Pembantaian besar-besaran yang dilakukan Zionis Israel telah meninggalkan bekas yang tak terhapuskan di Jalur Gaza yang miskin, khususnya pada anak-anak.
Sejumlah laporan mengungkap trauma mendalam yang menimpa anak-anak Gaza. Pada tahun 2021, Monitor Hak Asasi Manusia Euro-Med mengungkapkan bahwa lebih dari 90 persen anak-anak di Gaza pernah mengalami beberapa bentuk gangguan stres pasca-trauma akibat serangan Israel yang terjadi berulang kali di wilayah tersebut.
“Anak-anak saya sekarang takut bahkan untuk pergi ke toilet sendirian. Ketika mereka mendengar ledakan, mereka buru-buru bersembunyi di belakang saya atau suami saya, atau mereka duduk di tanah, dengan jari-jari menempel di telinga, berusaha meredam suara ledakan. ledakan itu. Mereka menjadi hiperaktif, terus-menerus bosan, dan meminta saya memutar kartun anak-anak, tapi kami tidak punya listrik untuk melakukannya,” kata Tasneem, seorang ibu di Gaza.
Yaser Abu Jame, psikiater senior dan direktur Program Kesehatan Mental Gaza, mencatat bahwa anak-anak menunjukkan gejala trauma dalam berbagai cara, seperti menolak makan atau minum susu, gagal tumbuh, menunjukkan perilaku hiperaktif, kesulitan berkonsentrasi, mengalami mimpi buruk, terlalu menempel pada ibunya, mengompol, dan mengeluh nyeri pada lutut atau perut.
“Sangat penting untuk mengakhiri peristiwa yang telah menimbulkan ketidakamanan dan ketakutan. Gencatan senjata dan menghentikan semua pemboman adalah langkah pertama, setelah itu kita dapat memberikan intervensi dan bantuan yang diperlukan,” kata Abu Jame. Tim programnya aktif di lapangan dan mengoperasikan 12 hotline gratis untuk layanan kesehatan mental.
Ia juga menekankan bahwa ketakutan akan penyakit menular, yang berasal dari kondisi kebersihan dan sanitasi yang buruk di kalangan pengungsi di sekolah-sekolah Unrwa, telah memperburuk tantangan yang dihadapi anak-anak dalam menghadapi keadaan buruk mereka. Meningkatnya kekhawatiran orang tua terhadap kesehatan anak-anak mereka menambah penderitaan secara keseluruhan.
“Permintaan terhadap layanan kesehatan mental biasanya melonjak drastis dua minggu setelah gencatan senjata karena orang-orang sibuk memastikan keselamatan fisik mereka, mencari tempat berlindung, dan menyediakan kebutuhan penting bagi anggota keluarga mereka seperti makanan dan air,” kata psikiater senior tersebut.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها







