Laporan terbaru Euro-Mediterranean Human Rights Monitor mengungkap bahwa penyiksaan dan kekerasan seksual terhadap tawanan Palestina dari Gaza di penjara Israel merupakan praktik sistematis yang didukung struktur negara. Temuan ini Middle East Eye publikasikan pada 11 April 2026.
Berdasarkan kesaksian mantan tawanan, laporan tersebut mendokumentasikan berbagai bentuk kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan menggunakan benda serta penggunaan anjing militer. Praktik ini terjadi di sejumlah fasilitas penahanan, terutama di kamp Sde Teiman.
Euro-Med menegaskan bahwa pelanggaran tersebut bukan insiden terisolasi, melainkan bagian dari strategi yang mendapat dukungan otoritas politik, militer, dan yudisial, baik melalui perintah langsung maupun pembiaran dalam iklim impunitas. Skala penyiksaan disebut menjadi mungkin karena adanya regulasi darurat seperti Unlawful Combatants Law, yang memperluas penahanan tanpa pengawasan yudisial.
Baca juga : “Laporan Terpadu: Kematian Massal, Penyiksaan, dan Kekerasan Seksual Sistematis terhadap Tawanan Palestina di Penjara Israel“
Tanggung jawab tidak hanya berhenti pada pelaku langsung. Laporan itu menyebut adanya keterlibatan tenaga medis yang kemungkinan menutupi bukti penyiksaan, termasuk dengan menerbitkan sertifikat “layak interogasi.” Selain itu, sistem peradilan Israel memberikan perlindungan melalui pembatasan kesaksian korban dan pengklasifikasian ulang pelanggaran berat menjadi ringan.
Pada Maret lalu, militer Israel menghentikan dakwaan terhadap lima tentara yang tertuduh memperkosa tawanan di Sde Teiman, meskipun rekaman CCTV telah beredar luas.
Situasi anak-anak juga menjadi sorotan. Laporan Save the Children menyebut sekitar 350 anak Palestina yang saat ini Israel tahan menghadapi kekerasan fisik, interogasi berkepanjangan, serta kondisi penahanan yang buruk, dengan akses terbatas bagi organisasi kemanusiaan.
Secara keseluruhan, lebih dari 9.500 warga Palestina berada dalam penjara Israel. Temuan sebelumnya dari Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menyebut praktik penyiksaan seksual Israel gunakan sebagai metode dominasi dalam konflik.








