Idhuladha atau Hari Raya Kurban yang datang setiap tahun, merupakan momen yang sangat dinantikan semua umat Islam di dunia, karena momen semangat berbagi dari mereka yang mampu berkurban dan kebahagiaan mereka yang mendapatkan daging yang dibagikan.
Ibadah kurban tidak hanya bermanfaat bagi individu yang menjalankannya, karena mendapatkan pahala. Namun pelaksanaan ibadah kurban memiliki peran penting bagi aspek kemasyarakatan. Ini karena ibadah kurban tidak hanya melibatkan seorang hamba dengan Tuhannya, tetapi juga ada keterkaitan sosial dengan masyarakat sebagai pihak penerima manfaat kurban. Jika mengkaji lebih dalam mengenai tujuan dari ibadah ini, ada beberapa hikmah yang dapat diambil di antaranya:
Pertama, sebagai wujud ketakwaan kepada Allah Swt.
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Allah ta’ala sama sekali tidak akan menerima dagingnya (hewan kurban) tidak pula darahnya akan tetapi akan menerima ketakwaan yang ada dalam hati kalian.” (QS. Al Hajj: 37).
Berdasarkan ayat ini, kita dapat memahami bahwa ketakwaan di dalam masing-masing individu memiliki peran yang penting untuk dalam pelaksanaan hewan kurban. Karena yang Allah Swt. lihat adalah bagaimana ketulusan hati dan takwa kita Ketika berkurban, bukan besaran atau banyaknya hewan kurban. Sehingga pelaksanaan ibadah ini menjadi wujud ketakwaan kepada Allah SWT.
Kedua, untuk memperluas syiar agama Islam.
وَالْبُدْنَ جَعَلْنٰهَا لَكُمْ مِّنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهَا صَوَاۤفَّۚ فَاِذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ كَذٰلِكَ سَخَّرْنٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk-mu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur.” (Qs. Al Hajj :36)
Ayat di atas menyebutkan bahwa hikmah lain di balik penyembelihan hewan kurban adalah untuk menunjukkan kemuliaan dan kebesaran ajaran agama Islam. Bahwa sebagai agama yang rahmatan lil alamiin, kehadiran Islam tidak hanya membawa manfaat bagi pengikutnya saja, tetapi juga bagi seluruh alam. Tidak hanya kalangan muslim saja yang dapat merasakan manfaat dari daging kurban, tetapi juga seluruh masyarakat.
Ketiga, memberikan manfaat bagi kaum muslimin yang kesulitan dan membutuhkan.
Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari jalur Abi ‘Ashim dari Yazid bin Abi ‘Ubaid dari Salamah bin Al ‘Akwa’ ra berkata :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( من ضحى منكم فلا يصبحن بعد ثالثة وفي بيته شيء، فلما كان العام المقبل قالوا: يا رسول الله نفعل كما فعلنا العام الماضي ؟ قال : كلوا وأطعموا وادخروا ، فإن ذلك العام كان بالناس جهد فأردت أن تعينوا فيها ).
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang berkurban di antara kalian, maka jangan sekali–kali ia menyisakan daging kurban di rumahnya melebihi tiga hari, maka tatkala datang tahun depan mereka (para sahabat) berkata : Wahai utusan Allah apakah kami juga harus melakukan sebagaimana apa yang telah kami lakukan pada tahun lalu? Beliau menjawab dan bersabda : Makanlah oleh kalian, berikan makan keluarga kalian dan simpanlah (dari daging kurban kalian) sesungguhnya orang – orang sangat kesulitan dan membutuhkan bantuan pada tahun lalu dan aku menginginkan kalian ikut andil dalam membantu mereka.”
Berasarkan dalil tersebut, Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk memperluas kebermanfaatan daging dari hewan kurban yang disembelih oleh seseorang yang memiliki kelapangan rezeki kepada saudaranya yang kesulitan dan membutuhkan bantuan.
Sehingga pelaksanaan ibadah kurban tidak hanya mengaitkan antara individu yang berkurban dengan Allah ta’ala saja, tetapi juga dengan masyarakat sekitar. Hewan yang disembelih untuk dikurbankan tidak hanya diperintahkan untuk dipotong dan dinikmati sendirian oleh yang berkurban dan keluarganya, tetapi juga harus dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Baca juga “Hukum Patungan Kurban“
Lalu, kenapa kurban di Palestina?
Pertama, sejarah telah mencatat bahwa presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno memiliki komitmen yang kuat dalam mendukung kemerdekaan Palestina. Hal ini terbukti dalam sejumlah gelaran konferensi internasional yang digagasnya seperti Konferensi Asia Afrika tahun 1955 dan Konferensi Islam Asia Afrika tahun 1965 menjadikan resolusi kemerdekaan Palestina sebagai poin penting yang terus disuarakan.
Membantu rakyat Palestina dan mendukung kemerdekaannya menjadi suatu hal yang harus dilakukan bersama untuk mewujudkan keadilan atas nama kemanusiaan. Bahkan dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Sehingga berdasarkan pembukaan UUD 45, sudah menjadi kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia ikut turut serta membantu penduduk Palestina yang saat ini dalam kondisi mengalami penjajahan. Dengan membantu Palestina, kita juga sedang melakukan amanah dari bapak pendiri bangsa Indonesia, yang harus terus dilanjutkan oleh generasi masa kini dan masa yang akan datang, hingga Palestina merdeka.
Kedua, berdasarkan ajaran Rasulullah saw, bagi seorang yang mampu berkurban untuk bisa berbagi kebahagiaan kepada fakir dan miskin. Palestina saat ini berada dalam kondisi ekonomi yang sulit akibat penjajahan yang berlangsung sejak tahun 1948. Wilayah Gaza bahkan harus mengalami blokade yang berkepanjangan hingga lebih dari 15 tahun. Akibatnya, Sebagian besar penduduknya sangat bergantung pada bantuan dari luar negeri. Melihat kondisi ini, membantu mereka menjadi utama bagi umat Islam yang memiliki kelebihan rezeki untuk berkurban.
Allah berfirman:
فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
“Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28).
Ketiga, tanah Palestina merupakan tanah yang diberkahi. Keberkahan ini tidak hanya diperuntukkan bagi yang tinggal di Palestina saja, namun juga diberikan orang-orang yang senantiasa mencintai dan mendukung Palestina, yang di dalamnya ada Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat islam dan tempat Isra dan Mi’raj Rasulullah saw. Allah Swt. berfirman:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: 1)
Baca juga “22 ALASAN UMAT ISLAM WAJIB MEMBANTU PALESTINA“
Bagi sahabat yang ingin berkurban tahun ini untuk saudara-saudara di Palestina
bisa melalui Adara Relief International.
Klik di sini
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








