Serangan Israel ke Gaza kembali membunuh warga sipil di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terus berlangsung. Selain itu, serangan tersebut kini menghantam kamp pengungsi dan wilayah yang diklaim Israel sebagai zona aman. Serangan udara Israel menghantam kamp Ghaith di Al-Mawasi, Khan Yunis. Akibatnya, seorang perempuan dan anak perempuan berusia enam tahun terbunuh.
Selain itu, sedikitnya 22 warga terluka, dengan mayoritas korban merupakan perempuan serta anak-anak. Saksi mata mengatakan rudal menghantam deretan tenda pengungsi di kawasan padat penduduk. Serangan Gaza di Al-Mawasi memperlihatkan runtuhnya narasi “zona aman” di Gaza. Sebab, warga yang mengungsi di sana justru kembali menjadi target serangan.
Baca juga : “Negara Muslim Kecam Ben Gvir”
Dalam beberapa hari terakhir, serangan lain juga menghantam kamp Nuseirat dan Maghazi. Bahkan, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan bayi turut terbunuh di Nuseirat. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 905 warga Palestina terbunuh sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober 2025. Selain itu, lebih dari 2.700 warga mengalami luka-luka.
Israel juga terus membatasi bantuan kemanusiaan dan pergerakan barang ke Gaza. Karena itu, krisis pangan dan kemanusiaan semakin memburuk. Laporan harian Israel, Haaretz, menyebut Israel menargetkan polisi sipil Gaza sejak gencatan senjata dimulai. Serangan itu diduga bertujuan menciptakan kekacauan sosial di tengah kondisi warga yang sudah sangat tertekan.
Kementerian Kesehatan Gaza juga menyebut banyak korban masih tertimbun reruntuhan. Namun, tim ambulans dan penyelamat kesulitan menjangkau lokasi karena situasi yang berbahaya.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)