Pengungsian berulang yang warga Palestina alami selama tiga tahun genosida Israel di Jalur Gaza telah membawa kondisi tempat penampungan darurat ke titik terendah. Pada permulaan hujan musim dingin, pembatasan ketat pasokan material bangunan oleh militer Israel serta krisis pendanaan internasional kian memperparah ketidakmampuan lembaga kemanusiaan dalam mempersiapkan tempat bernaung yang layak bagi jutaan pengungsi. .
Karl Baker, koordinator krisis regional untuk respons Gaza dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), mengatakan bahwa sebagian warga Palestina telah mengungsi hingga delapan kali. Setiap perpindahan berisiko merusak atau menghancurkan tenda dan tempat penampungan sementara yang mereka miliki.
Baker menjelaskan kepada UN News bahwa warga yang terpaksa berpindah sering kehilangan barang-barang mereka dan harus mencari tempat berlindung baru. Bahkan, terpal untuk tenda perlu diganti sekitar setiap enam bulan. Namun, lembaga kemanusiaan belum dapat memasok penggantinya dalam jumlah yang memadai.
Menurut Baker, bantuan perlu beralih dari tempat penampungan sementara menuju bangunan transisi yang lebih tahan lama. Akan tetapi, material untuk atap yang lebih kuat, lantai beton, dan dinding kokoh masih terkendala pembatasan Israel terhadap barang-barang yang dikategorikan memiliki potensi penggunaan ganda (dual-use).
Baca juga: Setahun Gencatan Senjata, Warga Gaza Masih Kehilangan Rumah dan Keluarga
Kekurangan dana dan gangguan pengiriman internasional turut memperlambat bantuan. Dana yang mulai tersedia pun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1,8–1,9 juta orang yang memerlukan bantuan tempat penampungan.
Situasi ruang gerak warga pun kian menyempit. Saat ini hanya sekitar 30 persen wilayah Jalur Gaza yang dapat mayoritas penduduk akses. Akibatnya, jutaan pengungsi terakumulasi di kawasan-kawasan yang sangat padat, kumuh, serta berada di zona rawan banjir saat curah hujan meningkat.
Di tengah hujan musim dingin yang mulai turun, organisasi kemanusiaan berupaya menangani kawasan rawan banjir dan menyediakan pompa air. Namun, Baker memperingatkan bahwa membantu warga Palestina bertahan melewati musim dingin menjadi tantangan terbesar.
Pada awal Oktober, IOM menyebut persediaan tempat penampungan yang tersedia dan sedang dikirim hanya mencukupi 17 persen kebutuhan musim dingin di Gaza. Lebih dari separuh tenda dan tempat penampungan darurat juga berada dalam kondisi buruk.
Meski gencatan senjata berlaku sejak 10 Oktober 2025, serangan Israel dan pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan serta material tempat penampungan masih berlanjut.
Sumber: MEMO








