Di seluruh Gaza, ribuan janda menjalani Ramadan tanpa suami mereka. Mereka terpaksa berperan sebagai satu-satunya pencari nafkah di wilayah yang sudah hancur akibat genosida selama berbulan-bulan. Ramadan yang dulunya merupakan momen berkumpul, berdoa, dan berbagi, kini berubah menjadi pengingat akan kehilangan.
Sejak Oktober 2023, genosida Israel di Gaza telah membunuh lebih dari 72.000 warga Palestina. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, perempuan dan anak-anak merupakan sebagian besar korban. Selain banyaknya perempuan yang terbunuh, banyak pula perempuan yang menjadi janda sehingga harus berjuang untuk bertahan hidup dan memperjuangkan anak-anak mereka yang tumbuh tanpa ayah.
Sebelumnya, para perempuan ini berbagi tanggung jawab rumah tangga dan keuangan dengan pasangan hidup mereka. Namun, kini mereka terpaksa memikul beban sendirian untuk memenuhi kebutuhan anak-anak. Mereka menyediakan makanan, merawat anak-anak yang trauma, dan menjalani kehidupan sehari-hari tanpa stabilitas keuangan.
Baca juga : “Perempuan Tawanan Palestina Jalani Bulan Ramadan Tanpa Hak Dasar“
Menurut otoritas kesehatan Palestina, lebih dari 16.000 perempuan telah menjadi janda di Gaza. Di samping itu, lebih dari 44.000 anak menjadi yatim sebagai akibat dari genosida Israel.
Sebelum genosida, para janda dan anak yatim di Gaza bergantung pada jaringan bantuan yang kecil namun sangat penting. Bantuan keuangan yang terbatas—jika tersedia—membantu para perempuan untuk bertahan hidup setelah kehilangan pendapatan secara tiba-tiba. Selain itu, inisiatif lokal menawarkan sesi konseling, lokakarya peningkatan keterampilan, dan kegiatan komunitas.
Namun, sejak Oktober 2023, beberapa lembaga lokal dan internasional yang dulunya menawarkan bantuan telah Israel hancurkan. Selain itu, beberapa lembaga terpaksa menghentikan layanan mereka karena genosida.
Sumber: Quds News Network








