Kamar mayat di rumah sakit terbesar di Gaza pada Kamis (12/10) meluap karena jenazah datang lebih cepat daripada yang bisa diterima pada hari keenam pengeboman udara besar-besaran Israel di wilayah berpenduduk 2,3 juta orang itu. Dengan banyaknya warga Palestina yang terbunuh setiap harinya, petugas medis di daerah kantong yang diblokade itu mengatakan mereka kehabisan tempat untuk menampung korban serangan terakhir atau yang diambil dari reruntuhan bangunan yang hancur.
Kamar mayat di rumah sakit Shifa di Kota Gaza hanya mampu menampung sekitar 30 jenazah dalam satu waktu, dan para pekerja harus menumpuk tiga jenazah di luar ruang pendingin dan meletakkan puluhan jenazah lagi, secara berdampingan, di tempat parkir. Ada yang ditaruh di tenda, ada pula yang tergeletak di halaman rumah sakit, di bawah sinar matahari.
“Kantong jenazah mulai berdatangan dan terus berdatangan, dan sekarang menjadi kuburan,” kata Abu Elias Shobaki, perawat di RS al-Shifa, tentang tempat parkir. “Saya lelah secara emosional dan fisik. Saya hanya harus menahan diri untuk tidak memikirkan betapa buruknya keadaan yang akan terjadi.”
Hampir seminggu setelah kelompok pejuang Palestina melintasi pagar pemisah Israel yang dijaga ketat, Israel sedang mempersiapkan kemungkinan invasi darat ke Gaza untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade. Serangan darat kemungkinan akan meningkatkan jumlah korban jiwa warga Palestina, yang telah melampaui empat perang berdarah terakhir antara Israel dan kelompok pejuang Palestina.
Banyaknya sisa-sisa jasad telah mendorong sistem rumah sakit mencapai batas kemampuannya di wilayah yang telah lama diblokade ini. Rumah sakit di Gaza sudah kekurangan pasokan pada saat ‘normal’, tetapi kini Israel telah menghentikan aliran air dari perusahaan air nasionalnya dan memblokir aliran listrik, makanan, dan bahan bakar ke wilayah kantong pesisir tersebut. “Kami berada dalam situasi kritis,” kata Ashraf al-Qidra, juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza. “Ambulans tidak bisa menjangkau korban luka, korban luka tidak bisa mendapatkan perawatan intensif, korban meninggal tidak bisa dibawa ke kamar mayat.”
Serangan Israel di Gaza telah meratakan seluruh lingkungan, menewaskan lebih dari 1.400 orang, lebih dari 60% di antaranya adalah wanita dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Adapun lebih dari 340.000 orang mengungsi – 15% dari populasi Gaza. Serangan udara Israel pada Kamis (12/10) menghantam pusat kamp pengungsi Jabaliya, menewaskan puluhan orang – termasuk 45 anggota keluarga besar, kata Kementerian Dalam Negeri Gaza. Militer Israel mengatakan pihaknya menyerang infrastruktur kelompok pejuang Palestina dan bertujuan untuk menghindari korban sipil tetapi hal ini dibantah oleh warga Palestina.
Jumlah korban tewas dan lebih dari 6.000 orang terluka telah membuat fasilitas layanan kesehatan di Gaza kewalahan karena persediaan yang semakin berkurang. “Para pasien sekarang berada di jalanan. Yang terluka ada di jalanan. Kami tidak dapat menemukan tempat tidur untuk mereka.” kata Mohammad Abu Selim, Direktur Umum RS al-Shifa. Dengan terbatasnya sumber daya, klinik kekurangan staf dan ambulans membutuhkan waktu berjam-jam untuk membawa korban ke perawatan medis karena serangan udara telah merusak jalan-jalan, beberapa orang mengatakan perjalanan tersebut tidak sepadan.
“Kami tahu bahwa jika kasusnya kritis, mereka tidak akan bisa bertahan,” kata Khalil Abu Yehiya (28 tahun), seorang guru yang rumah tetangganya dibom dalam serangan udara di kamp pengungsi Jabaliya pada hari Kamis (13/10).
Satu-satunya pembangkit listrik di Gaza kehabisan bahan bakar pada Rabu (11/10). Rumah Sakit Shifa dan rumah sakit lain berusaha mati-matian untuk menghemat bahan bakar diesel yang tersisa di generator cadangan mereka, mematikan lampu di semua departemen rumah sakit kecuali yang paling penting – perawatan intensif, ruang operasi, stasiun oksigen.
Abu Selima, mengatakan bahan bakar rumah sakit terakhir akan habis dalam tiga atau empat hari. Ketika hal ini terjadi, “bencana akan terjadi dalam waktu lima menit,” kata Naser Bolbol, kepala departemen neonatal di rumah sakit tersebut, mengutip semua peralatan oksigen yang menjaga bayi tetap hidup. Otoritas rumah sakit mengatakan tidak akan ada lagi listrik yang tersisa untuk mendinginkan korban meninggal.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها

















