Layanan Darurat Palestina menyatakan pada Senin (20/1) bahwa pencarian ribuan warga Palestina yang diyakini terkubur di bawah reruntuhan, sedang berlangsung, sementara penduduk Gaza mengungkapkan keterkejutan atas kehancuran yang mereka saksikan pada hari kedua gencatan senjata, demikian dilaporkan oleh Reuters.
Gencatan senjata ini menjeda agresi genosida Israel yang berlangsung selama 15 bulan. Gencatan senjata mulai berlaku pada hari Ahad (19/01), bersamaan dengan pembebasan tiga sandera pertama oleh Hamas dan 90 tawanan Palestina dari penjara Israel.
“Kami sedang mencari 10.000 martir yang jenazahnya masih terkubur di bawah reruntuhan,” ujar Mahmoud Basal, juru bicara Layanan Darurat Sipil Palestina. Ia juga menambahkan bahwa setidaknya 2.840 jenazah telah hangus, menguap, dan tidak meninggalkan jejak.
Mohamed Gomaa, seorang warga Gaza yang kehilangan saudara laki-laki dan keponakannya dalam agresi, menggambarkan tragedi ini sebagai “perang pemusnahan.”
“Ini bukan seperti gempa bumi atau banjir. Tidak, ini adalah kehancuran total. Jumlah orang yang merasa kehilangan sangat besar karena rumah mereka hancur. Ini adalah perang pemusnahan,” katanya.
Upaya membangun kembali Gaza setelah agresi diperkirakan akan membutuhkan miliaran dolar. Sebuah laporan kerusakan dari PBB pada bulan ini menunjukkan bahwa pembersihan lebih dari 50 juta ton puing akibat pengeboman Israel dapat memakan waktu hingga 21 tahun dengan biaya mencapai $1,2 miliar.
Sementara itu, laporan PBB tahun lalu menyebutkan bahwa untuk membangun kembali rumah-rumah yang hancur di Gaza diperkirakan memakan waktu hingga tahun 2040, dan mungkin berlangsung lebih lama.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








