Uskup Agung Ortodoks Yunani dari Sebastia, Atallah Hanna, memperingatkan meningkatnya serangan Israel terhadap komunitas Kristen di Al-Quds (Yerusalem). Ia menyebutnya sebagai tindakan “sistematis dan rasis”, serta bagian dari upaya mengubah identitas kota.
Dalam pernyataannya, Uskup Hanna menegaskan bahwa serangan ini bukan insiden terpisah, melainkan mencerminkan kebijakan yang lebih luas untuk melemahkan keberadaan warga Palestina, baik Muslim maupun Kristen.
Baca juga : “71 Tahun Setelah KAA: Masih Relevankah Sikap Indonesia terhadap Palestina?”
“Dari Tiang Gantungan Inggris 1930 hingga Meja Legislasi Israel Hari Ini, Eksekusi Tidak Membungkam Palestina”
Pernyataan ini muncul setelah beredarnya video penyerangan terhadap seorang biarawati asal Prancis di Kota Tua Al-Quds. Hanna menyebut kejadian itu sebagai bagian dari pola pelanggaran yang telah berlangsung sejak 1967. Pelanggaran tersebut termasuk pelecehan verbal, tindakan meludah, hingga kekerasan fisik terhadap tokoh agama dan tempat ibadah.
Ia juga menyoroti bahwa tekanan politik dan sosial telah menyebabkan penurunan jumlah warga Kristen di kota tersebut, akibat pembatasan ekonomi dan mobilitas.
Hanna menegaskan bahwa seluruh warga Palestina menghadapi kondisi serupa tanpa memandang agama. “Kami adalah satu rakyat, dan semua tempat suci kami berada dalam ancaman,” ujarnya. Ia menyerukan peran lebih aktif dari gereja internasional untuk melindungi situs keagamaan, serta menekankan pentingnya persatuan Palestina dalam menghadapi situasi ini.
Baca juga : “Habis Gelap, Terbitlah Terang: Menelusuri Kembali Pemikiran Kartini dalam Menentang Penjajahan Terhadap Perempuan“
Sumber: Palinfo







![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)