Kelompok keenam warga Palestina yang terluka dan sakit berangkat pada Ahad pagi (08/02) dari Jalur Gaza. Mereka berangkat melalui perbatasan Rafah untuk menerima perawatan medis di luar negeri, menurut Bulan Sabit Merah.
Bus-bus yang membawa para pasien berangkat dari markas besar Palang Merah Palestina di Khan Yunis pada pagi hari. Mereka melakukan perjalanan menuju terminal perbatasan Rafah, sebelum kemudian menyeberang ke Mesir.
Perjalanan para pasien berlangsung di bawah pengawasan dan koordinasi pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Mereka hadir untuk memastikan pemindahan pasien berlangsung dengan aman ke Mesir.
Sementara itu, stasiun televisi satelit milik pemerintah Mesir, Al-Qahera News, melaporkan bahwa kelompok penumpang Palestina lainnya juga tiba pada Minggu pagi di sisi perbatasan Rafah di Mesir untuk kembali ke Gaza, tanpa memberikan detail lebih lanjut.
Warga Palestina yang kembali ke Gaza pada hari-hari pertama operasi penyeberangan Rafah telah melaporkan penundaan berjam-jam. Di samping itu, mereka juga melaporkan penggeledahan invasif oleh tentara Israel dan kelompok bersenjata Palestina dari kelompok milisi yang didukung Israel, Abu Shabab.
Meskipun misi Uni Eropa mengelola penyeberangan tersebut secara resmi bersama dengan pejabat Otoritas Palestina, tentara pendudukan Israel memiliki fasilitas pemeriksaan yang berjarak cukup jauh. Di sana, mereka mewajibkan penumpang Palestina untuk menjalani pemeriksaan paksa tambahan.
Berdasarkan pengaturan yang dikoordinasikan oleh pejabat Israel, Mesir, Palestina, dan internasional, hanya 50 orang yang mendapatkan izin kembali ke Gaza setiap hari. Sementara itu, 50 pasien, masing-masing bersama dua kerabat yang mendampingi, mendapatkan izin untuk pergi. Namun, jumlah penumpang yang sebenarnya menyeberang ke kedua arah jauh lebih rendah dari perkiraan.
Saat ini, sektor kesehatan Gaza terus beroperasi dalam kondisi yang mengerikan dan tak terbayangkan. Ini terjadi terutama setelah tentara Israel mengebom dan menghancurkan rumah sakit dan klinik. Selain itu, Israel juga memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya pasokan medis dan bahan bakar ke Jalur Gaza.








