Di salah satu kamar anak-anak di Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara, Ahmed Al-Ghalban terbaring dengan mata cekung dan tubuh kurus. Anak sekecil itu berada di ambang kehancuran karena beban rasa sakit fisik dan psikologis. Ia telah kehilangan kakinya, juga kehilangan saudara kembarnya, Mohammed, selama genosida di Gaza. Ahmed adalah salah satu dari hampir 1.000 anak yang kehilangan anggota tubuh selama genosida ini–35 persen korban adalah anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Ahmed tidak hanya kehilangan kakinya, tetapi ia juga kehilangan sebagian besar jiwanya setelah kehilangan Mohammed, saudara kembarnya yang selalu bersamanya pada saat-saat sulit. Mereka terkena rudal Israel saat melarikan diri dari serangan di lingkungan mereka di Jalur Gaza utara.
Maret lalu, lingkungan Al-Shaima di Beit Lahia, di Jalur Gaza utara, menjadi sasaran serangkaian serangan Israel. Salah satu serangan ini menargetkan area permukiman keluarga Al-Ghalban. Ahmed dan saudara kembarnya sedang dalam perjalanan ke tempat perlindungan yang lebih aman setelah mengungsi dari rumah mereka karena pasukan Israel menetapkan area mereka sebagai “zona merah”.
Ahmed menceritakan rincian serangan itu, “Saya memegang tangan saudara laki-laki saya, yang tidak pernah meninggalkan saya. Kami berada di kereta kuda, menuju daerah yang lebih aman setelah lingkungan tempat tinggal kami dibom. Kami membawa beberapa barang rumah tangga.”
“Tiba-tiba, kami menjadi sasaran Israel. Ketika saya terbangun di rumah sakit setelah kehilangan kesadaran, saya terkejut mendapati kaki saya diamputasi dan juga mengetahui bahwa saya telah kehilangan saudara laki-laki dan paman saya. Saat itu saya tahu bahwa hidup saya telah berubah selamanya.”
Menurut Kementerian Kesehatan, kisah dua bersaudara Ahmed dan Mohammed serupa dengan kisah yang dialami oleh lebih dari 16.000 anak yang menjadi syuhada dan hampir 1.000 anak yang anggota tubuhnya diamputasi selama agresi.








