Pembicaraan antara Hamas dan Amerika Serikat terkait kelanjutan gencatan senjata Gaza berakhir tanpa kemajuan berarti. Dua sumber Palestina menyebut negosiasi yang berlangsung di Kairo itu gagal mencapai kesepakatan untuk melanjutkan ke fase kedua perjanjian.
Pertemuan tersebut melibatkan pemimpin Hamas di Gaza, Khalil al-Hayya, pejabat Mesir, utusan PBB Nikolay Mladenov, serta penasihat senior AS Aryeh Lightstone. Ini menjadi pertemuan pertama sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober 2025.
Sumber Palestina menyebut tidak ada kemajuan konkret akibat perbedaan mendasar, terutama terkait syarat yang Israel ajukan. Proposal yang dibahas mereka nilai “tidak adil” karena lebih mengakomodasi tuntutan Israel dan mengabaikan kepentingan kemanusiaan di Gaza.
Hamas menegaskan bahwa setiap pembahasan fase kedua harus bermula dengan pemenuhan komitmen fase pertama, termasuk penghentian serangan, peningkatan akses bantuan, serta pembukaan jalur rekonstruksi. Kelompok tersebut juga menyatakan telah memenuhi kewajibannya, termasuk pembebasan tawanan Israel.
Sebaliknya, otoritas Palestina menegaskan bahwa Israel terus melakukan pelanggaran hampir setiap hari sejak gencatan senjata berlaku. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 766 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 2.100 lainnya terluka akibat pelanggaran tersebut.
Isu lain yang menghambat negosiasi adalah tuntutan Israel agar Hamas dilucuti sebelum ada kemajuan dalam isu kemanusiaan atau penarikan pasukan. Tuntutan ini mendapat penolakan dari Hamas dan faksi Palestina lainnya.
Sementara itu, akses keluar-masuk Gaza tetap terbatas. Penyeberangan Rafah hanya terbuka secara terbatas, dengan sekitar 50 pasien yang dapat keluar setiap hari, jauh dari kebutuhan sekitar 22.000 orang yang memerlukan perawatan di luar negeri.
Hamas menegaskan komitmennya untuk melanjutkan dialog, namun menekankan bahwa kesepakatan apa pun harus mencakup penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza dan mulainya proses rekonstruksi.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)