Israel mencegah Patriark Latin Al-Quds (Yerusalem), Pierbattista Pizzaballa, untuk memasuki Gereja Makam Kudus pada Ahad (29/03) untuk memimpin Misa Minggu Palma. Ini merupakan tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Para pejabat gereja menggambarkan kondisi tersebut sebagai hal yang sangat mengkhawatirkan.
Menurut pernyataan Patriarkat Latin, petugas menghentikan Pizzaballa saat ia mendekati gereja bersama Francesco Patton. Polisi memaksa kedua pemuka agama itu untuk berbalik meskipun mereka datang dengan tenang, tanpa prosesi atau perayaan publik. Patriarkat mengatakan kedua tokoh Kristen senior itu berjalan sendiri-sendiri dan mengikuti semua pembatasan yang Israel berlakukan.
Penjajah Israel berdalih bahwa langkah tersebut diambil terkait dengan perang AS-Israel yang sedang berlangsung di Iran. Namun, Patriarkat menolak penjelasan tersebut dan mengatakan bahwa larangan itu mengabaikan makna spiritual hari raya tersebut bagi miliaran umat Kristen di seluruh dunia yang perhatiannya tertuju ke Al-Quds selama Paskah.
Para pemimpin gereja menekankan bahwa mereka telah sepenuhnya mematuhi semua pembatasan sejak awal perang. Mereka membatalkan pertemuan publik, melarang kehadiran jemaat, dan mengatur siaran langsung perayaan keagamaan untuk jutaan umat di seluruh dunia. Namun, terlepas dari langkah-langkah ini, Israel tetap memblokir acara keagamaan.
Baca juga : “Gereja Keluarga Kudus di Gaza Tampung 450 Pengungsi, Tolak Perintah Evakuasi Israel“
Patriarkat menggambarkan keputusan itu sangat tidak masuk akal dan sangat tidak proporsional. Mereka mengatakan langkah itu menandai penyimpangan tajam dari prinsip-prinsip rasionalitas, kebebasan beribadah, dan penghormatan terhadap status quo historis yang mengatur situs-situs suci di Al-Quds. Para pejabat menyatakan “kesedihan mendalam” bagi umat Kristen di Tanah Suci dan di seluruh dunia.
Jurnalis Israel Nir Hasson mencatat bahwa kunjungan Patriark telah dikoordinasikan sebelumnya. Ia menambahkan bahwa misa akan berlangsung tanpa jemaat dan hanya dihadiri oleh Patriark dan tiga rekannya.
Minggu Palma menandai hari Minggu terakhir sebelum Paskah dan memperingati masuknya Yesus Kristus ke Al-Quds. Gereja-gereja yang mengikuti kalender Barat memperingatinya pada pekan ini, sementara denominasi lain akan memperingatinya pada 5 April.
Israel juga membatalkan prosesi Minggu Palma tradisional di Al-Quds, dengan alasan tindakan darurat yang sama. Acara tahunan ini biasanya menarik ribuan umat yang membawa ranting palem dan ranting zaitun sambil melantunkan himne di jalan-jalan Kota Tua.
Pemerintah Al-Quds mengutuk pembatasan tersebut dan mengatakan bahwa langkah itu melanggar hukum internasional dan hukum humaniter. Mereka menekankan bahwa Israel, sebagai kekuatan pendudukan, harus menjamin akses tanpa batasan ke tempat-tempat ibadah dan menghormati status hukum dan sejarah situs-situs keagamaan kota tersebut.








