Di bawah terik matahari di Kota Gaza, kerumunan warga Palestina yang memegang wadah kosong berkumpul di sekitar truk pengangkut air. Bagi banyak lingkungan yang hancur akibat genosida Israel yang sedang berlangsung, kendaraan-kendaraan ini sekarang menjadi satu-satunya sumber air minum yang dapat mereka andalkan.
Serangan militer Israel sejak Oktober 2023 telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur air Gaza. Sepanjang genosida, Israel berulang kali mengebom pipa air dan infrastruktur sipil lainnya. Akibatnya, stasiun pompa berhenti berfungsi, dan mesin berat yang berfungsi untuk perbaikan penting hancur berantakan.
Stasiun air Yassin di Gaza utara, yang dulunya merupakan jalur kehidupan bagi ribuan penduduk, kini hampir tidak berfungsi. Para pejabat memperingatkan bahwa kerusakan di lokasi ini saja telah menyebabkan puluhan ribu orang kehilangan akses air bersih yang stabil. Selain itu, laju perbaikan berjalan sangat lambat karena blokade ketat Israel terhadap peralatan dan suku cadang.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa sekitar 70 persen infrastruktur pasokan air Kota Gaza saat ini terganggu. Para pekerja di lapangan mengatakan bahwa kerusakan tersebut bersifat sistemik dan disengaja.
Baca juga : “Israel Gunakan Air Sebagai Senjata Perang di Gaza“
“Pendudukan telah menghancurkan lebih dari 72 sumur air di Kota Gaza,” kata Hosny Afana, juru bicara pemerintah kota, kepada Al Jazeera. “Lebih dari 150.000 meter jaringan air telah hancur, bersama dengan empat waduk utama. Sistem air telah hancur parah.”
Upaya untuk memulihkan jaringan tersebut secara aktif terhambat oleh perintah militer Israel:
- Hambatan Garis Kuning: Perbaikan jalur pasokan air Mekorot yang sangat penting terhenti karena infrastruktur tersebut terletak di sebelah timur “Garis Kuning”. Garis tersebut telah membatasi wilayah Gaza di bawah kendali militer Israel.
- Larangan barang dengan kegunaan ganda: Israel mengklasifikasikan banyak komponen dasar yang berfungsi untuk memperbaiki sistem air dan sanitasi sebagai barang dengan “kegunaan ganda”. Hal ini memungkinkan otoritas Israel untuk secara sistematis memblokir masuknya komponen-komponen tersebut ke wilayah yang terkepung dengan alasan keamanan yang tidak jelas.
Kurangnya air bersih mempercepat krisis kesehatan masyarakat yang parah di seluruh Gaza. Para dokter melaporkan peningkatan tajam dalam kasus dehidrasi parah, komplikasi ginjal, dan penyakit yang ditularkan melalui air secara luas.
Sebuah laporan dari Program Lingkungan PBB sebelumnya telah memperingatkan bahwa runtuhnya infrastruktur pengolahan limbah dan sistem perpipaan Gaza kemungkinan telah menyebabkan kontaminasi parah pada akuifer bawah tanah yang memasok air ke sebagian besar wilayah tersebut.
Selain itu, para pejabat Palestina telah menyoroti bahwa penghancuran jaringan air dan sanitasi yang Israel sengaja lakukan telah meracuni air tanah dan perairan pesisir. Kondisi ini memperparah dampak buruk dari kampanye genosida. Akibatnya, keluarga Palestina terpaksa untuk mengonsumsi air yang berbahaya dan tercemar karena mereka tidak punya pilihan lain.
Sumber: Al Jazeera








