Warga Palestina melaksanakan salat Iduladha di Masjid Ibrahimi, Al-Khalil (Hebron), di tengah pembatasan ketat Israel. Tentara Israel menutup gerbang Masjid Ibrahimi dan memeriksa jemaah di setiap pintu masuk. Akibatnya, sebagian warga Palestina memilih salat di masjid lain karena akses yang sangat lambat.
Selain itu, tentara Israel menembakkan granat kejut di sekitar Masjid Ibrahimi. Insiden itu memicu kepanikan di tengah jemaah yang hadir.
Gubernur Al-Khalil, Khaled Dudin, menyebut jumlah jemaah hanya mencapai 30 persen dari biasanya. Ia menilai Israel menjalankan teror agama dan upaya penggantian identitas di Masjid Ibrahimi.
Baca juga : “Krisis Gaza Memburuk Jelang Iduladha”
Namun demikian, Dudin menegaskan bahwa warga Palestina harus tetap hadir di Masjid Ibrahimi. Menurutnya, masjid berusia lebih dari 4.000 tahun itu merupakan simbol sejarah dan identitas Islam.
Masjid Ibrahimi berada di Kota Tua Al-Khalil yang sepenuhnya dikuasai Israel. Sekitar 400 pemukim Israel tinggal di kawasan tersebut dengan perlindungan 1.500 tentara Israel.
Sejak 1994, Israel membagi area Masjid Ibrahimi untuk Yahudi dan umat Islam. Pembagian itu terjadi setelah seorang pemukim Israel membantai 29 jemaah Palestina di dalam masjid.
Sementara itu, serangan Israel di Tepi Barat terus meningkat sejak agresi Gaza dimulai pada Oktober 2023. Pemerintah Palestina mencatat sekitar 1.200 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 33.000 lainnya mengungsi.
Meski menghadapi pembatasan dan kekerasan, warga Palestina tetap merayakan Iduladha dengan keteguhan dan perlawanan.








