Sejumlah pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyuarakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya serangan militer Israel. Serangan tersebut menargetkan lokasi pengungsian warga Palestina di Gaza, serta pola baru pemindahan paksa di Tepi Barat, termasuk di Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur).
Dalam pernyataan bersama, para pakar menilai rangkaian serangan dan pengusiran ini bukan sekadar dampak konflik, melainkan bagian dari pola sistematis. “Siklus pengusiran, teror, dan serangan terarah ini bertujuan membuat kehidupan warga Palestina tak tertahankan. Ini memaksa mereka meninggalkan tanahnya secara permanen,” ujar mereka.
Serangan terhadap lokasi yang menampung pengungsi mereka sebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. Pada 11 Maret 2026, serangan Israel di dekat gedung Komite Qatar di Gaza barat memicu kebakaran yang menyebar ke tenda-tenda pengungsi. Sebelumnya, pada 8 Maret, penembakan artileri di As Sawarha membunuh dua perempuan dan satu anak perempuan serta melukai sedikitnya 10 orang. Serangan udara di Khan Younis juga dilaporkan membunuh seorang pria dan putrinya.
Para pakar menyoroti bahwa sekitar 92 persen perumahan di Gaza telah hancur atau rusak. Ini menyebabkan sebagian besar penduduk mengalami pengungsian berulang yang mereka kategorikan sebagai pemindahan paksa. Warga yang tinggal di tenda dan hunian darurat menghadapi risiko berlapis, mulai dari serangan lanjutan, cuaca ekstrem, hingga minimnya layanan dasar.
Situasi serupa juga terjadi di Tepi Barat. Lebih dari 36.000 warga Palestina telah Israel pindahkan secara paksa sepanjang 2025, seiring ekspansi permukiman ilegal dan meningkatnya kekerasan. Di Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur), khususnya Silwan, ancaman penggusuran dan pembongkaran rumah terus membayangi warga.
Para pakar menilai skala dan pola tindakan ini menunjukkan strategi lebih luas yang mengarah pada pembersihan etnis di wilayah Palestina. Mereka mendesak komunitas internasional untuk mengambil langkah konkret, termasuk menghentikan pemindahan paksa, memastikan perlindungan warga sipil, serta menjamin akses kemanusiaan tanpa hambatan.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)