Dalam dukungan buta mereka terhadap Israel, umat Kristen Amerika membantu penghapusan komunitas Kristen di Palestina. Itulah pesan di dalam laporan podcast terbaru dari lapangan oleh Tucker Carlson. Podcast tersebut difilmkan di tepi Sungai Yordan dekat lokasi yang secara tradisional orang-orang Kristen yakini sebagai tempat pembaptisan Yesus.
Episode ini menampilkan Uskup Agung Anglikan Al-Quds (Yerusalem) Hosam Naoum dan Saad Mouasher, seorang warga Yordania beragama Kristen dan ketua Bank Ahli Yordania. Podcast ini mendapatkan pujian karena menantang propaganda Israel selama beberapa dekade yang menjelekkan warga Palestina dan umat Islam.
Laporan Carlson berfokus pada pertanyaan yang jarang orang-orang bahas dalam debat arus utama Barat: bagaimana perlakuan terhadap umat Kristen di bawah pemerintahan Israel. Laporan ini juga membandingkan pengalaman tersebut dengan sejarah panjang koeksistensi Muslim-Kristen di kawasan itu, dan dengan negara tetangga Yordania.
Penurunan Jumlah Komunitas Kristen Palestina
Uskup Agung Naoum, seorang Kristen Palestina kelahiran Nazareth, mengatakan bahwa jumlah kehadiran umat Kristen di Tanah Suci telah menurun selama beberapa dekade. Pukulan paling telak terjadi setelah pembentukan Israel pada 1948 dan pada 1967 ketika Israel memperluas daerah jajahan. Ia mengatakan kepada Carlson bahwa populasi Kristen “menyusut menjadi setengahnya” pada 1948.
Naoum mengatakan bahwa sejarah ini secara rutin disembunyikan di Barat; “Palestina” sering diperlakukan sebagai label untuk ekstremisme. “Saya orang Palestina,” katanya. “Saya seorang uskup agung.” Dia menambahkan bahwa banyak pengungsi Kristen Palestina akhirnya membentuk jemaat di luar negeri. Ia mengutip sebuah komunitas Anglikan di Beirut yang menurutnya sebagian besar terdiri dari orang Kristen yang berasal dari kota-kota Galilea seperti Haifa, Akko, dan Nazareth.
Uskup Agung itu juga menuduh sistem politik dan keamanan Israel melakukan diskriminasi terhadap umat Kristen. Itu mereka lakukan untuk mempercepat kepergian komunitas Kristen dari kota-kota Kristen bersejarah. Ia menggambarkan apa yang ia lihat sebagai iklim permusuhan yang semakin meluas di Yerusalem, termasuk para pendeta Kristen yang diludahi oleh ekstremis Yahudi dan gereja-gereja yang dirusak. Ia mengatakan beberapa kelompok radikal secara terbuka menyerukan “pemurnian” Yerusalem dari umat Kristen, dan ia mengklaim pihak berwenang gagal memberikan konsekuensi yang berarti.
Naoum juga menegaskan bahwa hukum Israel semakin membatasi ibadah umat Kristen. Ia merujuk pada pembatasan perayaan Paskah di Gereja Makam Suci. Di sana, kontrol polisi telah mengurangi jumlah jemaat yang hadir dalam upacara Api Suci dari sekitar 10.000 menjadi hanya 1.500, dan terkadang hanya meningkat setelah negosiasi. Ia menambahkan bahwa terdapat pembatasan ziarah untuk festival Kristen besar lainnya, termasuk di Gunung Tabor dalam beberapa tahun terakhir, lagi-lagi dengan dalih keamanan Israel.
Peningkatan Kekerasan di Tepi Barat
Di Tepi Barat, Naoum mengatakan kekerasan pemukim kolonial telah meningkat, termasuk serangan terhadap desa-desa Kristen serta komunitas Muslim. Ia menyebutkan insiden di Taybeh, yakni ketika para pemukim membakar dan menyemprotkan grafiti. Ada juga serangan di dekat Birzeit, ketika pemukim Israel memukul kepala seorang perempuan Kristen dengan batu. Mereka juga menangkap putranya setelah ia mencoba membela ibunya. Ia berpendapat bahwa kurangnya pertanggungjawaban mendorong serangan lebih lanjut.
Wawancara tersebut juga membahas Gaza. Naoum mengatakan bahwa Israel melarangnya mengunjungi Rumah Sakit Arab Al Ahli, meskipun RS tersebut merupakan fasilitas yang dikelola oleh Gereja Anglikan. Ia menegaskan bahwa rumah sakit tersebut telah berulang kali terkena serangan selama genosida dan para pemimpin gereja tidak mendapatkan jawaban yang jelas tentang apa yang terjadi.
Dalam kesaksian lainnya, Saad Mouasher mengatakan bahwa umat Islam dan Kristen di wilayah tersebut telah hidup berdampingan selama lebih dari seribu tahun. “Islam sangatlah integral dalam budaya kami sebagai orang Kristen di sini. Ya, kami merasa sangat nyaman,” katanya.
Mouasher menolak gagasan—yang umum dalam retorika Barat pascatragedi 9/11—bahwa Islam pada dasarnya bermusuhan dengan Kekristenan. Ia mengatakan bahwa umat Kristen di Yordania memiliki perlindungan konstitusional dan terwakili di seluruh negara dan perekonomian. Ia memuji stabilitas dan kepemimpinan yang memungkinkan minoritas untuk berkembang, dan menunjuk pada tradisi antaragama di wilayah yang lebih luas yang telah ada jauh sebelum perbatasan modern dan konflik modern.
Sumber: Middle East Monitor








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)