Kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat terus meningkat dan mengancam keberadaan komunitas Palestina. Para ahli PBB memperingatkan bahwa kekerasan pemukim kini terjadi hampir setiap hari. Selain itu, kekerasan pemukim telah memaksa banyak warga Palestina meninggalkan rumah mereka. Menurut para ahli, kekerasan pemukim juga mempercepat pengusiran paksa dan pembersihan etnis. Oleh karena itu, serangan pemukim menjadi salah satu ancaman terbesar bagi masa depan warga Palestina di wilayah pendudukan.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Senin (1/06), para ahli PBB menyebut serangan para pemukim terjadi dengan impunitas yang luas. Mereka menilai situasi tersebut menciptakan tekanan yang mendorong warga Palestina untuk meninggalkan tanah dan tempat tinggal mereka.
Baca juga : “Pembatasan Iduladha di Masjid Ibrahimi”
Para ahli juga mencatat bahwa tingkat kekerasan pada 2026 mencapai angka yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selama lima bulan pertama tahun ini, serangan pemukim membunuh sedikitnya 13 warga Palestina dan melukai hampir 500 orang.
Wilayah Area C di Tepi Barat menjadi kawasan yang paling terdampak. Lembah Yordan dan Perbukitan Al-Khalil (Hebron) Selatan mengalami peningkatan kekerasan serta pengusiran penduduk secara signifikan.
Salah satu komunitas yang menghadapi tekanan berat adalah Umm al-Kheir. Desa tersebut berulang kali mengalami penghancuran bangunan, pemutusan layanan dasar, dan serangan pemukim di tengah perluasan permukiman ilegal Israel.
Menurut para ahli, pengusiran warga Palestina dapat membuka sekitar 663 kilometer persegi lahan untuk ekspansi permukiman baru. Mereka juga memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan regional telah mengalihkan perhatian dunia dari situasi di wilayah Palestina yang diduduki.
Oleh karena itu, para ahli mendesak Israel menghentikan dukungan terhadap permukiman ilegal dan kekerasan pemukim. Mereka juga meminta pertanggungjawaban atas berbagai serangan serta menjamin kepulangan warga Palestina yang terusir ke tempat tinggal mereka.








