Pekan ASI Sedunia diperingati pada tanggal 1–7 Agustus setiap tahunnya sebagai momentum global untuk menegaskan komitmen dalam mendukung pemberian ASI eksklusif kepada bayi. Tahun ini, peringatan Hari ASI Sedunia mengusung tema “Invest in breastfeeding, invest in the future”. Tema ini menekankan upaya untuk memperkuat sistem kesehatan yang mendukung ibu menyusui secara menyeluruh, sejak masa kehamilan hingga pascapersalinan.
Melalui tema ini, semua pihak diharapkan dapat mendukung penegakan kebijakan, undang-undang dan program yang memprioritaskan perempuan, bayi, dan ibu menyusui. Selain itu, tersirat juga harapan akan solidaritas masyarakat untuk menegakkan hak setiap perempuan untuk menyusui bayi mereka kapan saja, di mana saja, dengan kondisi yang aman dan nyaman, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau geografis. Namun di Jalur Gaza, harapan itu berubah menjadi kemewahan yang tak terjangkau.
Di tengah genosida dan perang kelaparan yang masih berlangsung di Jalur Gaza, menyusui tidak hanya sulit, tetapi juga mustahil. Tidak peduli seberapa besarnya keinginan para ibu untuk menyusui dan membangun ikatan emosional dengan bayi mereka, kondisi di lapangan telah membuat mereka tidak bisa melakukannya.
Banyak ibu di Gaza menderita kekurangan gizi akut yang membuat tubuh mereka tidak bisa menghasilkan ASI. Bahkan, banyak bayi yang tak sempat mengisap tetes ASI pertama karena ibunya gugur dalam serangan, atau sebaliknya—ibu kehilangan buah hatinya sebelum sempat memeluknya erat. Akan tetapi, di tengah berbagai penderitaan yang dihadapi oleh para ibu menyusui di Gaza, mereka tetap berkorban melakukan segala cara agar buah hati mereka dapat bertahan hidup dari genosida.
Tak Ada Nutrisi untuk Ibu Menyusui, Bayi-Bayi Berubah Menjadi Kerangka

Hidaya masih mengingat dengan jelas momen saat genosida dimulai dua tahun lalu, bersamaan dengan usia tujuh bulan kehamilanya. Dua bulan setelahnya, tepatnya pada Desember 2023, ia melahirkan putranya, Mohammed al-Mutawaq. Kelahirannya membuat perasaannya bercampur aduk. Ia bahagia sekaligus cemas, mengingat serangan yang tak ada habisnya. Apalagi, Gaza mulai dilanda krisis akibat kelaparan yang disengaja oleh Israel.
Di tengah kondisi yang tidak dapat diprediksi, Hidaya dapat dikatakan “cukup beruntung” karena anaknya berhasil hidup. Sejak Oktober 2023, tentara Israel telah membunuh 18.592 anak Palestina di Jalur Gaza, bahkan banyak yang meninggal pada hari kelahiran mereka. Menurut data resmi Kementerian Kesehatan Gaza yang dirilis pada akhir Juli, sebanyak sembilan bayi terbunuh pada hari kelahiran mereka, lima bayi terbunuh pada hari pertama, lima lainnya pada hari kedua, dan delapan bayi terbunuh pada hari ketiga. Selain itu, tercatat 88 bayi yang meninggal pada usia satu bulan, 90 bayi di usia dua bulan, dan 78 bayi pada usia tiga bulan.
“Ketika saya melahirkannya, dia menderita kekurangan oksigen yang menyebabkan kelemahan otot,” ujar Hidaya saat menceritakan putranya. Meski begitu, ia mengatakan bahwa Mohammed mendapatkan perawatan dari fisioterapis di Gaza hingga menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Namun, masalah kembali muncul ketika usia Mohammed memasuki dua bulan. Hidaya didiagnosis kekurangan gizi, sehingga tidak mampu menyusui bayinya. Ia harus bergantung pada susu formula untuk memenuhi nutrisi bayinya.
Hidaya bukanlah satu-satunya ibu yang menghadapi situasi krisis ini. Pada awal Juli 2025, UNFPA memperingatkan bahwa sebanyak 50.000 ibu hamil dan menyusui di Gaza menderita kelaparan ekstrem selama berhari-hari. Akibatnya, anak-anak mereka menghadapi risiko serius: lahir prematur, berat badan rendah, kematian, serta gangguan kesehatan seumur hidup. Kantor Media Pemerintah Gaza juga telah menekankan bahwa lebih dari 40.000 bayi menghadapi risiko kematian akibat larangan masuknya susu formula ke Jalur Gaza. “Para ibu terlalu kekurangan gizi untuk menyusui, sementara susu formula sudah tidak tersedia,” demikian pernyataan UNFPA.
Mirisnya, kondisi ini bukan disebabkan oleh ketiadaan makanan, melainkan oleh blokade ketat Israel yang menahan ribuan truk bantuan di perbatasan. Sejak Maret, Israel hanya mengizinkan sejumlah kecil truk masuk setiap harinya — itu pun sering dijarah oleh kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Israel. Padahal, dibutuhkan sedikitnya 500 truk per hari untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk Gaza.
Penderitaan Hidaya tidak berhenti sampai di sana. Beberapa waktu setelahnya ia kehilangan suaminya akibat serangan pasukan Israel. Padahal, sang suamilah yang selama ini bertugas mencari susu di rumah sakit dan membawanya pulang untuk memberi makan Mohammed. Kini, tanpa suaminya, Hidaya menjadi satu-satunya pencari nafkah untuk putranya.
Di tengah kondisi duka, perkembangan Mohammed menjadi pelipur lara bagi Hidaya. Putranya mulai berbicara, mengucapkan “amma” dan “abba”, bahkan mulai merangkak dan berjalan. Tetapi ia seakan tak diizinkan untuk berbahagia terlalu lama, sebab agresi genosida yang terus berlangsung memaksa Hidaya dan Mohammed untuk mengungsi dari Jabalia. Sejak saat itulah kondisi Mohammed semakin memburuk.
Berat badan Mohammed turun drastis, dari yang awalnya 9 kg menjadi kurang dari 6 kg. Kekuatan otot dan motoriknya yang sebelumnya telah berkembang kini semakin melemah. “Mohammed pernah belajar berjalan tapi sekarang dia bahkan tidak bisa lagi duduk sendiri. Dia tidak bisa menahan kepalanya dengan stabil, dan dia hampir tidak mampu menggerakkan kakinya. Saat ini, dia hampir tidak bisa menggerakkan lengannya,” ujar Hidaya.
Hidaya berusaha memeriksakan putranya ke rumah sakit, namun jawaban yang ia terima adalah anaknya tidak membutuhkan obat, melainkan nutrisi melalui makanan yang bergizi. “Mereka mengatakan dia membutuhkan nutrisi yang tepat. Seorang anak sepertinya membutuhkan susu, telur, keju, sayuran dan buah-buahan. Tapi sejak lahir, dia bahkan tidak pernah tahu apa itu buah. Dia datang ke dalam kehidupan di tengah-tengah kelaparan dan perampasan sumber daya.”
Hidaya, sebagaimana para ibu lainnya di Gaza, sangat ingin memberikan ASI dan makanan bergizi untuk putranya. Akan tetapi, tidak ada yang bisa ia temukan di Gaza. Jangankan untuk memberi makan anaknya, Hidaya bahkan tidak dapat menemukan makanan untuk memenuhi nutrisinya sendiri. Kini yang bisa ia lakukan hanya merawat Mohammed sebisanya, hingga mereka menemukan makanan untuk bertahan.
Pada awal Juli 2025, Mohammed didiagnosis dehidrasi akut, membuat sang ibu semakin mencemaskan kondisinya. “Saya mengira dia sudah tiada. Saya biasa menekan kepala saya ke dadanya, berharap bisa mendengar detak jantungnya. Anak saya benar-benar tinggal kerangka. Anda dapat melihat tulang-tulangnya, tulang rusuknya, dan tulang belakangnya yang menonjol hanya berlapis kulit. Semua karena kekurangan makanan,” tutupnya.
Ada ribuan Mohammed lainnya di Gaza yang menderita kekurangan gizi, salah satunya karena tidak bisa mendapatkan ASI dari ibunya maupun nutrisi pengganti ASI untuk anak seusianya. Pada akhir Juli, WFP menyatakan bahwa lebih dari 320.000 anak di bawah usia lima tahun berisiko mengalami malnutrisi akut, ribuan di antaranya dalam kondisi gizi buruk yang mengancam nyawa. Layanan gizi dasar hampir lumpuh sepenuhnya—kurang dari 15 persen yang masih berfungsi—sementara akses terhadap air bersih, susu pengganti, dan makanan terapeutik sangat terbatas. UNICEF menyebutkan bahwa ribuan anak telah dirawat karena malnutrisi sejak Juni 2025, dan angka pada bulan-bulan selanjutnya diprediksi lebih tinggi.
Saat ini, lebih dari 500.000 orang–hampir seperempat dari populasi Gaza–menghadapi kondisi kelaparan, sementara 39 persen lainnya kerap melewatkan hari-hari tanpa makanan. Di Kota Gaza, tingkat malnutrisi akut pada anak-anak melonjak empat kali lipat dalam dua bulan terakhir, mencapai 16,5 persen. Krisis ini menandai peningkatan tajam risiko kematian akibat kelaparan dan kekurangan gizi. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut situasi ini sebagai “bencana kemanusiaan dalam skala epik”.
ASI, Hak bagi Ibu dan Bayi untuk Merasa Aman

Menyusui bukan sekadar aktivitas memberikan nutrisi dari ibu kepada bayi, namun juga merupakan salah satu cara untuk membangun kedekatan emosional dan bonding antara ibu dengan bayinya. Sayangnya, “kemewahan” itu tidak bisa dirasakan oleh para ibu dengan bayinya di Gaza, setidaknya untuk saat ini.
Di tengah perang kelaparan yang disengaja oleh Israel, para ibu kekurangan gizi hingga tidak bisa memberikan ASI untuk anak-anak mereka. Hal ini menimbulkan efek jangka panjang, karena anak-anak juga menjadi kekurangan gizi, dan tubuh kecil mereka menjadi rentan terkena berbagai penyakit di tengah padatnya pengungsian.
meng-ASI-hi bukan hanya tentang membuat bayi menjadi kenyang dan tertidur, tetapi juga tentang memberikan hak kepada sang ibu untuk bisa memberikan nutrisi, ikatan, keamanan, dan kenyamanan kepada bayinya. Di belahan dunia lain, dekapan ibu ketika menyusui adalah tempat teraman bagi bayi. Tetapi di Gaza, dekapan ibu seringkali menjadi tempat berpulang bagi tubuh-tubuh bayi yang telah mendingin, hanya menyisakan kerangka tulang berbalut kulit.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
https://www.who.int/campaigns/world-breastfeeding-week/2025
https://www.unfpa.org/news/famine-looms-gaza-pregnant-women-and-newborns-face-life-threatening-health-risks
https://www.wfp.org/news/un-agencies-warn-key-food-and-nutrition-indicators-exceed-famine-thresholds-gaza#:~:text=Food%20consumption%20%E2%80%93%20the%20first%20core,at%20a%20time%20without%20eating.
https://qudsnen.co/50000-pregnant-and-breastfeeding-women-starving-in-gaza-un-warns/
https://www.#/20250731-over-18500-children-killed-by-israel-in-gaza-since-october-2023-health-ministry/
https://www.aa.com.tr/en/middle-east/over-18-500-children-killed-by-israel-in-gaza-since-october-2023-health-ministry/3647718
https://www.palestinechronicle.com/newborns-at-risk-as-50000-pregnant-breastfeeding-women-starve-in-gaza/
https://www.middleeasteye.net/news/gaza-parents-struggle-against-child-starvation-and-israel-war-crimes-denial
https://www.middleeasteye.net/news/no-gaza-toddler-having-cerebral-palsy-doesnt-mean-israeli-starvation-lie
https://adararelief.com/peringatan-pekan-asi-sedunia-air-susu-ibu-di-gaza-telah-mengering-di-hadapan-genosida/
https://adararelief.com/para-ibu-di-palestina-menyusui-bayi-mereka-dengan-air-mata/








