Lebih dari 9.400 tawanan Palestina menjalani Iduladha dalam kondisi menyedihkan di penjara Israel. Tawanan Palestina menghadapi penyiksaan, kelaparan, dan pembatasan ketat selama hari raya.
Lembaga Tawanan Palestina menyebut Israel masih menahan 360 anak Palestina dan 84 perempuan Palestina. Banyak di antara mereka yang terpisah dari keluarga selama bertahun-tahun.
Abdullah Al-Zaghari, Kepala Lembaga Tawanan Palestina, menjelaskan banyak ibu kehilangan kesempatan berkumpul bersama anak-anak mereka. Akibatnya, anak Palestina kehilangan rasa aman dan kehangatan saat Iduladha.
Baca juga : “Krisis Gaza Memburuk Jelang Iduladha”
Sebelumnya, tawanan Palestina masih berusaha merayakan Iduladha dengan sederhana. Mereka memakai pakaian terbaik, menghias ruangan, dan membuat makanan seadanya.
Namun, sejak 7 Oktober 2023, situasi berubah drastis. Kini, mereka menghadapi kekerasan sistematis di dalam penjara Israel. Petugas penjara memborgol tawanan Palestina, memukul mereka, menyemprotkan gas, dan mencegah perawatan medis. Selain itu, petugas juga menyita kasur dan selimut sepanjang hari.
Perempuan Palestina ikut mengalami penghinaan, isolasi, dan kelaparan. Sementara itu, penyakit kulit dan infeksi menyerang ribuan tawanan Palestina akibat buruknya sanitasi dan layanan kesehatan.
Israel juga melarang kunjungan keluarga selama hampir tiga tahun. Padahal, kunjungan menjadi sumber kekuatan penting bagi tawanan Palestina saat Iduladha.
Sejak agresi di Gaza dimulai, lebih dari 100 tawanan Palestina meninggal di penjara Israel. Karena itu, lembaga hak asasi manusia mendesak dunia segera menghentikan pelanggaran terhadap tawanan Palestina.








