• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Hammam al-Samra: Pemandian Berusia 1000 Tahun, Jejak Peninggalan Kesultanan Mamluk dan Imperium Utsmani

Kisah di Balik Situs Bersejarah yang Dihancurkan Israel (Bagian II)

by Adara Relief International
Februari 3, 2024
in Artikel, Jelajah, Sorotan
Reading Time: 5 mins read
0 0
0
Hammam al-Samra: Pemandian Berusia 1000 Tahun, Jejak Peninggalan Kesultanan Mamluk dan Imperium Utsmani

Seorang pria Palestina bersantai di Hamam al-Samra, pemandian uap tradisional, di Gaza. (AFP)

145
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Sepanjang sejarahnya, Gaza telah menjadi rumah bagi sejumlah peradaban. Kota di Palestina ini merupakan tempat persinggahan utama bagi para pedagang dan peziarah. Berbagai situs warisan sejarah berdiri di atas tanahnya sebagai bukti keragaman budaya, mulai dari Romawi dan Utsmani (Ottoman), hingga Tentara Salib dan Kesultanan Mamluk.

Baca Juga

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Namun, agresi demi agresi yang menghantam Gaza telah memberikan dampak buruk terhadap warisan sejarah Gaza, sementara agresi brutal Israel atas nama Operasi Pedang Besi yang terjadi sejak 7 Oktober 2023 hingga saat ini, telah menghancurkan dan menghapus sama sekali jejak sejarah di tanah Gaza.

Maka, pada hari ini, akan mudah untuk mengasosiasikan Gaza dengan kehancuran, puing-puing, dan penderitaan akibat genosida Israel. Anggapan itu tentu tidak sepenuhnya salah, sebab pada 3 November 2023, Program Pembangunan PBB dan Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat (ESCWA) mengumumkan bahwa 45 persen unit perumahan di Gaza telah hancur atau rusak sejak awal agresi Israel terbaru di Gaza. Angka ini terus bertambah dan menurut laporan Reliefweb pada 18 Januari 2024, angka kehancuran tersebut setidaknya telah menyentuh 60 persen.

Jejak sejarah kebanggaan penduduk Palestina yang turut menjadi target serangan Israel adalah Hammam al-Samra, sebuah pemandian kuno yang terletak di lingkungan al-Zaytoun, di Kota Tua Gaza. Pemandian ini merupakan satu-satunya yang tersisa dari lima pemandian kuno yang berada di Gaza. Empat pemandian lainnya, yaitu Pemandian al-Askar, al-Pasha, al-Suwaihi, dan al-Suk, telah hilang. Sayangnya, Hammam al-Samra, pemandian kuno terakhir itu telah dibom Israel pada Desember lalu, sehingga menyebabkan kehancuran totalnya.

Mengenai etimologi Hammam al-Samra, beberapa sejarawan mengatakan bahwa ‘Samra’ mengacu pada orang Samaria, sebuah komunitas Gaza kuno yang tinggal di wilayah tersebut hingga akhir abad ke-16. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa ‘Samra’ juga merujuk pada sesuatu yang berwarna gelap atau coklat. Jadi, namanya juga bisa berarti pemandian berwarna coklat– sebagaimana warna dinding yang tersusun dari tumpukan batu berwarna coklat.

Prosesi zaffa di dalam Hammam al-Samra. Zaffa merupakan tradisi dalam pernikahan tradisional Arab Palestina yang diperuntukkan bagi penari, musisi, keluarga, dan teman untuk menyambut calon pengantin. (Mahmoud Ajjour/The Palestine Chronicle)

Menurut Haji Salim Abdullah al-Wazeer, direktur pemandian tersebut, Hamam al-Samra setidaknya berusia seribu tahun. Tidak ada penanggalan pasti yang menunjukkan tanggal berdirinya Hammam al-Samra. Namun, diperkirakan bangunan tersebut berasal dari masa awal masuknya Islam ke Gaza, tetapi kemudian dibongkar seluruhnya dan mengalami banyak rekonstruksi. Menurut Profesor Farid al-Qeeq, seorang ahli tata kota di Universitas Islam Gaza, pemandian tersebut dihidupkan kembali oleh Alamuddin Sanjar al-Jawli ibn Abdullah, seorang Gubernur Gaza dari Kesultanan Mamluk.

Nama Alamuddin Sanjar tertatah di sebuah batu marmer di pintu masuk Hammam al-Samra: “Pemandian yang diberkati ini didirikan dan dihidupkan kembali oleh hamba Allah yang lemah, saudara dari (Kesultanan) Ayyubiyah, Sanjar ibn Abdullah al-Muayyidi, Penjaga Tabir di Kota Gaza yang dilindungi, semoga Allah menerima orang-orang yang beriman dan semoga Allah mengampuninya.” Tulisan di marmer tersebut juga menunjukkan bahwa rekonstruksi terjadi pada 1320 Masehi (719 H).

Tempat Melepas Penat, Mencari Sehat, dan Kembali Terhubung dengan Sejarah yang Bermartabat

Peneliti sejarah Palestina, Noura Deep mengatakan bahwa Hammam al-Samra merupakan bangunan bersejarah tertua kedua di Jalur Gaza setelah Masjid Agung Omari. “Hammam berusia 1.000 tahun dan menjadi satu-satunya pemandian yang bertahan di kota ini. Lantainya terbuat dari lempengan marmer. Terdiri dari beberapa ruangan dengan suhu bervariasi. Pemandian ini juga memiliki ruang istirahat yang disebut eyvan dan memiliki ruang uap.”

Hammam al-Samra dianggap sebagai salah satu contoh terbaik pemandian di Palestina. Pembangunannya ditandai dengan transisi bertahap dari ruangan panas ke ruangan hangat, dan kemudian ruangan dingin, beratap kubah dengan lubang bundar yang dijalin dengan kaca berwarna yang memungkinkan sinar matahari menembus untuk menerangi aula dengan cahaya alami yang memberikan keindahan tempat itu.

Hamam Al-Samra mengalami berbagai rekonstruksi pada masa Islam hingga memperlihatkan gambaran khas arsitektur Utsmani di Gaza. (Gaza-Palestine.com)

Di bagian bawah Hammam al-Samra terdapat perapian bawah tanah yang tidak terlihat. “Perapiannya masih berbahan bakar kayu, karena ini adalah bahan bakar paling aman yang tersedia di Gaza. Asapnya dialirkan melalui cerobong asap setinggi 15 meter,” ujar Salim al-Wazeer, direktur pemandian.

“Bagian kedua adalah tempat beristirahat. Di situlah pengunjung dapat duduk-duduk di tepi kolam, yang ditutupi kubah kotak-kotak, sehingga memungkinkan masuknya sinar matahari, sekaligus melindungi dari hujan. Sementara, di bagian yang lain terdapat ruang uap yang mencapai 55 derajat celcius,” lanjutnya.

Hammam al-Samra yang bersejarah ini merupakan tempat bagi warga Gaza untuk kembali terkoneksi dengan sejarahnya sekaligus untuk mengusir tekanan psikologis yang mendera mereka akibat perang, blokade, dan pengeboman Israel. Di tempat ini mereka dapat sejenak melupakan kondisi tragis yang mereka hadapi, melepas penat, meregangkan saraf, sekaligus mendapatkan manfaat bagi kesehatan fisik mereka.

Dalam sebuah wawancara, Salman Jundiah, seorang fisioterapis di pemandian tersebut mengatakan, “Orang-orang Gaza selalu menjadi sasaran perang dan kekerasan dari Israel, tetapi kami tidak memiliki banyak pilihan untuk menghibur diri kami. Laut dan pemandian ini adalah dua hal di antara yang sedikit.”

Direktur pemandian menambahkan bahwa mandi di tempat tersebut, apalagi dengan air hangat dan panas, dapat membuka pori-pori, meregangkan persendian, dan membuat tubuh rileks. Termasuk dapat menurunkan ketegangan, melancarkan peredaran darah, dan memperkuat kemampuan kognitif otak.

“Mandi di sini juga bisa bermanfaat bagi mereka yang mengalami gangguan punggung dan tulang belakang, membantu penderita rematik, mengaktifkan bagian tubuh yang jarang digerakkan, dan dapat mengendalikan toksin, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh,” imbuhnya.

Sejenak melepas penat di Hammam al-Samra. (The National News)

Berbagai manfaat yang ditawarkan oleh Hammam al-Samra menjadikannya sebagai tempat yang selalu ramai didatangi berbagai kalangan; ada yang sekadar berkunjung atau merenung, mandi, berendam sembari bercengkrama bersama keluarga atau kawan-kawan, juga menikmati pijatan dari tenaga medis profesional bagi mereka yang menderita sakit sendi atau rematik. Lelaki dan perempuan dapat menikmati pemandian bersejarah tersebut sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.

Kenangan yang Tersimpan di Balik Reruntuhan

Reruntuhan Hammam al-Samrah yang diakibatkan oleh pengeboman Israel (The Guardian)

Pada 8 Desember 2023, pemandian bersejarah ini menjadi sasaran penyerangan Israel. Penargetan yang disengaja terhadap sebuah bangunan bersejarah menimbulkan kekhawatiran mengenai motif di balik tindakan amoral ini. Penghancuran artefak budaya dan situs warisan atau yang dikenal dengan istilah “cultural cleansing”, secara akurat menggambarkan tindakan menghilangkan jejak budaya dan sejarah suatu bangsa. Hal ini bertujuan untuk menghapuskan nilai-nilai tak berwujud dan pengetahuan yang terkait dengan peninggalan sejarah tersebut.

Bothaina Hamdan, kepala bidang Humas di Kementerian Kebudayaan Palestina, menunjukkan bahwa kejahatan yang dilakukan Israel belum pernah terjadi sebelumnya. “Israel menargetkan warisan budaya kami (Palestina), dan ini sangat menakutkan,” kata Hamdan kepada The New Arab. “Kami memiliki sejarah panjang, jauh lebih tua dari usia Israel, dan mereka ingin menghapus kenangan akan tempat tinggal penduduk setempat.”

Penghancuran situs bersejarah atau warisan budaya suatu bangsa tidak dapat dipandang sederhana, sebab hal itu menunjukkan kemapanan emosional dan peradaban yang pernah dicapai oleh suatu bangsa. Namun, sehancur apa pun situs sejarah, ingatan sejarah tidak bisa benar-benar dicabut begitu saja dari suatu bangsa, sebab setiap kisah yang lahir akan diwariskan melalui cerita, begitu juga di Gaza.

Pemandian kuno tempat penduduk Gaza melepas penat dan berbagi semangat itu telah poranda. Tidak ada yang tersisa kecuali ingatan dan reruntuhan. Apa yang terjadi di Gaza saat ini adalah sebuah episode dari tragedi panjang yang traumatis. Namun, sebagaimana panggung drama, layar tidak akan turun sebelum drama usai–dan seperti episode yang telah berlalu, rakyat Palestina telah membuktikan keteguhan dan ketangguhan diri mereka; bahwa selain kehancuran, kisah di Gaza juga tentang kelahiran dan kebangkitan kembali sebuah peradaban. (LMS)

(Gambaran lebih lanjut mengenai interior dan kegiatan di dalam Masjid Hammam al-Samra dapat dilihat dalam video )

Referensi

Al-Qeeq, Farid. S. 2009. “A Sustainable Approach for Urban Integration of Hammam Samrah in the Historic City of Gaza”. International Journal of Architectural Research: Archnet-IJAR. Volume III, 171–185.

(https://www.academia.edu/79704349/A_Sustainable_Approach_for_Urban_Integration_of_Hamm_M_Sam_Rah_in_the_Historic_City_of_Gaza)

https://www.aljazeera.com/news/2024/1/14/a-cultural-genocide-which-of-gazas-heritage-sites-have-been-destroyed

https://english.alarabiya.net/articles/2010%2F07%2F27%2F114947

https://gaza-palestine.com/archaeological-sites-in-gaza-strip/

https://gulfnews.com/world/mena/in-israels-war-even-gazas-heritage-is-obliterated-1.1372200

https://jinhaagency1.com/en/art-and-culture/hamam-al-sammara-offers-treatments-for-many-diseases-32636

https://www.middleeasteye.net/news/israel-erases-gazas-religious-cultural-heritage

https://www.#/20231230-israeli-army-destroyed-more-than-200-archeological-sites-in-gaza-report/

https://www.palestinechronicle.com/photo-essay-gazas-hamam-al-samra-a-thousand-year-later/

https://www.palestinechronicle.com/photo-essay-a-palestinian-zaffa-at-hammam-al-sammara/

https://reliefweb.int/report/egypt/expected-socioeconomic-impacts-gaza-war-neighbouring-countries-arab-region-enar

https://www.thenationalnews.com/mena/2023/10/20/destruction-everywhere-leaves-gazas-heritage-sites-in-ruins/

https://www.thenationalnews.com/mena/inside-an-ancient-hamam-in-gaza-city-in-pictures-1.1177585

https://www.unescwa.org/news/war-gaza-unprecedented-and-devastating-impact

ShareTweetSendShare
Previous Post

Kisah Malek, Bayi Merah yang Harus ‘Menikmati’ Genosida Israel di Gaza

Next Post

Palestina dalam Gambar, Januari 2024

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

by Adara Relief International
Januari 14, 2026
0
23

Jika aku meninggal, aku ingin kematian yang menggemparkan Aku tidak ingin hanya menjadi berita utama,  atau sekadar angka dalam sebuah...

Read moreDetails
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
69
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Januari 7, 2026
30
Tawanan Palestina di penjara Sde Teiman (The Guardian)

Dari Tashrifeh Hingga Pembantaian: Penjara Israel Menjelma Neraka Bagi Tawanan Palestina

Desember 15, 2025
57
Seorang ibu di Gaza menunjukkan foto anaknya sebelum kakinya diamputasi karena serangan Israel (The New Arab)

“Pandemi Disabilitas” Ciptakan Penderitaan Tak Berujung Bagi Perempuan dan Anak-Anak Gaza

Desember 5, 2025
59
Next Post
Palestina dalam Gambar, Januari 2024

Palestina dalam Gambar, Januari 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630