Pada Rabu (11/03), PBB memperingatkan bahwa lebih dari 1.500 warga Palestina telah mengungsi di Tepi Barat pada awal 2026. Jumlah ini telah mencapai 90% dari total angka yang tercatat sepanjang tahun 2025.
Mengutip Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan dalam konferensi pers bahwa “angka baru menunjukkan lebih dari 180 warga Palestina telah mengungsi akibat serangan pemukim dan pembatasan akses di seluruh Tepi Barat sejak awal eskalasi regional.” Akibatnya, “jumlah total warga Palestina yang mengungsi hingga saat ini mencapai lebih dari 1.500 orang. Jumlah ini mencapai 90% dari total sepanjang tahun lalu.”
Baca juga : “818 Warga Tepi Barat Mengungsi Sepanjang Januari 2026“
“Akses warga Palestina ke tempat kerja dan tempat mereka menerima layanan terus terhambat. Sebab, ada pembatasan pergerakan yang semakin ketat oleh pasukan keamanan Israel,” katanya.
Ia mencatat bahwa pembatasan Israel tersebut “sebagian besar menghambat pergerakan antarkota. Hal ini membuat gerbang besi di pintu masuk banyak desa tetap tertutup.” Ia menambahkan bahwa “tingkat kekerasan yang tinggi masih terus berlanjut.”
Lebih lanjut ia menekankan bahwa “lebih dari 40% dari mereka yang mengungsi adalah anak-anak. Pengungsian telah memperdalam ketergantungan masyarakat pada bantuan kemanusiaan dan seringkali berdampak pada hilangnya mata pencaharian ekonomi.”
OCHA kembali menyerukan “perlindungan bagi warga Palestina di Tepi Barat. Mereka juga mendesak pertanggungjawaban para pelaku kekerasan terhadap warga Palestina.”
Mengenai situasi di Jalur Gaza, Dujarric mengecam “pembatasan berkelanjutan Israel terhadap operasi bantuan.” Menurutnya, tindakan Israel “memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah kritis.”
“Salah satu contoh yang dapat kami bagikan kepada Anda hari ini adalah tentang meningkatnya jumlah kerusakan generator di rumah sakit. Ini terjadi karena kurangnya suku cadang dan oli pelumas,” katanya.
Dujarric juga melaporkan “tingkat infeksi yang tinggi akibat serangga yang terjadi di banyak lokasi pengungsian di seluruh Gaza. Hampir 23.000 kasus tercatat pada bulan lalu saja.” Sementara itu, pasokan perlengkapan kebersihan, insektisida, dan pengobatan kudis tetap sangat rendah, sehingga membatasi kemampuan tenaga medis untuk menanggulanginya.
Sumber: Middle East Monitor








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)