Para aktivis pro-Palestina, berkoordinasi dengan organisasi masyarakat sipil, sedang mempersiapkan peluncuran inisiatif maritim gabungan baru ke Gaza. Perjalanan yang akan menggabungkan gerakan “Freedom Flotilla” dan “Sumud Convoy” ini akan melibatkan 200 kapal yang bertujuan untuk menembus blokade di Jalur Gaza. Keberangkatan ratusan kapal ini terjadwal pada 12 April.
Bulent Yildirim, kepala Yayasan Bantuan Kemanusiaan IHH Turki, mengatakan kepada Al-Araby Al-Jadeed pada Kamis (26/02) bahwa mereka akan mengumpulkan sumbangan dari Eropa, Asia, Afrika, Turki, Teluk, dan seluruh dunia. Pengumpulan sumbangan tersebut bertujuan untuk mendanai pembelian kapal-kapal. Ia mengatakan bahwa mengumpulkan armada 200 kapal akan mempersulit Israel untuk menghentikannya, seraya menekankan bahwa “tidak ada pilihan selain laut.”
Baca juga : “Freedom Flotilla: Israel Terus Menyandera 8 Aktivis Kapal Madleen”
Mereka berharap inisiatif ini akan mendapat dukungan dari sekitar 200 organisasi masyarakat sipil. Dukungan tersebut termasuk dari Asosiasi Kebebasan dan Solidaritas Mavi Marmara, IHH, dan Platform Dukungan Palestina. Rencananya, konvoi akan berlayar dari pelabuhan-pelabuhan Mediterania, khususnya dari Spanyol, Italia, dan Tunisia, serta diikuti oleh ribuan peserta dari 150 negara.
Misi ini bukan sekadar pemberian bantuan kemanusiaan ke Gaza, melainkan juga pengiriman petugas kesehatan, guru, tim teknik infrastruktur dan lingkungan, pengacara, serta penyelidik kejahatan perang. Lebih dari 1.000 dokter, perawat, dan tenaga medis rencananya akan berpartisipasi.
Pada Oktober tahun lalu, pasukan Israel menyita 41 kapal yang membawa sekitar 400 peserta dari Global Resilience Flotilla yang menuju Gaza untuk menerobos blokade. Armada tersebut melaporkan penyerangan oleh sekitar 10 kapal Israel. Mereka segera mengeluarkan panggilan darurat setelah Israel mencegat mereka di perairan internasional. Para peserta menggambarkan eskalasi tersebut sebagai “kejahatan perang.”
Pelayaran tersebut menandai bahwa untuk pertama kalinya sejumlah besar kapal berlayar bersama menuju Gaza, rumah bagi sekitar 2,4 juta warga Palestina. Perjalanan ini merupakan upaya kolektif untuk mematahkan blokade Israel yang telah berlangsung selama 18 tahun.
Freedom Flotilla sebelumnya pernah mencoba menerobos blokade pada 2010. Saat itu, pasukan Israel mencegat dan menyerang kapal Mavi Marmara, mengakibatkan kematian dan luka-luka beberapa aktivis dan warga sipil Turki. Insiden tersebut menyebabkan krisis diplomatik antara Turki dan Israel. Konflik tersebut berakhir beberapa tahun kemudian dengan permintaan maaf Israel dan kompensasi kepada keluarga korban.
Sumber: Palinfo, The Palestine Chronicle








