Pendidikan Islam untuk anak-anak berkaitan erat dengan fitrah yang telah Allah ciptakan pada diri setiap orang termasuk anak-anak. Pada keadaan fitrah itulah pendidikan bermula dan berakhir. Secara bahasa, fitrah adalah “الشَّقُّ طُولًا” atau belahan yang memanjang. Maka, fitrah bukanlah keadaan netral ataupun kosong pada setiap jiwa anak, tetapi justru telah Allah bentuk arahnya, telah ada tujuan penciptaannya, dan telah dipersiapkan dengan fungsi tertentu.
Ulama dan seorang pakar linguistik Al-Qur’an asal Baghdad, Ar-Raghib Al-Ashfahani, mengatakan fitrah Allah merupakan hal-hal yang telah Allah tanamkan dan letakkan dalam diri manusia berupa pengetahuan tentang-Nya (ma’rifatullah). Fitrah Allah juga merupakan kekuatan yang Allah tanamkan untuk mengenal dan menerima iman. Dengan demikian, anak-anak bukanlah lembaran kosong yang bebas untuk diberi warna semaunya, tapi telah ada benih iman yang Allah tanamkan sejak awal penciptaannya. Dalam jiwanya telah ada kecenderungan yang menginginkan keimanan, tetapi tentu saja perlu diarahkan oleh orang tua dan para pendidik di sekitarnya.
Momentum Ramadan ini menjadi waktu terbaik, bukan hanya untuk meminta anak belajar menahan lapar dan dahaga, melainkan yang lebih utama adalah membimbing anak untuk belajar bersabar, belajar mengelola emosi, belajar berbagi dan berempati, dan tentu saja belajar taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam proses berpuasa ini. Ketika anak-anak bertanya “Kenapa harus puasa?” sesederhana kita menjawabnya “Untuk taat kepada Allah dan mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah, karena begitulah Allah memerintahkan kita setiap datangnya bulan Ramadan”.
Persiapan dengan hati yang riang gembira

Bulan suci Ramadan seharusnya disambut dengan riang gembira sebagaimana tamu istimewa yang dinanti-nantikan. Hal ini merupakan poin penting tetapi terkadang terlewat oleh kita sebagai orang dewasa. Ketika puasa dilihat melalui kacamata haus dan lapar saja, maka akan ada rasa khawatir “Apakah anak saya akan kuat?” “Apakah ini baik untuk kesehatan anak saya?” dan tanda tanya lainnya yang bernada keraguan. Padahal hal yang utama sebagaimana yang diajarkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum, adalah menyambut bulan Ramadan dengan penuh suka cita, hati yang riang gembira, bahwa telah datang bulannya Al-Qur`an, telah datang bulan yang penuh ampunan, bulan yang di dalamnya ada malam lailatulqadar.
Menanamkan kegembiraan dalam menyambut Ramadan pada anak dapat dimulai dengan menyampaikan kisah puasa Ramadan Rasulullah ﷺ dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan mata yang berbinar-binar, dilanjutkan dengan membuat hiasan-hiasan ala Ramadan untuk mewarnai rumah atau kamar mereka. Mempersiapkan menu sahur dan berbuka sesuai keinginan mereka dengan tetap memperhatikan nutrisinya, menyiapkan hadiah sederhana untuk diberikan kepada mereka, sebagaimana yang Rasulullah ﷺ sabdakan:
أَفْضَلُ دِينارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ، دِينارٌ يُنْفِقُهُ علَى عِيالِهِ…
“Dinar yang paling utama adalah dinar yang dibelanjakan seseorang untuk keluarganya…”
(HR. Muslim)
Bantu anak-anak membayangkan sebuah pohon pahala yang terus bertumbuh setiap kali mereka menahan lapar, menahan marah, dan menunggu waktu berbuka dengan mengisinya dengan doa, sehingga sabar tidak lagi terasa abstrak, tetapi dapat mereka “lihat” dalam imajinasi mereka.
Orang tua juga harus senantiasa sadar bahwa meskipun amalan harian seperti tilawah Al-Quran memang menjadi amalan unggulan selama Ramadan, jangan lupakan bahwa mendidik anak-anak dan membersamai hari-hari puasa mereka juga merupakan kewajiban yang tak terelakkan. Maka, hindari bersikap sibuk sendiri mengejar target amalan harian sementara anak-anak dibiarkan merasa lapar, haus, dan bosan, padahal mainan terbaik seorang anak adalah kehadiran orang tuanya. Untuk mengalihkan rasa lapar, haus, dan bosan, orang tua dapat mengajak anak untuk membaca bersama, menggambar, mewarnai, atau pun aktivitas lainnya.
Para Sahabiyah membersamai anak mereka pada Ramadan

Sahabiyah Rubayyi’ binti Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha menuturkan bagaimana para sahabiyah radhiyallahu ‘anhunna membersamai anak-anak mereka berpuasa pada zaman Rasulullah ﷺ:
(…) فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ، ونُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، ونَجْعَلُ لهمُ اللُّعْبَةَ مِنَ العِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أحَدُهُمْ علَى الطَّعَامِ، أعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حتَّى يَكونَ عِنْدَ الإفْطَارِ
“Maka setelah itu kami berpuasa (pada hari tersebut), dan kami juga melatih anak-anak kami untuk berpuasa. Kami membuatkan untuk mereka mainan dari wol. Jika salah seorang dari mereka menangis karena ingin makan, kami berikan mainan itu kepadanya sampai tiba waktu berbuka.” (HR. Bukhari)
Hadis tersebut menerangkan bahwa para sahabat dan sahabiyah terbiasa melatih anak-anak mereka untuk berpuasa dengan tidak lupa untuk menyediakan permainan yang dapat membantu anak untuk sejenak melupakan dahaga mereka sehingga dapat melanjutkan puasa hingga waktu berbuka. Tentu saja upaya ini harus dibarengan dengan memohon pertolongan Allah dalam menunaikan ibadah bersama keluarga.
Imam At-Tabari dalam kitab tafsirnya, Jami’ul Bayan, menjelaskan bahwa pada fase awal turunnya kewajiban Ramadan, orang yang sebenarnya mampu berpuasa masih diberi pilihan untuk berpuasa atau tidak–untuk kemudian diganti dengan kewajiban membayar fidyah, yaitu memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Namun ketentuan ini tidak berlangsung lama. Allah kemudian menurunkan ayat:
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Barang siapa di antara kalian menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
At-Tabari menyimpulkan bahwa ayat ini menghapus pilihan sebelumnya. Sejak itu, puasa Ramadan menjadi kewajiban penuh bagi setiap muslim yang mampu, tanpa opsi menggantinya dengan fidyah, kecuali bagi yang benar-benar tidak mampu seperti orang tua renta atau sakit menahun.
Hal ini memperlihatkan bahwa kewajiban besar seperti puasa pun disyariatkan melalui proses bertahap, sebuah metode pendidikan yang dapat kita tiru dalam mendidik anak-anak kita untuk berpuasa, yaitu dengan cara bertahap. Misalnya, dengan terlebih dulu dibangunkan saat sahur agar dapat ikut sahur bersama keluarga, lalu mulai berpuasa hingga zuhur. Namun, sebaiknya jangan mengatakan “setelah Zuhur puasanya dilanjutkan lagi” karena kewajiban puasa harus ditunaikan hingga Magrib. Biarkan anak mengetahui konsep puasa terlebih dahulu, seperti sahur, menahan lapar dan haus, belajar bersabar, dan juga hal-hal yang membatalkan puasa.
Memperhatikan asupan jasmani dan rohani

Di antara hal yang tidak kalah penting adalah menyiapkan menu sahur dan berbuka yang kaya akan protein dan nutrisi agar puasa lebih bertenaga dan anak-anak tetap aktif menjalani aktivitasnya sepanjang hari. Puasa bukan berarti tubuh dibiarkan lemah tanpa persiapan. Justru di sinilah peran orang tua hadir, yaitu untuk memastikan energi mereka cukup, cairan terpenuhi, dan asupan gizinya seimbang.
Sahur yang mengandung protein seperti telur, ikan, ayam, atau kacang-kacangan membantu rasa kenyang bertahan lebih lama. Karbohidrat kompleks dan buah-buahan dapat menjaga anak agar tidak mudah lemas atau rewel pada siang hari. Sementara pada saat berbuka, awali dengan yang ringan dan manis secukupnya, lalu lanjutkan dengan makanan bergizi agar tubuh kembali pulih dengan baik.
Menyiapkan makanan yang tepat bukan sekadar urusan dapur, tetapi bagian dari ikhtiar mendidik anak agar merasakan bahwa Ramadan adalah ibadah yang dijalani dengan kesiapan, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Selain memperhatikan kebutuhan jasmani, hendaknya orang tua juga memperhatikan asupan rohani anak. Kisahkan kepada anak-anak tentang betapa istimewanya kedudukan Ramadan. Ia adalah satu-satunya nama bulan yang disebutkan di dalam Al-Qur`an dan pada bulan Ramadan pula Al-Qur`an diturunkan. Kisahkan kepada anak-anak bahwa siapa pun dan apa pun yang terikat dengan Al-Qur`an pasti akan Allah istimewakan dan muliakan, sebagaimana malam diturunkannya Al-Qur`an disebut dengan “Lailatulqadar” atau malam kemuliaan. Kisahkan pula kepada anak-anak tentang keagungan malam ini.
Semoga dengan dikisahkannya keistimewaan Ramadan dan keterkaitan kemuliaan Ramadan dengan Al-Qur’an dapat menambah motivasi bagi anak-anak untuk berinteraksi lebih lekat dengan Al-Qur`an di bulan Ramadan ini.
Selain menyampaikan keterkaitan Ramadan dengan Al-Qur’an, orang tua juga dapat menyampaikan bahwa bulan Ramadan ternyata juga merupakan bulan berbagi terhadap sesama. Ajaklah anak-anak untuk menyiapkan iftar gratis bagi orang sekitar yang berbuka puasa, sampaikan kepada anak-anak tentang besarnya ganjaran berbagi di sisi Allah, sebagaimana yang Rasulullah ﷺ sampaikan:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barang siapa memberi makan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Tirmidzi).
Membiasakan anak untuk berbagi atau bersedekah dapat mengasah jiwa sosial mereka dan melatih kepekaan mereka terhadap kebutuhan orang lain, menumbuhkan empati sejak dini, serta membiasakan tangan mereka agar ringan dalam berbagi tanpa menuntut balasan dari manusia, cukup Allah yang mencatatnya sebagai amal salih.
Pada akhirnya, mendampingi anak-anak berpuasa memang membutuhkan usaha lebih dari orang tua; bukan hanya pendampingan secara emosional agar mereka kuat dan bersabar, melainkan juga kehadiran nyata kita untuk mengisi waktu-waktu mereka, mengalihkan perhatian dari rasa haus dan lapar, serta membawa mereka ke masjid, kajian atau tempat lainnya yang kental dengan nuansa Ramadan.
Allahu a’lam bishshawwab.
Isma Muhsonah Sunman, S.Ag., M. Pd.
Dosen STAI DI Al-Hikmah Jakarta dan Pengajar Al-Qur`an di Syifaur Rahman Islamic Club Bogor.








