Aku rindu sekali dengan roti ibuku
dan kopi ibuku
serta sentuhan ibuku
Kenangan masa kecil terus tumbuh
dari hari ke hari
Aku mencintai hidupku karena
jika aku telah mati,
aku akan malu dengan air mata ibuku!
“Ibu”, demikian Mahmoud Darwish menyebut tanah airnya, Palestina, di dalam puisinya, seakan menggambarkan betapa mulianya perempuan bagi dirinya. Ada kekuatan di balik kelembutannya, ada ketegaran di balik kehalusannya, ada perjuangan dalam setiap langkahnya. Begitu istimewanya perempuan, bahkan di dalam Al-Qur’an terdapat satu surat khusus untuk perempuan yaitu surat An-Nisa. Begitu berartinya perempuan, sehingga setiap 8 Maret, Hari Perempuan Internasional diperingati sebagai pengingat bahwa perempuan, apa pun statusnya dan di mana pun ia berada, juga merupakan bagian dari masyarakat yang harus diberikan haknya dan dapat berperan aktif sesuai bidang mereka kuasai.
Seluruh perempuan di dunia ini berharga, tak terkecuali para perempuan Palestina. Lahir dan dibesarkan di negara yang sudah sejak lama ditindas oleh Zionis membuat mereka tidak dapat disamakan dengan perempuan yang hidup di negara dengan situasi stabil. Mereka istimewa sebab daya tahan, keberanian, dan perjuangan mereka kadang melebihi batas yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan pada umumnya. Berbagai peran mereka jalankan, tetapi semua itu mereka dedikasikan untuk perjuangan, demi menyaksikan tanah air mereka suatu saat nanti diliputi kedamaian, bukan kecemasan.
Akan tetapi, setiap pilihan memiliki risiko, setiap keputusan memiliki harga yang harus dibayar. Pun demikian bagi para perempuan Palestina. Tidak jauh berbeda dari para pejuang laki-laki, mereka harus menanggung beban yang kurang lebih sama, bahkan terkadang lebih berat. Namun, itulah yang membuat perempuan Palestina istimewa. Tidak ada kata menyerah dalam kamus mereka, hingga tanah air mereka merdeka sepenuhnya.
Terkadang perjuangan perempuan Palestina membuat mereka harus kehilangan tempat tinggal mereka. Muna El-Kurd, seorang perempuan aktivis yang bersama saudara kembarnya Mohammed El-Kurd dijuluki “Generasi Z Palestina yang menganulir narasi Israel”, telah berjuang mempertahankan tanah airnya sejak usia yang masih sangat belia, yaitu 11 tahun. Ia adalah perempuan aktivis asal Sheikh Jarrah yang sejak kecil telah menyaksikan dan merasakan ketika pasukan Israel menggeledah rumah keluarganya tanpa alasan dan mengusir mereka ke jalanan.
Bertahun-tahun berlalu, Muna tidak berhenti berjuang, bahkan semakin masif menyuarakan perlawanan, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Baginya, tidak ada perdamaian dengan pemukim Israel hingga mereka pergi meninggalkan rumah para penduduk Palestina dan tanah suci Al-Quds.[1]

Muna El-Kurd
Sumber : https://adararelief.com/perjuangan-el-kurd-mempertahankan-syeikh-jarrah-3/
Terkadang perjuangan perempuan Palestina membuat mereka harus dipisahkan dari keluarga mereka dalam waktu yang tidak ditentukan. Nisreen Abu Kamil, seorang ibu dari tujuh anak, terpaksa berpisah dengan anak-anaknya akibat dijebloskan ke penjara oleh pasukan Israel tanpa alasan yang jelas. Ia akhirnya dapat bertemu kembali dengan keluarganya tahun lalu, tepatnya pada 20 Oktober 2021, setelah bertahun-tahun lamanya berpisah dari keluarganya yang tinggal di Jalur Gaza.
Terkadang perjuangan perempuan Palestina membuat mereka harus dijebloskan ke dalam penjara dengan alasan yang sangat subjektif. Bushra Al-Taweel, seorang perempuan jurnalis Palestina, ditangkap dan menjadi tawanan Israel hanya karena profesinya sebagai jurnalis. Al-Taweel dibebaskan tahun lalu tepatnya pada 5 Oktober 2021 setelah menjadi tawanan selama 11 bulan.

Bushra Al-Taweel
Sumber : https://adararelief.com/jurnalis-perempuan-palestina-dibebaskan-zionis/
Terkadang perjuangan perempuan Palestina membuat mereka harus dijauhkan dari Masjid Al-Aqsa tempat mereka mengabdi. Murabithah Aida al-Sadawi, ditangkap oleh pasukan Israel tahun lalu dan dijadikan tawanan rumah dengan jaminan 3000 shekel. Al-Sadawi mengatakan bahwa pasukan Israel menangkap dan menyerangnya hanya karena melihat ia saat itu mengenakan pakaian untuk salat.
Terkadang perjuangan perempuan Palestina membuat mereka harus mengorbankan seluruh jiwa dan raga mereka. Razan Najjar, seorang perawat muda dari Gaza harus kehilangan nyawanya ketika bertugas akibat tembakan peluru Israel. Ia gugur ketika masih mengenakan seragam putihnya yang berubah warna menjadi merah. Kematian terhormat, gugur sebagai syahidah, adalah bayaran tertinggi bagi perjuangan perempuan Palestina untuk membebaskan tanah air mereka.

Razan najjar
Sumber : https://adararelief.com/gugurnya-bunga-palestina/
Masih banyak tokoh perempuan Palestina yang istimewa, tetapi tulisan ini tidak akan cukup untuk menuliskan seluruh kisah mereka. Perempuan Palestina, dengan bidangnya masing-masing, merupakan benteng pertahanan bagi tanah airnya. Apa pun profesi mereka, apa pun status mereka, satu yang membuat mereka sama: mereka adalah pejuang.
Tidak pernah ada perjuangan yang sia-sia. Hari ini, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, dalam waktu satu tahun, sebanyak 60 perempuan Palestina di Gaza telah gugur dalam upaya membebaskan tanah airnya. Selain itu, 32 perempuan tawanan Palestina masih mendekam di dalam penjara dan membutuhkan bantuan kita agar dapat bebas dan berkumpul dengan keluarganya. Tidak terhitung pula berapa banyak perempuan yang hingga detik ini kehilangan rumah, keluarga, maupun mata pencaharian mereka akibat penjajahan Zionis yang tidak kunjung berhenti. Akan tetapi, tidak ada kata menyerah dalam kamus perempuan-perempuan tangguh ini. Perempuan adalah harapan bangsa Palestina, dari rahim mereka lahir penerus perjuangan untuk membebaskan Baitul Maqdis. Mereka hidup sebagai mujahidah, atau gugur sebagai syahidah.
Pada Hari Perempuan Internasional ini, Adara Relief International selaku organisasi kemanusiaan yang bergerak untuk anak dan perempuan Palestina, mengirimkan ucapan dan doa yang tulus untuk para perempuan pejuang Palestina. “Kami bersama kalian. Kita akan bersama-sama membebaskan Baitul Maqdis dari tangan penjajah dengan apa pun yang kita mampu.”
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Staf Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber :
https://adararelief.com/kembar-pejuang-pembebas-palestina-dari-al-quds/
https://adararelief.com/gugurnya-bunga-palestina/
https://adararelief.com/seorang-murabithah-dijadikan-tawanan-rumah-selama-seminggu/
https://adararelief.com/jurnalis-perempuan-palestina-dibebaskan-zionis/
https://adararelief.com/ibu-tujuh-anak-palestina/
https://english.wafa.ps/Pages/Details/128312
https://www.palinfo.com/news/2022/3/7/32-اسيرة–فلسطينية–في–سجون–الاحتلال–بينهن–طفلة
https://www.palinfo.com/news/2022/3/7/الاحتلال–قتل-60-امراة–في–غزة–خلال–عام
https://www.palinfo.com/news/2022/3/3/الاسيرات–نتعرض–لاساليب–وحشية–من–التنكيل–والعقاب–الجماعي
[1] Selengkapnya di https://adararelief.com/kembar-pejuang-pembebas-palestina-dari-al-quds/
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.








