Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan pada Senin (09/02) bahwa laboratorium medis dan bank darah di seluruh Jalur Gaza berada di ambang penutupan total. Hal ini terjadi karena adanya larangan berkelanjutan terhadap masuknya perlengkapan laboratorium penting. Ini terjadi di tengah serangan Israel yang terus berlanjut terhadap warga Palestina.
Bank Darah Gaza Berada di Ambang Keruntuhan
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan bahwa gangguan berkepanjangan dalam pengiriman sangat mengganggu operasi laboratorium dan layanan darah. Akibatnya, hal tersebut semakin mendorong sistem kesehatan Gaza mendekati keruntuhan.
Kekurangan telah mencapai tingkat kritis; sebanyak 84 persen dari persediaan barang-barang pengujian laboratorium telah habis. Kekurangan bahan dan perlengkapan laboratorium dasar juga telah mengalami peningkatan menjadi sekitar 71 persen.
Akibatnya, semakin banyak tes diagnostik penting berisiko terhenti sepenuhnya. Tes-tes penting ini termasuk tes hitung sel darah lengkap (CBC), profil koagulasi, analisis gas darah, pengujian mikrobiologi, diagnostik kanker, dan pengujian kompatibilitas darah yang penting untuk kebutuhan transfusi.
Para pejabat kesehatan memperingatkan bahwa ketiadaan tes-tes ini membuat petugas medis hampir mustahil untuk dapat memberikan perawatan medis yang memadai kepada pasien dan korban luka. Ini terjadi khususnya di unit perawatan intensif, ruang operasi, unit gawat darurat, dan unit perawatan intensif neonatal.
Kementerian tersebut mendesak pihak berwenang terkait dan dunia internasional untuk segera turun tangan. Mereka harus segera mengambil tindakan guna mengisi kembali persediaan laboratorium dan bank darah Gaza. Kementerian memperingatkan bahwa fasilitas-fasilitas ini menghadapi momen yang sangat kritis yang dapat segera berujung pada penghentian layanan secara permanen.
Saat ini, jumlah korban terbunuh akibat genosida Israel di Jalur Gaza telah melonjak menjadi 72.032 jiwa, menurut kementerian kesehatan pada Senin pagi (09/02). Kementerian menambahkan bahwa jumlah total korban luka juga melonjak menjadi 171.661 orang.
Dalam laporan hariannya, kementerian kesehatan mengatakan bahwa rumah sakit menerima lima jenazah warga sipil dan 10 orang terluka selama 24 jam terakhir. Sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, setidaknya 581 warga Palestina terbunuh dan 1.553 lainnya terluka.
Sumber: Palinfo








