• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, Januari 20, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Pelanggaran Israel terhadap Al-Aqsa dari Masa ke Masa (Bagian I): Kehancuran Harat al-Maghariba dan Terbukanya Gerbang Yahudisasi Al-Aqsa

by Adara Relief International
Maret 27, 2024
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 7 mins read
0 0
0
Pelanggaran Israel terhadap Al-Aqsa dari Masa ke Masa (Bagian I): Kehancuran Harat al-Maghariba dan Terbukanya Gerbang Yahudisasi Al-Aqsa

Buldoser Israel sedang menghancurkan Harat al Maghariba di Kota Tua Al-Quds, 10–12 Juni 1967. (David Rubinger/Kontributor (Corbis) melalui Getty Images)

140
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Setelah meminta untuk diberlakukan pembatasan yang sangat ketat terhadap jamaah Palestina yang hendak memasuki Al-Aqsa selama Ramadan, ekstremis Israel yang juga seorang menteri, Itamar Ben Gvir, kembali menyerukan ajakan provokatif (18/3). Ia mendesak pemerintah Israel agar mengizinkan pemukim Yahudi untuk menyerbu Al-Aqsa selama 10 hari terakhir pada Ramadan.

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Selama ini, pemerintah Israel telah melanggar status quo masjid suci umat Islam tersebut dengan membuka akses bagi pemukim kolonial Yahudi untuk menyerbu Al-Aqsa di bawah pengawalan militer, termasuk pada 20 hari pertama Ramadan. Namun, biasanya Al-Aqsa akan dilarang atau ditutup sepenuhnya bagi pemukim kolonial selama 10 hari terakhir Ramadan, karena dianggap sebagai periode sangat sensitif dalam hal keamanan.

Pada tahun lalu, Ben-Gvir menanggapi larangan tersebut dengan mengatakan, “Keputusan Netanyahu untuk menutup Temple Mount bagi orang-orang Yahudi karena pertimbangan keamanan adalah kesalahan serius yang tidak akan membawa perdamaian, namun hanya akan memperburuk situasi. Ketika ancaman terorisme menyerang kita, maka kita harus membalasnya dengan kekuatan yang luar biasa, bukan menyerah terhadap keinginannya.”

Pelanggaran-pelanggaran terhadap Al-Aqsa sebagaimana yang selama ini dilakukan oleh pemukim kolonial dan Israel, nyatanya merupakan kejahatan berulang yang terus terjadi. Sejak Israel merebut kendali Al-Quds (Yerusalem) dan Tepi Barat dari Yordania pada 1967, Israel berupaya mengukuhkan eksistensinya dengan mengadakan simbol-simbol Yahudi, sekaligus menghancurkan identitas Islam dan Arab yang membentuk kota tersebut.

Harat al-Maghariba, pijakan pertama untuk menguasai Al-Aqsa

Foto pada tahun 1917 ini memperlihatkan seorang pria berdiri di atap yang menghadap ke Harat al-Maghariba, dengan Tembok Barat (al-Buraq) terlihat berada di kanan tengah. (Wikimedia)

Salah satu hal pertama yang dilakukan Israel dalam mengaburkan dan menghilangkan identitas Islam-Arab di Al-Quds (Yerusalem) adalah dengan meratakan Harat al-Maghariba (Kompleks Maroko), yang berusia lebih dari 770 tahun ketika Israel mulai menghancurkannya. Kompleks ini merupakan hunian bagi sekitar 650 orang yang tersebar dalam 100-an keluarga. Sejak awal, Zionis ingin mengambil alih Harat al-Maghariba yang berada tepat di depan Tembok Buraq atau Tembok Barat, untuk dijadikan alun-alun terbuka bagi Yahudi, yang kemudian menjadi ruang simbolis pertama bagi Israel di Al-Quds (Yerusalem).

Keberadaan Harat al Maghariba ini bermula pada 1187, ketika Salahuddin al-Ayyubi membebaskan Al-Quds dan menggulingkan Tentara Salib. Dalam rangka memberi penghargaan kepada tentara Maghribi (Maroko) dan Spanyol selatan yang bertempur dalam pasukannya, Salahuddin menawari mereka sebidang tanah di sekitar Tembok Buraq.

Beberapa tahun kemudian, pada 1193, Al-Afdal putra Salahuddin, yang ketika itu menjabat sebagai Gubernur Damaskus (mencakup Al-Quds), menghibahkan wilayah tersebut sebagai wakaf kepada komunitas Maroko dengan tujuan untuk menyediakan akomodasi bagi para pendatang di Maroko tanpa membeda-bedakan agama (termasuk Yahudi), jenis kelamin, dan asal-usulnya, termasuk para peziarah dari Libya,Tunisia, dan Aljazair. Lingkungan yang dinamis itu kemudian berkembang pesat memainkan peran integral dalam sejarah kota dan kehidupan ekonomi, sosial, spiritual, dan budaya selama berabad-abad, melewati berbagai pemerintahan, sejak Kesultanan Ayyubiyah, Kesultanan Mamluk, dan Imperium Utsmani.

 

 

 

1 of 2
- +

1. Jamaah Yahudi pada tahun 1900 beribadah di koridor sempit antara Harat al-Maghariba dan al-Buraq atau Tembok Barat. (Wikimedia)

2. Jamaah Yahudi berkerumun di koridor sempit antara Harat al-Maghariba dan al-Buraq (Tembok Barat), 1920, tiga tahun setelah kedatangan pasukan Inggris di Palestina. (Library of Congress)

Pada dekade pertama abad ke-20, ketika Zionis mencengkramkan kukunya secara sembunyi-sembunyi, ketegangan mulai meningkat, terutama mengenai hak-hak orang Yahudi dan Muslim atas tembok dan koridor sempit di antara Harat al-Maghariba dan al-Buraq (Tembok Barat). Bahkan sebelum itu, pada awal 1887, Baron de Rothschild mengusulkan pembelian seluruh kawasan tersebut untuk dihancurkan dan didirikan sebuah alun-alun di atasnya. Pada Mei 1918, hanya beberapa bulan setelah dikeluarkannya Deklarasi Balfour, pemimpin Zionis Chaim Weizmann menulis kepada Arthur Balfour untuk mengusulkan “penyerahan Tembok Ratapan (al-Buraq/ Tembok Barat)”. Pada 1919, Zionis menawarkan 80.000 pound untuk pembangunan tembok tersebut. Tawaran demi tawaran terus berdatangan, tetapi semuanya ditolak oleh Mufti Al-Quds saat itu, Kamal al-Husseini.

Meskipun hingga masa Utsmani orang-orang Yahudi diizinkan untuk berdoa di sana, para penjajah dan pendukung Zionis mulai mengklaim Tembok al-Buraq sebagai bagian dari “Kuil Yahudi” pada masa lalu, hingga memicu sejumlah konfrontasi dengan Muslim Palestina pada tahun 1920-an. Puncak konfrontasi terjadi pada Kamis, 15 Agustus 1929 (periode Mandat Inggris), ketika pemuda Yahudi dari kelompok Beitar berbaris menuju Tembok Buraq. Mereka mengibarkan bendera Zionis dan menyanyikan lagu Zionis “Hatikva” seraya berteriak “Tembok itu milik kita!” Apa yang terjadi di Tembok Buraq ketika itu dengan cepat menyebar di Harat al-Maghariba dan gelombang protes menjalar ke berbagai wilayah Palestina. Konfrontasi terjadi dan korban jatuh dari kedua belah pihak dalam pekan paling berdarah; 133 tewas di pihak Yahudi dan 116 penduduk Arab terbunuh. Polisi dan tentara Inggris yang turut membunuh sebagian besar korban di pihak Arab juga mempersenjatai 500 milisi Yahudi. Peristiwa ini disebut orang Palestina sebagai “Revolusi al-Buraq”.

Besarnya keinginan Zionis untuk menguasai al-Buraq atau Tembok Barat ini pada akhirnya tercapai setelah entitas Israel berdiri di atas tanah Palestina. Setelah Palestina melewati periode Nakba (the catastrophe) atau malapetaka pada 1948, episode kegelapan kembali menghampiri Palestina. Pada 5 Juni 1967, Israel yang memenangkan Perang Enam Hari melawan koalisi tentara Arab, menduduki sisa wilayah bersejarah Palestina, termasuk Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Al-Quds bagian timur yang Kota Tua-nya direbut oleh Israel pada 7 Juni 1967. Hal ini menyebabkan perpindahan paksa kedua, yang disebut sebagai Naksa (the setback), yang berarti “kemunduran”. Hanya tiga hari berselang, perintah untuk menguasai Tembok al-Buraq, termasuk mendirikan alun-alun dengan menghancurkan Harat al-Maghariba, dikeluarkan oleh Teddy Kollek, Wali Kota Zionis yang ditunjuk untuk memimpin Al-Quds (Yerusalem).

Rencana Penghancuran Kawasan Harat al-Maghariba. (Arsip Israel GL – 3847/4)

Dalam autobiografinya yang berjudul For Jerusalem: A Life, sebagaimana dikutip oleh Jerusalem Story, Kollek menuliskan:

“Sehari setelah Kota Tua jatuh, menjadi jelas bagi saya bahwa sesuatu harus dilakukan terhadap gubuk-gubuk kumuh yang berkerumun di dekat Tembok Barat – Kawasan al-Maghariba… dan satu-satunya jawaban adalah menyingkirkan gubuk-gubuk kumuh di Kawasan al-Maghariba itu. Saya menerima izin dari Herzog, Narkiss, dan Dayan. Perasaan saya yang paling kuat adalah: lakukan sekarang; mungkin akan mustahil jika dilakukan nanti. Dan ini harus dilakukan (sekarang).”

Harat al-Maghariba, situs bersejarah berusia hampir 800 tahun itu mulai dihancurkan pada 10 Juni 1967. Seluruh bangunan yang berdiri di tanah seluas 10.000 meter persegi itu diratakan untuk dijadikan alun-alun. Dalam sekejap, sekitar 650 warga dari 108 keluarga menjadi tunawisma. Ketika perampasan tanah dan penghancuran kawasan itu terjadi, sebagian penghuni Harat al-Maghariba merupakan keturunan Maroko dan sebagian memilih untuk kembali ke Maroko dengan bantuan Raja Maroko Hassan II, sementara sisanya pindah ke Kamp Pengungsi Shu’fat, al-Ram, Abu Dis, dan tempat lain di Al-Quds atau Tepi Barat yang diduduki.

Ruhi al-Khatib, yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Al-Quds (Yerusalem) bagian Timur, dengan tajam menyampaikan tragedi kemanusiaan tersebut dalam sebuah memorandum yang disampaikan pada 26 Agustus 1967 kepada Dr. Ernesto Thalmann, utusan PBB di Al-Quds:

“Sebanyak 135 rumah di Kawasan al-Maghriba yang bersebelahan dengan Tembok Buraq, dan berdekatan dengan dua masjid, yaitu Masjid Umar dan Masjid Al-Aqsa, Tempat Suci umat Islam, telah diledakkan dan dihancurkan dengan buldoser. Akibatnya, 650 penduduknya, yang merupakan orang-orang sederhana dan saleh, diusir dari rumah mereka. Waktu yang diberi untuk mengungsi tidak lebih dari tiga jam, sementara jam malam telah diberlakukan. Kita dapat dengan mudah membayangkan kekhawatiran keluarga-keluarga ini; yang harus mengurus harta benda mereka, anak-anak, serta orang lanjut usia dalam waktu bersamaan. Sejumlah bangunan dan dua masjid kecil di kompleks tersebut merupakan milik Wakaf Islam, dan yang lainnya adalah milik pribadi–orang Yahudi tidak mempunyai hak atas apa pun (di sana).”

Matahari terbenam di antara reruntuhan tua

 

1 of 2
- +

1. Gambaran di sekitar Harat al-Maghariba, Tembok al-Buraq, dan Al-Aqsa, sebagaimana dipotret oleh Robertson, Beato & Co., pada 1857. (National Science and Society Picture Library)

2. Alun-Alun Tembok Barat dan al-Buraq, 5 Februari 2020. (Sani Zughayer)

Pada 12 Juni 1967, seluruh bangunan di Harat al-Maghariba telah runtuh. Tidak ada lagi matahari sore yang dapat dinikmati dari atas balkon seraya memandang Al-Aqsa. Tanah hadiah dari Salahuddin al-Ayyubi yang menjadi saksi sejarah ratusan tahun itu tenggelam dalam kepedihan. Suara-suara pengrajin al-maghariba yang memproduksi kertas, ikat pinggang, permadani, dan kerajinan logam buatan tangan, telah jatuh bersama air mata, sementara aroma rempah yang biasa menguar di udara, kini telah menguap entah kemana. Jejak Maroko di lingkungan itu telah hilang sama sekali.

Kini, yang berdiri di atasnya adalah Alun-Alun Tembok Barat, tujuan ziarah bagi ratusan ribu jamaah Yahudi, yang secara efektif menjadikannya sebagai sinagoga luar ruangan. Secara bertahap, tembok tersebut menjadi tujuan keagamaan utama, tempat setiap tentara Israel bersumpah setia kepada “negara”, tempat partai politik meminta restu dari para rabi, dan tempat bagi pemenang pemilihan umum memanjatkan syukur mereka.

Tidak lama setelah penghancuran Harat al-Maghariba, pasukan Israel menyita kunci Gerbang al-Mughrabi (yang menghubungkan Kompleks Masjid Al-Aqsa ke alun-alun Tembok Barat), sehingga secara efektif mengambil kendali atas gerbang tersebut.

Adapun serangan paling serius terhadap masjid Al-Aqsa terjadi pada Agustus 1969, ketika seorang Yahudi-Australia Denis Michael Rohan membakar Masjid Al-Aqsa, sehingga merusak sebagian bangunan masjid suci. Api juga menghancurkan mimbar Nuruddin Zanki, yang terbuat dari kayu dan gading berusia ribuan tahun dengan harga tidak ternilai. Mimbar tersebut dikirim dari Aleppo oleh Shalahuddin al-Ayyubi sebagai perwujudan nazar gurunya, Nuruddin Zanki, yang menginginkan mimbar itu diletakkan di Al-Aqsa setelah pembebasannya dari Pasukan Salib.

Insiden tersebut menyingkap niat Israel dan menyoroti bahaya nyata yang mengancam Masjid Al-Aqsa. Menanggapi kebakaran tersebut, Wakaf Islam Al-Quds kemudian menutup sementara Haram al-Sharif untuk semua pengunjung: tindakan ini tidak hanya sebagai peringatan, namun juga merupakan penegasan bahwa Wakaf Islam merupakan lembaga yang memiliki hak untuk meregulasi Al-Aqsa.

Pada 14 Agustus 1970, kurang dari setahun setelah Al-Aqsa dibakar, mantan perwira Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Gershon Salomon memelopori serbuan ke Masjid al-Aqsa bersama sekelompok aktivis Temple Mount Faithful. Lembaga tersebut didirikannya dengan tujuan meletakkan batu pertama untuk membangun kembali apa yang mereka gambarkan sebagai Kuil Ketiga di atas tanah tempat berdirinya Al-Aqsa. Serbuan ini mengakibatkan terjadinya bentrokan dan polanya terus berlanjut hingga saat ini.

Dari Harat al-Maghariba yang dihancurkan dan diganti dengan Alun-Alun Tembok Barat, Israel membuka gerbang Yahudisasi, menciptakan rencana-rencana lainnya untuk menguasai Al-Aqsa secara keseluruhan. Penyerbuan demi penyerbuan yang dilakukan pemukim kolonial terus berlanjut hingga hari ini, sementara pembatasan demi pembatasan terhadap jamaah Palestina yang hendak memasuki Masjid Al-Aqsa, terus diberlakukan. Dari Harat al-Maghariba yang jejaknya telah hilang, Yahudisasi terhadap Masjid Suci al-Aqsa berlangsung perlahan tapi pasti entah sampai kapan. Namun, di antara perguliran matahari yang terbit dan tenggelam di atas tanah yang dulunya berdiri Harat al-Maghariba, gema kerinduan masih beresonansi memanggil kembali para pembebas. (LMS)

 

Referensi

https://www.aa.com.tr/en/politics/1967-2015-israel-s-ongoing-legacy-of-assaults-on-al-aqsa-/506728

https://www.aa.com.tr/en/middle-east/israels-aggressiveness-towards-al-aqsa-since-1967/867339

https://www.aljazeera.com/news/2023/5/29/not-just-ben-gvir-a-new-al-aqsa-provocation-is-building-up

https://digitalprojects.palestine-studies.org/jps/fulltext/198545

https://en.yabiladi.com/articles/details/59985/harat-al-maghariba-when-moroccans-lived.html

https://www.france24.com/en/middle-east/20231011-from-1947-to-2023-retracing-the-complex-and-tragic-israeli-palestinian-conflict

https://www.i24news.tv/en/news/israel/defense/1681226582-israel-announces-ban-on-jewish-visitors-to-temple-mount-until-end-of-ramadan

https://www.jerusalemstory.com/en/article/destruction-jerusalems-moroccan-quarter-centuries-old-maghrebi-community-western-wall#references-item-50

https://www.jerusalemstory.com/en/lexicon/haret-al-maghariba

https://www.jerusalemstory.com/en/lexicon/al-buraq-uprising

https://www.loc.gov/resource/matpc.00235/

https://www.middleeasteye.net/opinion/israel-palestine-jerusalem-aqsa-mosque-zionism-religious-war-fuel

https://www.#/20230411-israel-demonises-worshippers-to-justify-its-raids-on-al-aqsa-mosque/

https://www.#/20170801-israeli-attacks-on-al-aqsa-mosque/

https://www.nytimes.com/2020/05/15/world/middleeast/ramadan-coronavirus-al-aqsa.html

https://www.nytimes.com/2023/04/11/world/middleeast/jerusalem-aqsa-mosque-ramadan.html

https://www.palestine-studies.org/en/node/1650013

https://www.palestine-studies.org/sites/default/files/jq-articles/18_haj_Amin_2_0.pdf

https://www.thenationalnews.com/world/palestinians-remember-israeli-destruction-of-jerusalem-s-moroccan-quarter-1.44591

https://www.timesofisrael.com/ben-gvir-seeks-to-permit-jewish-visits-to-temple-mount-during-last-days-of-ramadan/

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

ShareTweetSendShare
Previous Post

Update Hari ke-172 Genosida Israel di Gaza

Next Post

Akhirnya!!! Dewan Keamanan PBB Mengesahkan Resolusi Gencatan Senjata 

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
23

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
25
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
114
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Akhirnya!!! Dewan Keamanan PBB Mengesahkan Resolusi Gencatan Senjata 

Akhirnya!!! Dewan Keamanan PBB Mengesahkan Resolusi Gencatan Senjata 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630