Ribuan orang berlindung di biara, pagoda, dan sekolah pada Minggu (14/5), mereka mencari perlindungan dari badai kuat, topan Mocha yang menghantam pantai Myanmar. Kuatnya badai ini hingga mampu membelah atap bangunan dan menewaskan sedikitnya tiga orang. Topan Mocha mendarat Minggu sore di negara bagian Rakhine, Myanmar, dekat Kotapraja Sittwe dengan kecepatan angin hingga 209 kilometer (130 mil) per jam, kata Departemen Meteorologi Myanmar.
Badai sebelumnya melewati Pulau Saint Martin di Bangladesh, menyebabkan kerusakan bangunan dan cedera pada beberapa warga. Namun, tidak lama kemudian badai berbalik dari pantai Bangladesh, sebelum mendarat di perbatasan Myanmar. Saat malam tiba, tingkat kerusakan di Sittwe tidak jelas. Pada hari yang sama, angin kencang menghancurkan menara ponsel, memutuskan komunikasi di sebagian besar wilayah tersebut.
Dalam video yang dikumpulkan oleh media lokal sebelum komunikasi terputus, air meluap, mengalir melalui jalan-jalan, sementara angin menerbangkan pohon dan menarik papan bangunan dan atap. Media yang berbasis di Rakhine melaporkan bahwa jalan-jalan terendam banjir, menjebak orang-orang yang rumahnya berada di daerah dataran rendah, sementara di luar wilayah, warga perkampungan meminta bantuan. Kantor informasi militer Myanmar mengatakan badai telah merusak rumah dan trafo listrik di kotapraja Sittwe, Kyaukpyu, dan Gwa.
Tim penyelamat pada Senin (15/5) mengevakuasi sekitar 1.000 orang yang terjebak air laut sedalam 3,6 meter (12 kaki) di sepanjang pantai barat Myanmar setelah topan dahsyat melukai ratusan orang dan memutuskan komunikasi. Enam kematian dilaporkan, tetapi dampak sebenarnya belum jelas. Lebih dari 4.000 dari 300.000 penduduk Sittwe dievakuasi ke kota lain.
Angin kencang melukai lebih dari 700 dari sekitar 20.000 orang yang berlindung di gedung-gedung yang lebih kokoh di dataran tinggi kotapraja Sittwe, seperti biara, pagoda, dan sekolah, menurut seorang pemimpin Asosiasi Filantropi Pemuda Rakhine di Sittwe. Tinggi air masih sekitar 1,5 meter (5 kaki) di daerah banjir Senin malam (15/5), tetapi penyelamatan dilakukan saat angin mereda dan matahari terbit. Dia meminta organisasi masyarakat sipil dan otoritas untuk mengirimkan bantuan dan membantu mengevakuasi warga.
Televisi negara Myanmar melaporkan bahwa pemerintah militer sedang mempersiapkan pengiriman makanan, obat-obatan, dan tenaga medis ke daerah yang dilanda badai. Badan-badan PBB dan pekerja bantuan di Bangladesh telah menyiapkan berton-ton makanan kering dan puluhan ambulans dengan tim medis keliling di kamp-kamp pengungsi Rohingya yang menampung lebih dari 1 juta orang.
Pada Mei 2008, Topan Nargis melanda Myanmar dengan gelombang badai yang meluluhlantakkan daerah berpenduduk di sekitar Delta Sungai Irrawaddy. Setidaknya 138.000 orang meninggal dan puluhan ribu rumah dan bangunan lainnya hanyut. Roxy Mathew Koll, seorang ilmuwan iklim di Institut Meteorologi Tropis India di kota Pune, mengatakan siklon di Teluk Benggala menjadi lebih intens dengan lebih cepat, sebagian karena perubahan iklim. Ilmuwan iklim mengatakan siklon sekarang dapat mempertahankan energinya selama berhari-hari.
Topan Amphan di India timur pada 2020 terus melintasi daratan sebagai topan yang kuat dan menyebabkan kerusakan yang luas. “Selama lautan hangat dan angin mendukung, topan akan mempertahankan intensitasnya untuk waktu yang lebih lama,” kata Koll.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








