• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Krisis Listrik, Penduduk Palestina Hidup dalam Kegelapan

by Adara Relief International
Oktober 27, 2021
in Artikel, Berita Kemanusiaan, Tema Populer
Reading Time: 5 mins read
0 0
0
Krisis Listrik, Penduduk Palestina Hidup dalam Kegelapan
21
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Krisis Listrik, Penduduk Palestina Hidup dalam Kegelapan – Basma menjelaskan bahwa pemadaman listrik membuat hidup mereka bagaikan kembali ke zaman primitif.

“Sejak pesawat-pesawat Israel mengebom pembangkit listrik, kami mengalami pemadaman listrik, krisis air, dan terus menderita akibat blokade Israel terhadap kami. Terkadang tidak ada listrik sepanjang hari, atau hanya menyala selama tiga atau empat jam di malam hari. Setiap kali ada penyerangan, kami hampir tidak mendapatkannya. Pasokan air juga tidak teratur dan jika menyala saat listrik padam, kami tidak bisa memompa air ke wadah di atap.[1] Saya merasa seperti air dan listrik adalah dua garis paralel yang tidak pernah bertemu!”

Kalimat tersebut diungkapkan oleh Basma Khalil (61), ibu dari empat anak yang berasal dari Gaza. Sejak Zionis menahan bahan bakar untuk pembangkit listrik pada Agustus 2020, Basma mewakili penduduk Gaza lainnya menyampaikan kesulitannya dalam beraktivitas. Pembangkit listrik yang mati akibat kekurangan bahan bakar berdampak pada berkurangnya pasokan listrik ke rumah-rumah penduduk. Hal ini mengakibatkan listrik hanya menyala sekitar empat jam per harinya di Gaza.

Basma menjelaskan bahwa pemadaman listrik membuat hidup mereka bagaikan kembali ke zaman primitif. Di rumahnya, Basma mengandalkan lilin sebagai sumber penerangan. Akan tetapi, penggunaan lilin terus menerus mengakibatkan bagian-bagian rumahnya sempat beberapa kali terbakar. Selain itu, peralatan rumah tangga yang membutuhkan listrik juga menjadi lebih cepat rusak karena digunakan secara bersamaan ketika listrik sedang menyala. Ketika ada kesempatan untuk menggunakan listrik, dalam satu waktu Basma akan menggunakan alat pembersih, alat pemanggang, kompor dan peralatan memasak, setrika, pompa air, pemanas, dan mengisi daya ponsel milik seluruh anggota keluarga. Tak heran jika peralatan menjadi cepat rusak, namun mereka tidak punya pilihan lain. Jika tidak dikerjakan sekarang, mungkin tidak akan ada kesempatan lagi karena listrik akan segera padam.

Musim panas maupun musim dingin sama buruknya ketika listrik tidak bisa digunakan. Pada musim panas, mereka tidak bisa menyalakan kipas angin sehingga seringkali harus tidur di lantai atau memercikkan air ke badan untuk mengusir hawa panas.[2] Pada musim dingin, pemanas tidak bisa digunakan sehingga mereka menggunakan batu bara untuk menghangatkan diri, meskipun sangat beresiko.[3]

Pemadaman listrik juga berdampak pada pendidikan anak-anaknya. Salah satu anak Basma adalah Ahmad yang duduk di kelas 10. Ia sangat membutuhkan listrik untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugasnya. Tak jarang Ahmad pergi ke sekolah di pagi hari ketika listrik rumahnya sedang mati, dan ketika ia pulang sekolah di siang hari ia mendapati listrik masih belum menyala juga. Ahmad dan anak-anak Basma lainnya seringkali mengatakan, “Kami tidak tahan dengan kondisi seperti ini. Sampai kapan kita akan terus seperti ini?”

Kondisi listrik di Palestina sangat memprihatinkan. Sepanjang tahun 2021, Zionis telah menghancurkan empat saluran listrik di Gaza. Jika dijumlahkan, sejak tahun 2011 hingga sekarang Israel telah menghancurkan lima dari sepuluh saluran listrik yang menyediakan pasokan listrik ke Gaza. Selain itu, Zionis juga melarang masuknya bantuan bahan bakar untuk mengoperasikan pembangkit listrik satu-satunya di Gaza. Kekurangan bahan bakar ini mengakibatkan pembangkit listrik Gaza hanya bisa mengoperasikan dua dari empat turbinnya yang membuat pasokan listrik berkurang sebanyak 45%. Larangan masuknya bantuan kemanusiaan ini merupakan bentuk hukuman kolektif yang diberlakukan Israel yang berdampak pada lebih dari dua juta penduduk Palestina.

Di Gaza, krisis yang memburuk membuat kebutuhan penduduk akan listrik tidak bisa terpenuhi. The Gaza Electricity Distribution Corporation (GEDCO) menginformasikan bahwa larangan masuknya bahan bakar untuk mengoperasikan pembangkit listrik di Gaza pada 2021 mengakibatkan penurunan kapasitas listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik yang kapasitasnya tidak lebih dari 45 MW. Akibatnya, keseluruhan kapasitas listrik yang bisa disediakan oleh Gaza hanya sekitar 116 MW yang merupakan total dari seluruh sumber listrik, sementara kebutuhan listrik di Gaza berkisar antara 425 MW pada pagi hari dan meningkat menjadi 540 MW pada siang hingga malam hari. GEDCO memperkirakan bahwa kesenjangan antara pasokan listrik dengan permintaan sangatlah besar yaitu 75%. Permasalahan ini membuat listrik hanya bisa menyala sekitar empat jam di Gaza, sementara pemadaman listrik bisa mencapai 16 jam, bahkan lebih.

Secara umum, pasokan listrik di Gaza berasal dari dua sumber. Pertama yaitu dari perusahaan listrik Israel yang memasok 120 MW listrik ke Gaza melalui sepuluh jalur. Perusahaan ini memiliki kewenangan untuk mengatur penyediaan dan pemadaman listrik serta mengatur durasinya. Kedua yaitu dari pembangkit listrik Gaza yang tangki bahan bakarnya telah dibom berkali-kali oleh Israel sejak tahun 2006. Selain itu, pembangkit listrik ini kapasitasnya juga terus dikurangi dari yang awalnya 140 MW menjadi 70 MW kemudian kini kapasitasnya sudah tidak lebih dari 45 MW. Krisis listrik ini sangat mempengaruhi kehidupan penduduk Gaza dan mempersulit aktivitas mereka.

Krisis listrik tahun ini dapat dikatakan lebih buruk dibanding tahun lalu. Pada tahun 2020, pasokan listrik di Gaza berkisar antara 180 MW dengan rincian 120 MW berasal dari 10 saluran listrik yang disediakan Israel dan 60 MW dihasilkan dari pembangkit listrik Gaza yang bahan bakarnya dibantu oleh dana dari Qatar. Penduduk biasanya bisa menggunakan listrik selama delapan jam kemudian diikuti pemadaman selama delapan jam atau lebih. Pada musim panas, pemadaman listrik bisa lebih lama yaitu hingga mencapai 12 jam.

Akan tetapi, situasi pada tahun 2020 juga tidak bisa dikatakan cukup baik karena sejak pengeboman pembangkit listrik pada tahun 2006, Israel selalu menolak untuk memperbaiki dan merehabilitasi pembangkit listrik yang rusak tersebut. Tidak hanya menolak untuk memperbaiki, Israel bahkan mengurangi kapasitasnya untuk menghasilkan listrik. Lebih buruknya lagi, Israel juga menahan bahan bakar listrik pada Agustus 2020. Israel menutup akses penyeberangan ke Gaza sehingga bantuan bahan bakar untuk mengoperasikan pembangkit listrik tidak bisa sampai ke Gaza. Hal ini mengakibatkan pembangkit listrik Gaza mati pada pertengahan Agustus akibat kekurangan bahan bakar sehingga penduduk hanya bisa menggunakan listrik sekitar empat jam per harinya.

Aktivitas penduduk menjadi sangat terganggu akibat krisis listrik ini. Segala aktivitas mulai dari menyimpan makanan, memasak, bekerja, belajar, dan komunikasi semuanya menjadi sulit karena peralatan dasar rumah tangga seperti kulkas, kipas angin, mesin cuci, oven, dan lainnya semuanya membutuhkan listrik untuk mengoperasikannya. Krisis listrik juga mempersulit penyandang disabilitas dan pasien-pasien rumah sakit yang membutuhkan perawatan dan penanganan khusus. Kebutuhan akan air juga semakin sulit untuk terpenuhi karena pompa air memerlukan listrik agar bisa menyala.

Namun, sulitnya hidup dalam kegelapan akibat krisis listrik tidak memutuskan harapan penduduk Palestina. Basma mengatakan, “Kami hanya meminta hal-hal dasar dan kehidupan yang normal : pasokan listrik yang teratur, pekerjaan untuk suami dan anak-anak saya, dan tentu saja berhentinya blokade Israel. Berikan sedikit empati! Kami ingin menikmati hidup, melihat hari-hari bahagia, hidup dengan kehormatan dan memiliki hal yang paling sederhana – listrik! Di zaman sekarang, semuanya tergantung pada alirannya. Listrik adalah mesin kehidupan. Tanpa listrik, hidup akan terhenti.”

——————————–

Sumber :

United Nations. 2017. Humanitarian Impact of the Gaza Electricity Crisis.

OCHA. 2021. 2021 Crisis : Power Deficit in Gaza.

Nashashibi, Karim, Yitzhak Gal. 2019. Gaza Electricity Reform&Restoration.

ICRC. 2020. The Impact of the Electricity Crisis on the Humanitarian&Living Conditions in the Gaza Strip – Survey Study.

https://www.btselem.org/gaza_strip/20201029_gaza_electricity_crisis_deepens_summer_2020

https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/press-release-energy-crisis-worsens-humanitarian-conditions

https://www.#/20210803-80-of-gaza-population-suffer-power-shortage-icrc-says/

https://www.#/20211005-israel-denies-electricity-to-palestinians-in-the-gaza-strip/

https://interactive.aljazeera.com/aje/palestineremix/gaza-left-in-the-dark.html#/5

Baca Juga

Trump Tetapkan Anggota “Dewan Perdamaian” Gaza, Letakkan Pejabat AS dan Israel di Puncak

Israel Rencanakan Proyek “Rute 45” untuk Konsolidasikan Permukiman di Ramallah dan Al-Quds

 

[1] Selengkapnya di https://adararelief.com/adara-report-agustus-2021/

[2] Selengkapnya di https://adararelief.com/kamp-pengungsi-gaza-di-yordania-terkurung-neraka-musim-panas-tak-bisa-didinginkan-kipas-angin/

[3] Selengkapnya di https://adararelief.com/bantuan-musim-dingin-palestina/

ShareTweetSendShare
Previous Post

Zaitun, Baju Zirah di Sekitar Bumi Palestina #Part 3

Next Post

Silwan: Palestina Berubah Jadi Zona Perang Malam

Adara Relief International

Related Posts

Trump Tetapkan Anggota “Dewan Perdamaian” Gaza, Letakkan Pejabat AS dan Israel di Puncak
Berita Kemanusiaan

Trump Tetapkan Anggota “Dewan Perdamaian” Gaza, Letakkan Pejabat AS dan Israel di Puncak

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
13

Presiden AS Donald Trump secara resmi menguraikan struktur "Dewan Perdamaian", yang diharapkan dapat "memenuhi" 20 poin rencana Trump untuk Gaza,...

Read moreDetails
Israel Rencanakan Proyek “Rute 45” untuk Konsolidasikan Permukiman di Ramallah dan Al-Quds

Israel Rencanakan Proyek “Rute 45” untuk Konsolidasikan Permukiman di Ramallah dan Al-Quds

Januari 19, 2026
12
Angka Kelahiran di Gaza Turun 41 Persen, Keguguran dan Kelahiran Prematur Meningkat

Angka Kelahiran di Gaza Turun 41 Persen, Keguguran dan Kelahiran Prematur Meningkat

Januari 19, 2026
11
Zionisme Kristen Ancam Keberadaan Umat Kristen di Palestina

Zionisme Kristen Ancam Keberadaan Umat Kristen di Palestina

Januari 19, 2026
18
Kampanye Vaksinasi Gelombang Kedua di Gaza Targetkan Anak di bawah Usia Tiga Tahun

Kampanye Vaksinasi Gelombang Kedua di Gaza Targetkan Anak di bawah Usia Tiga Tahun

Januari 19, 2026
11
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Januari 19, 2026
22
Next Post
Silwan: Palestina Berubah Jadi Zona Perang Malam

Silwan: Palestina Berubah Jadi Zona Perang Malam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630