Permainan latto-latto kini banyak digandrungi dan dimainkan berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa di Indonesia. Permainan tersebut cukup sederhana, yakni dengan menggoyangkan dua bola yang diikat dengan tali supaya saling berbenturan. Meskipun terlihat mengasyikan, tetapi permainan tersebut juga cukup berbahaya.
Baru-baru ini, viral latto-latto kena mata seorang bocah berinisial AN di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Usai bermain dari rumah temannya, AN pulang dengan luka di bagian mata setelah terkena serpihan bola latto-latto. Hal tersebut mengakibatkannya harus menjalani operasi mata lantaran terluka di bola matanya. “Jadi ada luka di bola matanya sehingga harus dioperasi dan dijahit tiga jahitan,” ucap Kadis Kesehatan Kubu Raya Marijan. Usai dioperasi saat ini kondisi AN dinyatakan berangsur membaik. Meski demikian, penglihatan mata sebelah kanannya masih terganggu akibat insiden tersebut.
Pemerhati anak Retno Listriyati meminta orang tua agar lebih bijak saat memberikan mainan untuk anak di tengah demam latto-latto. Ia menyerukan agar latto-latto dimainkan di tempat yang tepat, oleh anak dengan usia yang tepat, dan dengan pendampingan orang tua demi keselamatan anak. “Saya mendorong batas usia anak bermain latto-latto, yaitu minimal delapan tahun,” kata Retno pada Selasa (10/1).

Menurut Retno, anak usia delapan tahun ke atas telah memiliki kemampuan kognitif untuk menangkap aturan saat bermain latto-latto, baik dilakukan secara sendiri maupun bersama temannya. Retno juga mendorong ayah dan ibu memastikan latto-latto yang dimainkan anaknya berbahan aman dan tak mudah pecah meski dibenturkan berkali-kali. Ini penting agar anak-anak terhindar dari serpihan latto-latto ketika pecah dan berpotensi mengenai wajah, terutama mata. Sebelum membiarkan anak-anak bermain, orang tua harus memastikan tali latto-latto kuat dan tidak mudah putus. Sebab, ketika talinya putus saat dimainkan akan berpotensi mengenai benda atau manusia di sekitar anak yang sedang bermain.
Meski kini tengah menjadi tren di Indonesia, ternyata permainan itu sudah dimainkan sejak periode 1960-an. Latto-latto atau yang dikenal dengan clackers mulai muncul pertama kali di Amerika Serikat dan Eropa. Namun, permainan tersebut berisiko mencederai mata dan membuat luka sehingga latto-latto sempat ditarik dari peredaran.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








