Otoritas Energi Gaza melaporkan bahwa sektor gas untuk memasak tengah menghadapi situasi yang sangat sulit akibat pembatasan pasokan gas oleh Israel. Kepala Otoritas Energi, Iyad al-Shurbaji, mencatat bahwa kebutuhan gas minimum penduduk Gaza adalah sekitar 8.000 ton per bulan. Dengan kata lain, penduduk Gaza membutuhkan sekitar 260 ton gas per hari.
Shurbaji menyampaikan pernyataan tersebut pada Kamis (12/02) dalam simposium media dari Forum Jurnalis Palestina. Simposium tersebut bertujuan untuk membahas perkembangan di sektor energi dan krisis bahan bakar di Jalur Gaza. Ia menjelaskan bahwa tingkat ketercapaian pasokan gas untuk memasak pada saat ini tidak lebih dari 20 persen dari kebutuhan bulanan penduduk Gaza. Jumlah ini tidak meningkat, bahkan setelah adanya perbaikan baru-baru ini.
Shurbaji menambahkan bahwa selama empat bulan terakhir, hanya ada 361 truk berisi gas yang mendapatkan izin untuk memasuki Jalur Gaza. Truk-truk tersebut membawa sekitar 7.000 ton gas LPG. Jumlah yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk Gaza selama kurang dari satu bulan.
Mengenai krisis bahan bakar, pejabat Palestina tersebut mengatakan bahwa sebelum genosida, kebutuhan bulanan Jalur Gaza adalah sekitar 30 juta liter bahan bakar. Akan tetapi, pasokan yang ada hanya berkisar antara satu hingga tiga juta liter per bulan. Dengan kata lain, jumlah tersebut hanya mencakup antara 3 hingga 10 persen dari kebutuhan sebenarnya. Ia mencatat bahwa pasokan bahan bakar yang terbatas memaksa mereka untuk memprioritaskan rumah sakit, toko roti, dan fasilitas vital melalui mekanisme yang berada di bawah pengawasan badan PBB.
Sumber: Palinfo








