Pada hari ini di tahun 1994, seorang dokter militer Israel kelahiran AS memasuki Masjid Ibrahimi di Al-Khalil (Hebron) dan membawa senjata berupa senapan. Itu adalah pagi di bulan suci Ramadan, ketika ratusan orang Palestina berkumpul di dalam Masjid Ibrahimi.
Baruch Goldstein, yang telah pindah ke Israel pada 1983 dan tinggal di permukiman Kiryat Arba dekat kota, mulai menembaki jamaah saat mereka rukuk. Dia terus menembak hingga berhasil dilumpuhkan dan dipukuli hingga tewas. Pada akhir serangan, sebanyak 29 orang di dalam masjid telah meninggal dan lebih dari 100 terluka.
Pemerintah Israel dengan cepat mengutuk serangan itu. Ia menyatakan bahwa Goldstein telah bertindak sendiri dan menggambarkannya sebagai orang yang memiliki masalah mental.
Meskipun pembantaian itu mendapat liputan dari media internasional, banyak orang Palestina berpendapat bahwa laporan lengkap tentang apa yang terjadi tidak pernah terungkap.
Pembantaian Masjid Ibrahimi Renggut Puluhan Korban Jiwa
Menurut sumber-sumber setempat, 29 orang yang meninggal di dalam masjid bukanlah jumlah terakhir dari korban yang terbunuh dalam serangan itu. Mereka memperkirakan total korban berkisar antara 50 dan 70, dengan sekitar 250 orang terluka secara keseluruhan.
Setelah penembakan di dalam masjid, warga Palestina lainnya terbunuh oleh pasukan Israel selama protes di luar masjid, dekat Rumah Sakit Ahli Al-Khalil, dan bahkan ada yang terbunuh selama prosesi pemakaman.
Beberapa orang yang selamat juga mengklaim bahwa ada keterlibatan seorang pria bersenjata lainnya. Mereka beranggapan bahwa serangan itu telah direncanakan sebelumnya dan diketahui oleh militer Israel. Banyak masyarakat menolak anggapan bahwa Goldstein bertindak sepenuhnya sendirian.
Sebagai akibat dari peristiwa itu, pemerintah Israel memerintahkan 520 bisnis milik Palestina untuk ditutup. Jalan Shuhada dan jalan raya utama kota, juga kemudian ditutup.
Goldstein adalah pengikut rabbi ekstremis Meir Kahane, seorang pemimpin Yahudi Ortodoks kelahiran Amerika yang mendirikan partai Kach pada 1971. Kach mempromosikan pemindahan paksa warga Palestina dari Israel dan wilayah Palestina.
Bagi banyak warga Palestina, pembantaian itu menggarisbawahi bahaya yang terkait dengan perluasan permukiman Israel. Sejak itu, kehidupan sehari-hari di Al-Khalil — terutama di Kota Tua — menjadi semakin sulit, terutama karena penutupan sebagian besar Jalan Shuhada, akses utama warga Al-Khalil.
Sumber : Wafa







