Serangan Israel terhadap nelayan Gaza terus berlanjut, mengakibatkan krisis ekonomi dan kemanusiaan di wilayah tersebut menjadi semakin parah. Penembakan terhadap perahu dan pesisir membuat ribuan nelayan gaza kehilangan mata pencaharian mereka.
Saksi mata menyebut sekitar 4.000 nelayan terdampak, sementara ratusan perahu telah Israel hancurkan atau tenggelam. Ketua komite nelayan, Zakaria Bakr, mengatakan pelanggaran terjadi hampir setiap hari, termasuk penembakan langsung dan pengejaran di laut yang menyebabkan korban jiwa dan korban luka.
Menurutnya, nelayan kini hanya memiliki dua pilihan: tidak melaut sama sekali atau mempertaruhkan nyawa.
Sektor perikanan Gaza mengalami penurunan drastis. Sebelum agresi terakhir, terdapat sekitar 1.000 perahu bermotor dan lebih dari 5.000 nelayan aktif. Kini, banyak yang terpaksa menggunakan alat sederhana seperti perahu kecil hingga benda darurat untuk mengapung.
Produksi ikan juga merosot tajam, dari sekitar 15–20 ton per hari menjadi hanya sekitar 10 ton per bulan. Selain itu, pelabuhan telah menjadi target serangan, termasuk puluhan rudal yang menghancurkan fasilitas dan gudang peralatan nelayan.
Dari sisi korban manusia, lebih dari 232 nelayan terbunuh, lebih dari 100 terluka, dan lebih dari 100 lainnya ditangkap, sementara puluhan lainnya masih ditahan.
Nelayan juga dibatasi hanya boleh melaut hingga jarak sekitar satu kilometer dari pantai, di bawah serangan yang tetap berlangsung. Meski berbagai organisasi internasional telah menyatakan solidaritas, belum ada tindakan nyata di lapangan. Di tengah risiko tinggi, para nelayan tetap melaut demi bertahan hidup.
Sumber: Palinfo








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)