Penahanan perempuan Palestina terus meningkat di Tepi Barat. Bahkan, kini mencapai angka tertinggi sejak awal perang Gaza. Palestinian Prisoner Society melaporkan bahwa Israel menahan empat mahasiswi Universitas Birzeit dalam penggerebekan di Tepi Barat. Dengan tambahan itu, jumlah penahanan perempuan Palestina naik menjadi 89 orang.
Menurut laporan, dari angka tersebut terdapat tiga anak di bawah umur dan tiga perempuan hamil. Selain itu, terdapat 19 tahanan administratif tanpa dakwaan dan dua pasien kanker. Sebagian besar penahanan perempuan Palestina terjadi di Penjara Damon di utara Palestina 1948. Sementara itu, lainnya berada di pusat interogasi dan penahanan.
Baca juga : “Korban di Gaza Bertambah Saat Perayaan Iduladha”
“Israel Batasi Azan di Masjid-masjid Palestina”
Organisasi itu menyebut bahwa para perempuan tawanan ini berada dalam kondisi buruk. Mereka mengalami kelaparan, kekerasan, dan pemeriksaan yang merendahkan. Selain itu, mereka ditempatkan di sel isolasi atau sel yang penuh sesak. Banyak tawanan terpaksa tidur di lantai karena keterbatasan ruang.
Sejak agresi genosida di Gaza terjadi pada Oktober 2023, Israel telah menangkap lebih dari 760 perempuan. Karena itu, penahanan perempuan Palestina terus menjadi perhatian kelompok hak asasi manusia. Organisasi itu juga menyoroti kondisi kesehatan yang memburuk di kalangan tawanan. Mereka menilai penahanan Israel lakukan tanpa akses perawatan medis yang memadai.








