Israel telah menangkap 65 pelajar Palestina tingkat sekolah menengah atas (SMA) di Tepi Barat sejak awal 2026. Menurut Palestinian Prisoner Society (PPS), terdapat empat yang Israel tangkap setelah ujian akhir nasional pada bulan ini.
Organisasi tersebut menyatakan bahwa penangkapan ini merupakan bagian dari eskalasi yang terus Israel lakukan untuk menargetkan pelajar Palestina dan merampas hak mereka atas pendidikan.
Salah satu pelajar Israel tempatkan dalam penjara administratif tanpa proses pengadilan. Sementara itu, pelajar lainnya Israel tembak hingga terluka sebelum akhirnya mereka menangkapnya.
PPS menjelaskan bahwa sejak awal genosida di Gaza, pasukan Israel semakin gencar menangkap pelajar dari berbagai jenjang pendidikan. Penangkapan itu menjadi bagian dari operasi yang telah menyasar puluhan ribu warga Palestina.
Menurut PPS, Israel telah mengubah masa terpenting dalam pendidikan siswa SMA menjadi pengalaman penuh kekerasan. Banyak pelajar kehilangan kesempatan mengikuti ujian karena pasukan Israel menahan mereka.
Selain itu, organisasi tersebut menegaskan bahwa sistem penjara Israel menerapkan penyiksaan, penghinaan, dan perlakuan buruk secara sistematis terhadap tawanan Palestina. Praktik tersebut bertujuan untuk menghancurkan kondisi fisik dan psikologis para tawanan, termasuk anak-anak serta pelajar yang Israel tahan.
PPS mendesak organisasi hak asasi manusia internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar segera mengambil langkah untuk menghentikan penargetan terhadap pelajar Palestina. Mereka juga meminta perlindungan atas hak pendidikan serta keselamatan para siswa.
Berdasarkan data Palestina, serangan tentara dan pemukim Israel di Tepi Barat sejak 8 Oktober 2023 telah membunuh lebih dari 1.173 warga Palestina, melukai 12.666 orang, serta menyebabkan sekitar 23.000 penangkapan. Saat ini, lebih dari 9.600 warga Palestina masih ditahan di penjara Israel, termasuk perempuan dan anak-anak, di tengah laporan kelaparan, penyiksaan, serta pengabaian layanan kesehatan.








