Ratusan Jurnalis Gugur dalam Dua Tahun Genosida
Gaza adalah tempat paling mematikan di dunia bagi jurnalis dan pekerja kemanusiaan, kata Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) pada Ahad (25/01). Philippe Lazzarini, Komisaris Jenderal UNRWA, mengatakan lebih dari 230 jurnalis telah terbunuh sejak genosida Israel di Gaza dimulai. Ia menggambarkan jurnalis Palestina sebagai “mata dan telinga kami” dalam mendokumentasikan kekejaman tersebut.
Pernyataan Lazzarini muncul ketika Israel, pada awal Januari, menolak petisi dari Asosiasi Pers Asing (FPA), sebuah organisasi yang mewakili media internasional di Israel dan wilayah Palestina, yang menuntut akses independen bagi jurnalis ke Gaza. Mahkamah Agung Israel mengatakan bahwa mereka harus mempertahankan larangan tersebut karena “alasan keamanan,” meskipun ada gencatan senjata. Sejak Oktober 2023, Israel telah mencegah jurnalis asing memasuki Gaza. Israel hanya mengizinkan segelintir jurnalis masuk dalam kunjungan dengan kontrol ketat bersama pasukan mereka.
Lazzarini mengatakan akses para jurnalis adalah “hal mendasar bagi kebebasan media” dan “larangan terhadap jurnalis internasional telah berlangsung terlalu lama.” Menurut Reporters Without Borders, pasukan Israel telah membunuh setidaknya 29 jurnalis Palestina di Gaza dalam setahun hingga Desember 2025.
Pekerja Kemanusiaan di Gaza Terancam Kematian
Lazzarini memperingatkan bahwa isolasi media terhadap Gaza juga memengaruhi keberlangsungan hidup para pekerja kemanusiaan. Menurut laporan terbaru UNRWA, 382 rekan yang terkait dengan operasi kemanusiaannya, termasuk 309 anggota staf, telah meninggal di Gaza sejak awal genosida.
Pada 2024, parlemen Israel mengesahkan undang-undang yang melarang organisasi tersebut beroperasi di Israel dan wilayah Palestina yang diduduki. Langkah ini menimbulkan konsekuensi serius bagi jutaan pengungsi Palestina yang bergantung pada layanan UNRWA. Pasukan Israel juga telah menghancurkan markas besar lembaga tersebut di Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur). Secara terpisah, Israel pada Desember 2025 juga mengumumkan larangan terhadap 37 LSM kemanusiaan yang beroperasi di Palestina. Israel mengatakan larangan tersebut terjadi karena 37 LSM itu gagal memenuhi “persyaratan pendaftaran.”
Di bawah tekanan dari Israel, Doctors Without Borders (MSF) terpaksa memberikan Israel daftar lengkap staf Palestina dan internasionalnya dalam upaya untuk melanjutkan operasi di Gaza dan Tepi Barat. Keputusan tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan para pekerja Palestina di organisasi tersebut. Setidaknya Israel telah membunuh 15 staf Palestina dari organisasi tersebut sejak Oktober 2023.
Sumber: Middle East Eye








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)