• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

Menilai Realitas Gencatan Senjata di Tengah Krisis yang Tak Berakhir

by Adara Relief International
November 19, 2025
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 6 mins read
0 0
0
Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]

Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]

3.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Gencatan senjata yang diumumkan di Jalur Gaza sejak satu bulan lalu terbukti begitu rapuh. Selama periode tersebut, Israel berulang kali melanggar perjanjian dengan serangan yang hampir terjadi setiap hari. Rentetan serangan ini kembali menimbulkan gelombang korban jiwa dan luka-luka. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, setidaknya 242 orang telah terbunuh dan 622 lainnya terluka. Puncak serangan terjadi pada 19 dan 29 Oktober yang membunuh total 154 orang dalam dua hari. Harapan bahwa gencatan senjata dapat menjadi jeda yang memberi sedikit kelegaan bagi masyarakat Gaza pun sirna, berganti dengan kenyataan pahit bahwa kekerasan belum benar-benar berhenti.

Grafik jumlah korban yang terbunuh dan terluka selama satu bulan diberlakukannya gencatan senjata [Al Jazeera]
Grafik jumlah korban yang terbunuh dan terluka selama satu bulan diberlakukannya gencatan senjata [Al Jazeera]
Kantor Media Pemerintah di Gaza melaporkan bahwa Israel telah melanggar perjanjian gencatan senjata setidaknya 282 kali sejak 10 Oktober hingga 10 November, baik melalui serangan udara, artileri, maupun tembakan langsung yang terus berlanjut. Aljazeera News melaporkan bahwa dalam periode tersebut Israel menembaki warga sipil sebanyak 88 kali, 12 kali menyerbu permukiman di luar “garis kuning”, dan menghancurkan infrastruktur yang masih tersedia sebanyak 52 kali. Tidak berhenti sampai di situ, Israel juga memblokir akses masuk bantuan kemanusiaan yang mereka janjikan akan terbuka penuh sepanjang masa gencatan senjata. Semua hal ini menjadikan situasi yang dihadapi masyarakat Gaza serupa lingkaran setan yang terus menyebabkan krisis kemanusiaan.

Gencatan Senjata yang Tidak Memulihkan Perut Lapar

Alih-alih menjadi momen untuk memulihkan kehidupan yang hancur, jutaan masyarakat Gaza masih berjuang untuk keluar dari cengkeraman kelaparan yang parah, meski gencatan senjata telah terjadi. Setiap hari mereka masih berupaya keras untuk memperoleh makanan demi mengganjal rasa lapar karena ketersedian bahan pangan yang masih sangat terbatas. 

Faktanya, gencatan senjata tidak menghalangi Israel untuk tetap memberlakukan blokade ketat dan bahkan menyaring jenis barang yang diizinkan masuk. Lebih dari 350 jenis makanan penting dan bergizi, seperti daging, susu, biji-bijian, dan sayuran dilarang masuk ke Gaza. Meskipun beberapa jenis buah dan sayur diizinkan, harganya sangat mahal sehingga sulit dijangkau warga. 

Sebaliknya, berbagai makanan yang tidak bergizi, seperti makanan ringan, cokelat, keripik, dan minuman soda justru diperbolehkan memasuki Gaza. Akibatnya, masyarakat tetap tidak dapat memenuhi nilai gizi minimum yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan lansia. Berdasarkan data Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC), sedikitnya 100.000 perempuan dan anak-anak kini menderita malnutrisi akut yang parah, dengan total keseluruhan kasus mencapai 11,38 persen dari populasi terdampak. 

Gencatan senjata yang telah berlaku selama lebih dari sebulan belum bisa memulihkan kelaparan yang terjadi di Gaza. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan bahan bakar dan gas, yang membuat lebih dari 60 persen rumah tangga harus membakar limbah untuk memasak makanan mereka (OCHA, November 2025). Dengan kata lain, sekalipun senjata berhenti menyalak, perut masyarakat Gaza tetap dibiarkan kosong dalam sunyi.

Gencatan Senjata, tetapi Air Masih Langka

Dua tahun agresi di Gaza bukan hanya merenggut kenikmatan sumber pangan, meratakan seluruh permukiman, dan menghancurkan berbagai fasilitas, tetapi juga meracuni tanah dan air yang menjadi sandaran hidup utama penduduk di dalamnya. Gencatan senjata rapuh ini turut memperlihatkan skala kerusakan lingkungan dengan semakin jelas. 

Juru Bicara Pemerintah Kota Gaza, Hosni Muhanna, mengatakan bahwa sebagian besar air yang saat ini mencapai Gaza jumlahnya tidak lebih dari 15 persen dari kebutuhan aktual total penduduk. Sementara, jumlah air yang dibutuhkan untuk lebih dari 2 juta penduduk Gaza adalah sekitar 100.000 meter kubik setiap harinya. Adapun untuk setiap orangnya, data pekanan OCHA pada November 2025 menyebutkan bahwa 49% penduduk di Gaza saat ini hanya dapat mengakses air bersih kurang dari standar minimum darurat, yaitu hanya 6 Liter setiap orang per harinya untuk kebutuhan minum dan memasak.

Anak-anak Palestina mengisi botol plastik dengan air di kamp pengungsian Palestina, di salah satu sekolah yang dijadikan tempat penampungan di lingkungan Remal, Kota Gaza [Omar Al Qatta / Al Jazeera]
Anak-anak Palestina mengisi botol plastik dengan air di kamp pengungsian Palestina, di salah satu sekolah yang dijadikan tempat penampungan di lingkungan Remal, Kota Gaza [Omar Al Qatta / Al Jazeera]
Kurangnya air bersih memaksa jutaan masyarakat untuk mencari alternatif lain, yaitu dengan mengumpulkan air dari genangan, menampung tetesan air dari truk dan sumur yang telah tercemar dan terkontaminasi. Tidak ada pilihan lain bagi mereka untuk memperoleh air, meskipun mereka sepenuhnya menyadari bahwa apa yang dilakukan tidak menutupi permasalahan, tetapi memicu munculnya masalah baru, yaitu wabah penyakit, terutama di kalangan anak-anak, serta terciptanya sanitasi yang buruk.

Gencatan Senjata Tanpa Atap untuk Bernaung

Sebulan sejak gencatan senjata diumumkan, sebagian penduduk Gaza mulai kembali ke rumah mereka—namun yang mereka temukan hanyalah puing-puing dan kenangan yang tertimbun di bawah reruntuhan. Tidak ada lagi tembok kokoh yang melindungi, hanya debu yang bertebangan dan sisa-sisa kehidupan yang pernah mereka bangun dengan penuh harapan. 

Keadaan ini memaksa banyak keluarga untuk menetap di tenda-tenda darurat atau mencoba membangun tempat tinggal seadanya di antara reruntuhan. Definisi rumah tempat bernaung di Gaza kini hanyalah tenda sederhana yang tak mampu melindungi mereka dari hujan, angin, dan cuaca dingin yang menggigit.

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Seorang perempuan Palestina sedang menunjukkan bagian tendanya yang robek di tengah momen gencatan senjata [REUTERS/Mahmoud Issa Hak]
Seorang perempuan Palestina sedang menunjukkan bagian tendanya yang robek di tengah momen gencatan senjata [REUTERS/Mahmoud Issa Hak]
Tenda di kamp pengungsian yang mereka sebut sebagai “rumah untuk berlindung” hanya seluas 20 meter persegi dan rata-rata dihuni oleh 10 orang. Artinya, setiap individu hanya memiliki sekitar 2 meter persegi ruang pribadi—jauh di bawah standar minimum yang UNHCR rekomendasikan, yaitu sekitar 3,5 meter persegi per orang dengan tinggi ruang minimal 2 meter untuk memastikan sirkulasi udara yang layak (Al Jazeera, 2025).

Ilustrasi susunan dalam tenda darurat di Gaza [Foto: Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera]
Ilustrasi susunan dalam tenda darurat di Gaza [Foto: Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera]
Tenda ini begitu sederhana; dibuat dari potongan kain dan ditopang oleh tali serta tiang logam dan kayu. Tenda didesain seideal mungkin, meski tidak ada pembatas antara satu keluarga dengan keluarga yang lainnya, serta antara ruangan yang satu dan ruangan yang lainnya. Namun, banyak dari tenda tersebut telah rusak dan koyak, sebab telah mereka gunakan selama dua tahun agresi dan tidak lagi mampu melindungi penghuninya dari serpihan peluru dan musim dingin yang sebentar lagi akan tiba. 

Setidaknya lebih dari 75.000 penduduk Gaza masih berlindung di bawah tenda pengungsian–banyak juga di antaranya berada di gedung bantuan UNRWA. Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza (GMO), sekitar 2 juta dari 2,4 juta penduduk di Jalur Gaza telah mengungsi selama dua tahun terakhir akibat agresi. Hampir 280.000 di antaranya benar-benar kehilangan tempat tinggal, terpaksa berjuang untuk bertahan hidup di bawah tenda-tenda pengungsian yang padat. Sebulan setelah gencatan senjata diumumkan, bukan berarti mereka bisa benar-benar bebas. Masyarakat Gaza saat ini masih terus berjuang bertahan hidup di bawah tenda-tenda yang rapuh, di tengah harapan akan hari yang lebih tenang.

Gencatan Senjata Belum Bisa Melindungi Anak dan Perempuan Seutuhnya

Anak dan perempuan merupakan kelompok yang paling rentan serta kerap menjadi sasaran empuk dalam kekerasan dan serangan yang tak mengenal batas. Data menunjukkan setidaknya 18.592 korban agresi di Gaza merupakan anak-anak dan 12.400 lainnya adalah perempuan (PCBS, November 2025). 

Kelompok rentan ini telah menanggung beban agresi yang tak tertahankan. Banyak yang terbunuh di antara mereka, ada pula yang mengungsi, memikul tanggung jawab baru sebagai ibu tunggal, dan berupaya keras mempertahankan keluarga mereka di tengah kehancuran dan kelaparan. Berdasarkan laporan UN Women (Oktober 2025), satu dari tujuh keluarga di Gaza kini dipimpin oleh perempuan, dan sebagian besar dari mereka telah mengungsi berkali-kali.

Seorang perempuan sedang memberi makan anaknya di depan tenda mereka di kamp pengungsian Kota Gaza bagian barat [UNFPA Palestina]
Seorang perempuan sedang memberi makan anaknya di depan tenda mereka di kamp pengungsian Kota Gaza bagian barat [UNFPA Palestina]
Sebulan setelah diberlakukannya gencatan senjata, anak dan perempuan masih menghadapi tantangan besar untuk memulihkan diri dari luka fisik maupun batin akibat agresi yang berkepanjangan. Perempuan bahkan menghadapi tantangan yang berlapis: kekurangan pangan dan air bersih, sulitnya mengakses layanan kesehatan, serta meningkatnya risiko kekerasan terhadap perempuan. Data terbaru menunjukkan satu dari empat perempuan tidak memiliki akses untuk mendapatkan layanan kesehatan reproduksi, dan sekitar 700.000 perempuan menghadapi kesulitan dalam mengelola menstruasi karena keterbatasan fasilitas (UN Women, Oktober 2025). Mereka bukan hanya membutuhkan makanan dan air bersih, tetapi juga perawatan medis, obat-obatan, dan saran kebersihan dasar yang layak.

Dukungan Kemanusiaan dari Adara untuk Gaza di Tengah “Gencatan Senjata yang Rapuh”

Gencatan senjata mungkin memberi jeda untuk bernapas lebih lega atau bergerak sedikit lebih leluasa, namun penderitaan di Gaza belum berakhir. Skala kehancuran yang luar biasa besar dan ditambah dengan adanya pelanggaran yang dilakukan Israel selama gencatan senjata, membuktikan bahwa krisis kemanusiaan di sana masih jauh dari kata usai. Persoalan ketersediaan pangan, tempat tinggal, dan pasokan medis yang sangat dasar saja belum dapat teratasi, apalagi hal lain yang lebih “mewah” seperti bahan bakar dan alat berat untuk mengurai kerusakan.   

Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini, Adara Relief International terus berupaya hadir untuk masyarakat Gaza dengan menyalurkan bantuan dan harapan. Melalui kolaborasi dengan mitra penyalur di lapangan, Adara secara konsisten menyalurkan bantuan yang disesuaikan dengan kebutuhan prioritas masyarakat. Berdasarkan pemantauan dari Site Management Cluster (SMC) Gaza, kebutuhan prioritas yang teridentifikasi saat ini meliputi tempat tinggal, kebutuhan kebersihan pribadi, serta kebutuhan pangan dan air bersih. 

Adapun bentuk dukungan Adara terhadap krisis kemanusiaan yang berlaku di Gaza sampai saat ini di antaranya adalah bantuan pangan, air bersih, kebutuhan darurat anak dan perempuan, serta tenda darurat yang sekaligus disiapkan untuk menghadapi musim dingin.

Potret penyaluran makanan siap saji pada bulan November 2025 yang Adara lakukan dalam mendukung ketahanan pangan di kamp pengungsian Gaza [Dok. Penyaluran Adara, 2025]
Potret penyaluran makanan siap saji pada bulan November 2025 yang Adara lakukan dalam mendukung ketahanan pangan di kamp pengungsian Gaza [Dok. Penyaluran Adara, 2025]
Gencatan senjata yang rapuh telah menyadarkan kita semua bahwa upaya kemanusiaan tidak boleh berhenti pada jeda agresi semata. Ketika masyarakat Gaza masih berjuang untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan pangan, tempat tinggal, dan keamanan, dukungan dari berbagai pihak tetap menjadi kebutuhan mendesak. Selama krisis ini masih berlangsung, Adara terus akan berkomitmen untuk memperkuat intervensi kemanusiaan, memastikan setiap bantuan yang disalurkan mampu menjawab kebutuhan paling mendesak, terutama bagi kelompok rentan seperti anak dan perempuan. 

Melalui dukungan yang berkelanjutan, kita dapat membantu penduduk Gaza untuk menghadapi pergulatan mereka dengan krisis kemanusiaan yang terjadi saat ini. Berkolaborasi dalam memberikan bantuan untuk masyarakat Gaza dapat menjaga nyala harapan mereka agar tetap hidup dan bertahan, meski berada di tengah gencatan senjata yang penuh dengan badai dan belum mampu menghadirkan perlindungan seutuhnya untuk mereka.

Anisa Maisyarah, S.Hum.,M.Si.

Penulis merupakan anggota Departemen Research and Development (RND) Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam (KWTTI) Universitas Indonesia.

Sumber:
Adara Palestine Situation Report
Aljazeera
Anadolu Agency
OCHA OPT
PCBS
Relief Web
Reuters
UNRWA Situation Report
UN Women
UNFPA
UN News

ShareTweetSendShare
Previous Post

Laporan The Economist: Gaza Jadi Wilayah dengan Konsentrasi Ranjau dan Bom Tidak Meledak Tertinggi di Dunia

Next Post

Organisasi Pro-Israel Diduga Fasilitasi Pengusiran Warga Gaza dalam Upaya Pembersihan Etnis

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
20

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
15
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
19
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
24
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
87
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Organisasi Pro-Israel Diduga Fasilitasi Pengusiran Warga Gaza dalam Upaya Pembersihan Etnis

Organisasi Pro-Israel Diduga Fasilitasi Pengusiran Warga Gaza dalam Upaya Pembersihan Etnis

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630