Di tengah memburuknya kondisi pelayanan, Pemerintah Kota Gaza memperingatkan krisis sampah yang semakin meningkat di kota tersebut karena kurangnya mesin untuk mengumpulkan dan mengangkut sampah. Akibatnya, terjadi penumpukan sampah di jalanan dan tempat pembuangan, serta meningkatnya risiko kesehatan dan lingkungan bagi warga.
Dalam siaran pers pada Jumat (27/02), pemerintah kota menjelaskan bahwa sektor pengelolaan sampah menghadapi berbagai tantangan yang menumpuk. Hal ini terutama kerusakan dan usia tua mesin yang tersedia serta ketidakmampuannya untuk beroperasi secara teratur, khususnya kendaraan pengosongan kontainer, yang menyebabkan kontainer cepat penuh. Pemerintah kota juga menunjukkan bahwa pengangkutan sampah ke lahan Abu Jarad di selatan kota membutuhkan mesin tambahan, yang semakin memperparah masalah tersebut.
Baca juga : “UNRWA Peringatkan Meningkatnya Wabah Penyakit Akibat Penumpukan Sampah di Gaza“
Dengan datangnya Ramadan, pemerintah kota mengonfirmasi peningkatan yang signifikan dalam jumlah sampah. Ini terjadi akibat peningkatan konsumsi rumah tangga, di samping meningkatnya sampah organik yang cepat membusuk. Hal tersebut telah melipatgandakan risiko kesehatan dan lingkungan di area perumahan.
Pemerintah kota menyerukan peluncuran proyek-proyek mendesak untuk mengumpulkan dan mengangkut sampah serta memperkuat operasi pengumpulan pada malam hari untuk mengurangi penumpukan. Ia memperingatkan bahwa berlanjutnya situasi saat ini berkontribusi pada penyebaran serangga dan tikus, peningkatan keluhan warga, beban operasional yang lebih tinggi pada pemerintah kota, dan penurunan tingkat kebersihan publik di kota.
Hal ini terjadi di tengah pelanggaran harian yang Israel lakukan terhadap perjanjian gencatan senjata sejak 10 Oktober 2025. Data menunjukkan 618 warga Palestina telah terbunuh sejak perjanjian tersebut berlaku, termasuk 198 anak-anak dan 85 perempuan, selain 1.663 lainnya yang terluka dengan berbagai tingkat cedera.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel, dengan dukungan Amerika dan Eropa, telah melancarkan genosida di Jalur Gaza. Mereka melakukan pembunuhan, perang kelaparan, penghancuran, pengusiran, dan penangkapan. Israel sama sekali tidak mengindahkan seruan internasional dan perintah Mahkamah Internasional untuk menghentikannya.
Genosida tersebut telah mengakibatkan lebih dari 243.000 warga Palestina meninggal atau terluka, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Di samping itu, lebih dari 11.000 orang hilang, ratusan ribu mengungsi, dan kelaparan merenggut banyak nyawa. Kehancuran yang meluas di Gaza telah memengaruhi sebagian besar kota dan wilayah di daerah kantong tersebut.
Sumber: Palinfo








