Sejumlah perusahaan konstruksi Mesir sedang mensurvei lokasi proyek perumahan “Green Rafah” di Rafah, Gaza selatan. Menurut sumber yang diwawancarai Middle East Eye (MEE), perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan pengusaha Mesir, Ibrahim al-Organi melakukan survei di bawah pengawasan militer Israel.
Seorang sumber militer senior di Sinai utara, Mesir, mengatakan bahwa teknisi Mesir memeriksa beberapa lokasi di Rafah timur. Sementara itu, tentara dan angkatan udara Israel mengawal mereka selama proses survei hingga meninggalkan Gaza.
Proyek pemukiman “Green Rafah” telah Mesir rancang untuk menampung sekitar 20.000 warga Palestina yang kehilangan tempat tinggal. Menurut sumber militer Mesir, pengawasan kawasan tersebut nantinya akan mereka serahkan kepada pasukan multinasional berdasarkan kerangka kesepakatan perdamaian Sharm el-Sheikh. Sementara itu, pengerjaan fisik serta pembersihan puing-puing kemungkinan besar baru akan mereka mulai pasca-pemilu di Israel.
Sumber internal dari Organi Group membenarkan bahwa manajemen perusahaan telah mengirimkan tim teknis untuk memetakan lahan perumahan tersebut. Hasil laporan survei lapangan telah mereka serahkan sebagai landasan penyusunan rancangan arsitektur dan teknis pembangunan, meski pengerjaan konstruksi utama masih menunggu izin resmi untuk pembersihan reruntuhan serta perataan tanah.
Baca juga: Pengungsian Berulang Membuat Shelter Gaza Memburuk Jelang Musim Dingin
Sebelum agresi genosida Israel meluas ke selatan Gaza, Rafah menampung sekitar 250.000 warga Palestina. Namun, serangan Israel telah menghancurkan sedikitnya 80 persen bangunan di wilayah tersebut. Akibatnya, hampir seluruh penduduk setempat kehilangan tempat tinggal.
Ibrahim al-Organi memiliki hubungan lama dengan aparat keamanan Mesir. Dua perusahaan yang terkait dengannya telah mengendalikan sebagian besar pergerakan orang dan barang melalui Perlintasan Rafah. Kedua sumber memperkirakan perusahaan konstruksi terkait Organi akan memperoleh pekerjaan rekonstruksi yang dialokasikan kepada Mesir.
Pada Agustus 2026, media Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel menyetujui pembangunan infrastruktur di Rafah timur. Kantor Netanyahu kemudian menyatakan bahwa Green Rafah merupakan proyek percontohan yang mendapat dukungan dari Uni Emirat Arab dan berada di bawah pengawasan militer Israel.
Proyek ini juga muncul di tengah rencana “New Gaza” yang mendapat dukungan dari Amerika Serikat. Rencana tersebut mencakup kawasan perumahan, zona industri, dan infrastruktur transportasi. Namun, dokumen rencana itu belum menjelaskan mekanisme pembagian rumah atau kepemilikan tanah bagi warga Palestina.
Menurut sumber militer Mesir, Amerika Serikat mendukung survei tersebut. Meski demikian, laporan publik mengenai pertemuan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Direktur CIA John Ratcliffe pada September 2026 tidak menyebut proyek Green Rafah secara khusus.
Sementara itu, penilaian bersama PBB, Bank Dunia, dan Uni Eropa memperkirakan Gaza membutuhkan dana 71,4 miliar dolar AS selama satu dekade untuk pemulihan dan rekonstruksi. Hingga laporan tersebut terbit, Dewan Perdamaian baru mencatat komitmen dana sebesar 280 juta dolar AS.
Sumber: MEE








