Ibu Palestina yang tidak diketahui identitasnya dibunuh dalam kondisi masih menggendong anak-anaknya. Ia termasuk di antara 43 warga Palestina yang dimakamkan di kuburan massal pada hari Sabtu (21/10) di Jalur Gaza. Menurut kantor media pemerintah setempat, pihak berwenang dan warga mengalami kesulitan mengidentifikasi banyak korban pengeboman Israel, sehingga terpaksa untuk menguburkan para korban di kuburan massal.
Pemakaman tersebut dilakukan di lingkungan al-Tuffah di Gaza. Banyak jenazah yang berbentuk “potongan tubuh dan anggota badan yang berserakan”, menurut Kementerian Kesehatan.
Pengeboman intensif Israel di Gaza selama 15 hari terakhir telah membunuh lebih dari 4.385 orang, 70 persen di antaranya adalah anak-anak, wanita, dan orang lanjut usia. Pengeboman yang dilakukan Israel telah menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur sipil, meratakan bangunan tempat tinggal dan menyebabkan banyak mayat terkoyak dan terpotong-potong, sehingga sulit untuk diidentifikasi. Pihak berwenang menyatakan bahwa sisa-sisa anggota tubuh telah bercampur dan beberapa di antaranya sangat parah sehingga tidak dapat dikenali lagi.
Janin yang belum lahir, yang masih berada di dalam perut ibu yang tercabik akibat pengeboman, termasuk di antara korban yang dikuburkan pada hari Sabtu (22/10). Ini adalah kedua kalinya warga Palestina di Gaza dipaksa melakukan pemakaman massal terhadap orang tak dikenal sejak 7 Oktober.
Sejak Israel memutus semua akses terhadap makanan, air, listrik, bahan bakar, dan bantuan terhitung sejak tanggal 9 Oktober, warga Palestina di Gaza tidak dapat menyimpan jenazah di lemari pendingin kamar mayat karena sudah tidak berfungsi lagi. Banyaknya korban jiwa, ditambah dengan minimnya peralatan, membuat jenazah harus segera dikuburkan, meski belum teridentifikasi oleh anggota keluarga. Di beberapa wilayah Gaza, truk es krim telah digunakan untuk menyimpan jenazah ketika freezer kamar mayat berhenti berfungsi. Di lingkungan lain, jenazah menumpuk di jalanan.
Puing-puing dari bangunan yang hancur juga menimbulkan tantangan, karena anggota keluarga tidak lagi dapat mengunjungi rumah sakit untuk mengidentifikasi korban tewas akibat jalan yang diblokir dan pemboman yang terus berlanjut.
Penghormatan untuk Para Syuhada
Salam Marouf, kepala kantor media pemerintah, mengatakan bahwa mereka telah berusaha sebisa mungkin mengelompokkan anggota keluarga selama pemakaman. “Kami mengambil langkah untuk menghormati para martir dengan menguburkan mereka,” kata Marouf dalam sebuah pernyataan.
“Pemakaman darurat” pertama dilakukan pada tanggal 15 Oktober, dengan Kementerian Kesehatan mengawasi jenazah yang dapat diidentifikasi, sedangkan mereka yang tidak dapat diidentifikasi diawasi oleh Kementerian Wakaf dan tim forensik.
Sebelum menguburkan jenazah, kementerian mengambil foto setiap orang dan mendokumentasikan ciri-ciri yang membedakan mereka, sehingga keluarga dapat memeriksa foto-foto tersebut dan menghubungi kementerian kesehatan jika mereka mengenali individu tersebut di kemudian hari. Setiap orang yang dikuburkan di kuburan massal juga diberi nomor dan didokumentasikan, sehingga anggota keluarga dapat datang dan memeriksa apakah orang yang mereka cintai termasuk di antara korban tewas. Kafan putih yang digunakan untuk membungkus jenazah juga terbatas karena banyaknya korban tewas dalam 15 hari terakhir. Israel juga telah memutus semua pasokan air ke Gaza, membuat jenazah tidak dapat dimandikan dan dipersiapkan untuk dimakamkan sesuai dengan hukum Islam.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها







