Israel berupaya memberlakukan syarat-syarat ketat untuk membuka kembali perbatasan Rafah antara Mesir dan Jalur Gaza. Langkah ini akan semakin menghambat upaya untuk meringankan krisis kemanusiaan di Gaza.
Proposal Israel mencakup pembentukan tambahan pos pemeriksaan Israel di luar pos pemeriksaan Palestina di dalam perbatasan. Orang yang memasuki Gaza akan melewati gerbang Rafah sebelum melanjutkan perjalanan menuju pos pemeriksaan keamanan Israel. Pada akhirnya, ini memberikan Israel kendali tidak langsung atas perbatasan tanpa mengerahkan pasukan langsung ke wilayah Palestina.
Proposal tersebut menambahkan bahwa syarat lain dari Israel adalah mencegah masuknya warga Palestina yang lahir di luar Jalur Gaza selama atau sebelum genosida. Selain itu, jumlah orang yang masuk ke Gaza tidak boleh melebihi jumlah orang yang meninggalkannya.
Syarat ketiga melibatkan pemindahan perlintasan ke segitiga perbatasan dekat perlintasan Karem Abu Salem dalam proyek “Rafah 2.” Rencana ini secara efektif akan mengesampingkan perlintasan utama Rafah dan membuat Koridor Philadelphia tidak dapat beroperasi. Dengan kata lain, semakin memperkuat kendali Israel atas perbatasan selatan Gaza.
Menurut laporan yang sama, Mesir telah menolak segala perubahan terhadap pengelolaan perbatasan tersebut. Mesir bersikeras bahwa Rafah harus tetap berada di bawah administrasi bersama Palestina-Mesir.
Sumber: Palinfo, Middle East Monitor








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)