Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa sekitar 10 pasien Palestina meninggal setiap hari di Gaza akibat pembatasan ketat Israel. Pembatasan tersebut telah mencegah pasien Gaza untuk mengakses perawatan medis darurat di luar negeri.
Zaher al-Wahidi, direktur departemen informasi kementerian, mengatakan pada Senin (23/03) bahwa “setiap hari, antara enam hingga sepuluh pasien yang menunggu untuk melakukan perjalanan ke luar negeri untuk berobat, meninggal dunia”.
Dia mengatakan ada setidaknya 195 kasus yang masuk dalam klasifikasi mengancam jiwa. Ia memperingatkan bahwa jika tidak terjadi evakuasi dalam beberapa jam ke depan, nyawa mereka bisa terancam.
Selain itu, terdapat 1.971 kasus darurat lainnya yang perlu evakuasi dalam beberapa pekan ke depan. Jika tidak, kondisi mereka bisa mencapai tingkat kritis di tengah memburuknya situasi. Di antara kasus-kasus ini terdapat 4.000 anak-anak dan 4.000 pasien kanker. Evakuasi medis dari Gaza telah lama menjadi cobaan berat bagi ribuan warga Palestina akibat pengepungan Israel selama bertahun-tahun di wilayah tersebut.
Baca juga : “18.500 Pasien Gaza Menunggu Evakuasi Medis Darurat“
Sejak awal genosida Israel di Jalur Gaza, pembatasan ini semakin meningkat, terutama sejak pasukan Israel menduduki perlintasan Rafah dan sekitarnya. Terletak di perbatasan selatan Gaza dengan Mesir, Rafah adalah satu-satunya penyeberangan untuk pejalan kaki dan barang yang tidak melewati Israel.
Rafah adalah gerbang penting bagi pergerakan warga sipil dan bantuan, namun Israel menutupnya sejak menguasai perlintasan tersebut pada Mei 2024. Pembukaan kembali perlintasan Rafah, yang termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh AS pada 10 Oktober, juga telah lama menjadi tuntutan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi kemanusiaan.
Pada awal Februari, penyeberangan Rafah kembali beroperasi di kedua sisi untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun. Ini terjadi setelah pasukan Israel menghancurkannya dan tetap menutupnya.
Berdasarkan kesepakatan baru tersebut, Israel menetapkan bahwa 50 warga Palestina akan mendapat izin masuk ke Gaza dari Mesir setiap hari. Di sisi lain, sekitar 150 warga Palestina akan mendapat izin meninggalkan wilayah tersebut setiap hari.
Namun, banyak pasien dan wali mereka tetap dilarang bepergian keluar dari jalur yang diblokade. Hanya 490 pasien yang dievakuasi selama bulan Februari, yang menurut Wahidi merupakan jumlah orang yang “sangat sedikit”. Wahidi mencatat bahwa lebih dari 1.400 pasien dari 20.000 pasien telah meninggal sejak 7 Mei 2024 sebagai akibat dari pengepungan Israel.
Sumber: MEE








