancur. Akibatnya, sebagian besar dari 658.000 anak usia sekolah hanya memiliki “akses terbatas” terhadap pembelajaran tatap muka selama lebih dari dua tahun.
Bahkan saat gencatan senjata yang rapuh mulai berlangsung, banyak sekolah yang telah berubah fungsi menjadi tempat penampungan bagi para pengungsi, bukan untuk kegiatan pembelajaran.
Saat ini belum ada statistik akurat tentang jumlah anak yang terpaksa bekerja di Gaza. Namun, warga Palestina mengatakan bahwa mereka telah melihat adanya peningkatan jumlah anak yang bekerja sebagai akibat dari kondisi ekonomi di Gaza.
Pada November, PBB melaporkan bahwa ekonomi Gaza telah “runtuh”. Produk domestik bruto (PDB) – indikator ekonomi penting – turun 83 persen dibandingkan dengan periode sebelum genosida. Perekonomian yang lemah, kurangnya pasokan listrik, dan ribuan keluarga yang pencari nafkahnya meninggal dalam genosida, telah menyebabkan anak-anak terpaksa bekerja.
“Apa yang kita saksikan di Gaza bukan sekadar pekerja anak,” kata Yaqeen Jamal, seorang psikolog pendidikan yang memberikan dukungan psikologis kepada anak-anak Gaza selama genosida. “Ini adalah penghancuran sistematis terhadap masa depan seluruh generasi.” “Anak-anak ini kehilangan rasa aman dan masa kecil mereka. Mereka memikul tanggung jawab yang melebihi kemampuan kognitif dan fisik mereka,” tambahnya.
Jamal mengatakan bahwa hal itu pasti akan menimbulkan bahaya di masa depan. “Dampak jangka panjangnya akan sangat buruk. Kita menghadapi generasi yang menderita buta huruf dengan kesehatan mental yang memburuk. Hal ini akan menciptakan kesenjangan sosial yang sulit untuk dijembatani.”
“Membangun kembali sekolah dan melanjutkan proses pendidikan harus menjadi prioritas utama. Sebab, pendidikan adalah garis pertahanan terakhir bagi identitas dan masa depan anak-anak ini,” pungkasnya.
Sumber: Al Jazeera, Palinfo








