Lembaga HAN Israel, B’Tselem, pada Kamis (25/9) melaporkan bahwa pasukan Israel telah membunuh lebih dari 2.500 warga Palestina dalam beberapa bulan terakhir ketika mereka berusaha mendapatkan bantuan pangan di Gaza utara, wilayah yang kini terjebak dalam kelaparan akut.
B’Tselem merilis sebuah video dari Perlintasan Zikim, satu-satunya jalur masuk bantuan menuju Gaza utara sebelum ditutup pada 12 September. Ribuan warga sipil berjalan berjam-jam untuk mencari makanan, namun justru disambut dengan tembakan. Saksi mata menggambarkan suasana yang kacau; kerumunan orang berlari menuju truk bantuan di bawah hujan peluru, meninggalkan banyak korban terbunuh dan luka, sementara tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka.
Salah satu korban adalah Ahmad Abu Rukbah. Menurut kesaksian saudaranya, Talal, setelah berjam-jam menunggu di dekat Zikim, mereka akhirnya mendapatkan sekarung tepung. Namun, dalam perjalanan pulang, tembakan kembali dilepaskan dan mengenai dada Ahmad. Talal mencoba menghentikan pendarahan dengan bajunya, tetapi Ahmad meninggal seketika.
Sejak Mei, B’Tselem mencatat lebih dari 2.500 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 18.500 lainnya terluka saat berusaha mengakses konvoi bantuan. Organisasi itu menilai Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata dalam genosida yang sedang berlangsung di Gaza.
Pada Juli lalu, B’Tselem bersama Physicians for Human Rights–Israel menyatakan bahwa Israel melakukan genosida dengan menghancurkan masyarakat Palestina dan meruntuhkan sistem kesehatan di Jalur Gaza secara sistematis.
Sejak Oktober 2023, serangan militer Israel telah membunuh lebih dari 65.500 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak. Serangan tanpa henti itu membuat Gaza tidak layak huni, memperparah kelaparan, dan memicu penyebaran penyakit.
Sumber:
Anadolu Agency, MEMO






