• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home A

Ramadan di Palestina: Penantian Penduduk Palestina untuk “Berbuka” dari Penjajahan Panjang

by Adara Relief International
Februari 15, 2025
in A, Artikel, Sorotan
Reading Time: 6 mins read
0 0
0
Ramadan di Palestina: Penantian Penduduk Palestina untuk “Berbuka” dari Penjajahan Panjang

Seorang anak Palestina memegang lentera Ramadan di tendanya yang gelap (Reuters)

178
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Ramadan, bulan suci yang selalu dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia, dalam hitungan hari akan segera tiba. Setiap tahunnya, suasana bulan Ramadan selalu menjadi momen yang dirindukan oleh banyak orang. Sebab, ada hal-hal tertentu yang hanya ada pada Ramadan tetapi tidak ada di bulan-bulan lainnya, seperti suara orang-orang yang berkeliling untuk membangunkan sahur, banyaknya pedagang yang menjual makanan untuk berbuka puasa, juga salat tarawih berjamaah di masjid.

Di Palestina, Ramadan juga selalu menjadi waktu yang dinanti oleh penduduknya. Meski situasi di Palestina belum kondusif karena diserang terus-menerus oleh Zionis Israel, namun penduduknya tetap antusias menyambut hadirnya bulan Ramadan dengan cara mereka sendiri. Walaupun rumah dan masjid mereka dihancurkan, penduduk Palestina tetap teguh melaksanakan ibadah Ramadan meski di tengah keterbatasan.

Baca juga https://adararelief.com/idulfitri-2024-di-gaza-memori-kaak-fesikh-dan-eidiya-yang-tertinggal-dalam-kenangan/

 

Ramadan Datang Silih Berganti, Tapi Palestina Selalu Diuji

Penduduk Palestina yang mengungsi menghias tenda mereka untuk menyambut Ramadan di Rafah tahun lalu (Reuters)

Di Palestina, bulan Ramadan tidak hanya diingat sebagai bulan untuk berpuasa sebulan penuh, namun juga menjadi sebuah penanda akan kuatnya keimanan dan keteguhan penduduk Palestina dalam mempertahankan tanah airnya. Suara azan yang menggema dari puing-puing masjid, juga lantunan ayat-ayat suci yang terdengar dari reruntuhan rumah-rumah penduduk telah menjadi bukti keikhlasan penduduk Palestina dalam beribadah.

Di Palestina, tidak ada tempat untuk menjalani ibadah di bulan Ramadan dengan tenang. Di Jalur Gaza, yang baru saja terbebas sejenak dari genosida mematikan selama 15 bulan, situasinya sangat memilukan. Banyak bayi dan anak-anak kekurangan gizi akibat blokade, penyakit menular mewabah dan diperparah dengan hancurnya fasilitas medis, serta tidak ada masjid yang sama sekali tidak mengalami kerusakan di Gaza. Dapat dikatakan bahwa di Gaza, pada Ramadan tahun ini, tidak ada penduduk yang tidak kehilangan keluarga atau orang-orang tercinta, tidak ada yang terbebas dari duka dan trauma akibat genosida.

Di Tepi Barat, Ramadan juga hadir di tengah kondisi yang tidak kalah mengerikan. Tepi Barat saat ini tengah diserang tanpa henti oleh Israel, yang tanpa pandang bulu menargetkan penduduk sipil, perempuan, bahkan anak-anak. Bagi penduduk Tepi Barat, tiada hari tanpa penangkapan dan penyerbuan, baik oleh pemukim maupun oleh pasukan Israel. Tidak ada tempat untuk pergi, sebab setiap lokasi telah dipagari oleh pos-pos pemeriksaan Israel yang kejam.

Bagi penduduk Palestina yang menetap di diaspora, bukan berarti kondisi mereka lebih baik. Setiap harinya mereka dihantui perasaan bersalah yang tak kunjung padam. Ketika sahur dan berbuka, mereka terbayang saudara-saudara mereka yang bisa jadi belum berbuka puasa selama berhari-hari di Palestina. Ketika salat dan berdoa dengan tenang di masjid, mereka membayangkan saudara-saudara mereka yang salat di puing-puing masjid yang dihancurkan atau bersujud di bawah todongan senjata di Al-Aqsa. Bahkan ketika hendak tidur, rasa bersalah itu tak juga hilang ketika terbayang saudara-saudara mereka yang tidak bisa tidur dengan tenang di tengah desingan suara ledakan bom dan artileri.

Ramadan demi Ramadan hadir tiap tahunnya, dan orang-orang Palestina selalu menjalaninya dalam kondisi diuji. Namun, semangat Palestina akan bertahan lebih lama dari tirani penjajahan. Israel dan sekutu-sekutunya dapat menghancurkan rumah atau masjid di Palestina, tetapi tidak akan pernah bisa menghancurkan iman di hati penduduk Palestina.

 

Jika Ramadan Hadir di Palestina yang Telah Merdeka

Penduduk Palestina makan sahur bersama keluarga di Khan Younis, Gaza selatan, sebelum genosida (Al Jazeera)

Meski kondisi di Palestina saat ini sedang sangat memanas, namun kenangan akan keindahan-keindahan bulan Ramadan di Palestina pada tahun-tahun sebelumnya sedikit bisa menyejukkan hati. Di tengah bisingnya ledakan dan desingan peluru, penduduk Palestina hanya bisa memejamkan mata untuk membayangkan bulan Ramadan bertahun-tahun lalu dan suasananya yang dirindukan.

Sama seperti di Indonesia, suasana Ramadan di Palestina sudah terasa bahkan sebelum bulan suci tersebut benar-benar tiba. Beberapa pekan sebelumnya, masyarakat akan pergi berbelanja berbagai keperluan Ramadan. Tempat favorit untuk berbelanja adalah Kota Tua di Al-Quds (Yerusalem) dan pasar tradisionalnya, Al-Zawiya. Di sana, semua makanan tradisional khas Ramadan dapat ditemukan: acar asam, kurma terbaik, buah zaitun yang lezat, rempah-rempah yang memenuhi udara dengan aromanya, pasta aprikot kering untuk membuat minuman qamar al-din, berbagai jenis jus, dan banyak lainnya.

Baca juga: https://adararelief.com/qamar-al-din-dan-licorice-minuman-penyegar-dahaga-saat-puasa-di-palestina/ 

Pakaian baru juga merupakan barang yang wajib dibeli menjelang Ramadan tiba atau saat bulan Ramadan hampir berakhir. Pakaian untuk salat akan ada banyak pilihan yang populer, begitu pula gaun untuk anak perempuan dan gamis untuk anak laki-laki. Semuanya ingin berusaha berpenampilan sebaik mungkin ketika sedang beribadah di bulan suci yang hanya hadir setahun sekali ini.

Anak-anak akan menarik tangan orang tua mereka ke toko-toko dan meminta untuk membeli salah satu lentera berwarna-warni atau “al-fanous” yang dipajang dengan tulisan “hallou ya hallou, Ramadan Kareem ya hallou” (“sayang, sayang, Ramadan Kareem, sayang”). Jalanan akan ramai dengan orang-orang, dekorasi dengan warna-warna cerah akan dipasang, lagu-lagu Ramadan yang ceria akan diputar. Suasana penantian akan sangat terasa meriah demi menyambut Ramadan.

Toko-toko di Palestina memajang dan menjual lentera menjelang bulan Ramadan (Al Jazeera)
Seorang mesaharati membangunkan penduduk Palestina untuk sahur di kota Akka (Times of Israel)

Pada malam pertama Ramadan, masjid-masjid akan dipenuhi dengan suara salat tarawih. Anak-anak akan keluar hingga larut malam, bermain di jalan, memegang lentera, melantunkan salawat, bernyanyi, dan menyalakan kembang api untuk menandai dimulainya bulan suci. Ketika sudah lelah, semuanya akan beristirahat sejenak, lalu dibangunkan untuk sahur oleh suara gendang dan panggilan yang meriah dari para mesaharati, orang-orang yang membangunkan sahur.

Keluarga-keluarga kemudian akan berkumpul, anak-anak dibangunkan, lalu makan sahur dan salat Subuh bersama. Setelahnya, semuanya melakukan aktivitas masing-masing. Ada yang tidur siang, pergi ke sekolah, juga bekerja. Menjelang sore, semua orang akan kembali ke rumah dan tibalah waktunya untuk membaca Al-Qur’an bersama. Anak-anak akan membaca dan menghafal ayat-ayat suci di rumah atau di masjid. Orang tua dan kakek-nenek mereka kemudian akan menceritakan kisah-kisah para nabi kepada anak-anak dan cucu-cucu mereka.

Baca juga https://adararelief.com/ramadan-di-palestina-mesaharati-para-penabuh-genderang-yang-membangunkan-sahur/

Qatayef, hidangan penutup khas Ramadan di Palestina (Paltoday)

Menjelang berbuka puasa, sesaat sebelum matahari terbenam, seluruh lingkungan akan dipenuhi dengan aroma lezat berbagai makanan. Dapur di setiap rumah akan penuh dengan orang-orang yang bekerja keras menyiapkan hidangan spesial: ada yang memasak maqlouba (hidangan daging dengan nasi dan sayuran), yang lain memasak musakhan (hidangan ayam), dan yang lainnya lagi memasak mulukhiya (sejenis sup). Ketika adzan maghrib terdengar dari masjid, semua orang berbagi makanan lezat, berbincang riang dan tertawa.

Setelah berbuka puasa, semua orang akan pergi menuju masjid untuk salat tarawih bersama. Suara Al-Qur’an dan doa memenuhi setiap sudut masjid. Kemudian, saat yang paling membahagiakan bagi anak-anak adalah saat para ibu menyiapkan qatayef, hidangan penutup populer yang hanya dibuat selama bulan suci. Setelah qatayef selesai dibuat, anggota keluarga akan saling mengunjungi atau berkumpul di depan TV untuk menonton serial Ramadan favorit mereka, hingga waktunya tiba untuk istirahat dan mempersiapkan diri untuk hari selanjutnya.

Baca juga https://adararelief.com/ramadan-di-palestina-dari-meriam-iftar-hingga-panekuk-mini/

 

Penantian untuk Berbuka dari Penjajahan, dengan Manisnya Kemerdekaan

Penduduk Palestina melaksanakan salat tarawih di depan Kubah Batu di Masjid Al-Aqsa pada Ramadan tahun lalu (Reuters)

Ramadan tahun ini, tidak ada penduduk Palestina yang tidak berduka. Tak ada orang yang tidak kehilangan, baik itu kehilangan anggota tubuh, keluarga dan kerabat, rumah, harta benda, bahkan ada yang kehilangan semuanya. Seluruh penduduk Palestina tak ada yang luput dari ujian kehilangan, memberikan pelajaran berharga tentang keikhlasan yang dibarengi dengan ketangguhan.

Penduduk Palestina sejatinya adalah orang-orang yang mengajarkan makna “berpuasa” yang sesungguhnya. Mereka sahur, mengisi energi dengan ilmu-ilmu agama dan tekad yang kuat. Mereka berpuasa, melepaskan segala yang mereka miliki untuk melawan penjajahan. Kemudian saat ini mereka tengah menanti waktu berbuka, dengan manisnya kemerdekaan setelah perjuangan panjang, menunggu datangnya hari ketika mereka bisa dengan lega meneguk kemenangan tanpa sedikit pun sisa pendudukan. Dan semoga, kita bisa menjadi orang-orang yang membantu menyediakan “hidangan berbuka” tersebut kepada penduduk Palestina, sejak hari ini hingga momen tersebut benar-benar tiba.

 

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.

Sumber: 

https://adararelief.com/download/ramadan-di-palestina-dan-jalan-panjang-upaya-yahudisasi-al-aqsa/ 

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

https://www.aljazeera.com/opinions/2024/3/21/a-ramadan-no-palestinian-will-ever-forget

https://www.aljazeera.com/opinions/2024/3/11/remembering-the-beauty-of-ramadan-in-gaza

https://www.aljazeera.com/gallery/2024/3/12/gazans-break-fast-without-joy-of-ramadan-as-israel-attacks-grind-on 

https://www.reuters.com/world/middle-east/palestinians-prepare-ramadan-shadow-gaza-war-2024-03-10/

https://paltoday.ps/ar/post/440619

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

ShareTweetSendShare
Previous Post

Kekuatan Boikot Terungkap, Keuntungan Restoran-restoran Amerika Menurun 39%

Next Post

Kementerian Kesehatan Gaza Peringatkan Krisis Oksigen di Rumah Sakit Pasca-Agresi Israel

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
22

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
24
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
87
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Kementerian Kesehatan Gaza Peringatkan Krisis Oksigen di Rumah Sakit Pasca-Agresi Israel

Kementerian Kesehatan Gaza Peringatkan Krisis Oksigen di Rumah Sakit Pasca-Agresi Israel

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630