Bayang-bayang Ketakutan Menghantui Siswa-siswi Palestina – Pagi itu, seorang pasukan pendudukan Israel berjalan ke arah Muntaser. Dengan cepat, pasukan pendudukan Israel tersebut memukulinya tanpa alasan. Tas Muntaser direbut dan digeledah. Entah apa yang dicari dari seorang anak Palestina yang sedang dalam perjalanan menuju sekolah.

Muntaser Tamimi (14) adalah seorang siswa di salah satu sekolah di Hebron. Pagi itu, seperti biasa Muntaser berangkat menuju sekolahnya dengan berjalan kaki—ia sama sekali tidak menyangka akan mengalami kejadian yang mengerikan. Di benaknya, ia hanya ingin pergi ke sekolah, belajar banyak hal, serta bermain bersama guru dan teman-teman sebayanya. Akan tetapi, pasukan pendudukan Israel dengan sengaja membuat Muntaser trauma untuk pergi ke sekolah lagi[1].
Pagi itu, seorang pasukan pendudukan Israel berjalan ke arah Muntaser. Dengan cepat, pasukan pendudukan Israel tersebut memukulinya tanpa alasan. Tas Muntaser direbut dan digeledah. Entah apa yang dicari dari seorang anak Palestina yang sedang dalam perjalanan menuju sekolah. Ayah Muntaser, Raed Tamimi, mengatakan bahwa serangan brutal pasukan pendudukan Israel tersebut mengakibatkan memar di kepala Muntaser. Tragedi yang terjadi pada 30 Agustus 2021 tersebut tentunya juga meninggalkan trauma pada diri Muntaser. Perjalanan menuju sekolah yang seharusnya menyenangkan, berubah menjadi penuh dengan ancaman dan ketakutan.
Selain di Hebron, pasukan pendudukan Israel juga menebarkan ancaman terhadap siswa sekolah di Betlehem pada akhir Agustus lalu. Pasukan pendudukan Israel menyerang dua sekolah yang terletak di Desa Al Khader di selatan Betlehem. Tawa anak-anak Palestina yang sedang belajar dan bermain segera berubah menjadi jeritan ketakutan saat pasukan pendudukan Israel menembakkan tabung gas air mata dan melempar granat kejut di halaman sekolah mereka. Tak ada korban jiwa dalam penyerangan ini, tetapi selamanya anak-anak tersebut akan berpikir bahwa sekolah bukanlah tempat yang aman bagi mereka.
Di kota Taqu, sebelah timur Betlehem, empat orang siswa sekolah juga menjadi sasaran pasukan pendudukan Israel. Pada 12 September 2021, Ghaith Issa Jibril, dua bersaudara Wissam dan Husam Murad Al-Amour, dan Attia Muhammad Al-Amour hendak pulang dari sekolah ketika pasukan pendudukan Israel mencegat mereka. Empat siswa yang bersekolah di Sekolah Menengah Taqu khusus laki-laki ini kemudian ditangkap oleh pasukan pendudukan tanpa alasan. Pasukan pendudukan Israel menawan mereka di daerah Wadi Al Halqum, sebelah barat Kota Taqu. Mereka hanyalah anak-anak berusia 14 – 16 tahun yang sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Tak ada alasan yang bisa dibenarkan untuk menangkap anak-anak itu. Satu-satunya alasan pasukan pendudukan Israel menangkap mereka hanyalah karena mereka anak Palestina.[2]
Pada September 2021, pasukan pendudukan Israel menargetkan sekolah di Nablus sebagai objek penyerangan. Puluhan siswa, guru, dan kepala sekolah Al-Sawiya di Nablus ditawan oleh pasukan pendudukan Israel pada 2 September 2021. Siswa-siswa sekolah tersebut ditangkap saat mereka sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Kepala Desa, Jacob Owais mengatakan bahwa pasukan pendudukan mengejar para siswa yang hendak pulang ke rumah di jalanan-jalanan dalam kota. Owais juga mengatakan bahwa ia ditahan bersama beberapa guru dan siswa selama lebih dari dua jam dalam cuaca yang panas. Saksi kejadian tersebut mengatakan bahwa tindakan teror yang dilakukan pasukan pendudukan Israel di wilayah tersebut bukanlah yang pertama kali.
Pada hari yang sama, sebuah sekolah di Al Quds juga menjadi sasaran penyerangan oleh pasukan Israel. Pasukan pendudukan dan dinas intelijen Israel menyerbu sebuah Sekolah Islam Khusus Perempuan di Al-Quds dan menahan kepala sekolah, guru, serta staf yang bekerja di sana. Selain itu, mereka juga menyita komputer dan dokumen-dokumen penting sekolah.
Serangan yang lebih parah terjadi di Betlehem pada 16 September 2021. Sejak pagi, pasukan pendudukan Israel telah dikerahkan untuk berkeliling di sekolah menengah di daerah Taqu. Untuk menimbulkan ketakutan pada para siswa, pasukan pendudukan menembakkan peluru logam berlapis karet dan bom suara ke wilayah sekolah. Serangan ini mengakibatkan seorang anak Palestina terluka akibat tembakan peluru[3]. Satu anak terluka secara fisik, tetapi semua anak Palestina terluka mentalnya akibat diserang ketika mereka sedang menuntut ilmu.
Tidak hanya pasukan pendudukan, pemukim ilegal Israel juga menjadi pelaku dari penyerangan yang terjadi di sekolah-sekolah Palestina. Pada 27 September 2021, pemukim bersama dengan tentara Israel menyerang sebuah Sekolah Khusus Perempuan di Ramallah. Seorang pemukim Israel memarkir mobilnya di depan sekolah Al-Lubban Al-Sharqiya kemudian memprovokasi para siswa dan guru. Sementara pemukim tersebut melakukan ‘aksinya’, tentara Israel menutup gerbang sekolah sehingga tidak ada yang bisa keluar atau masuk ke wilayah sekolah.
Dua hari setelahnya, tentara Israel kembali menyerang siswa sekolah tersebut. Penduduk setempat melaporkan bahwa para siswa sekolah Al-Lubban Al-Sharqiya dikejar-kejar oleh tentara Israel dalam perjalanan mereka menuju ke sekolah. Mereka juga menahan selama beberapa waktu dan melecehkan anak-anak tersebut. Gangguan dari tentara ini mengakibatkan anak-anak harus mengambil rute yang lebih jauh untuk bisa sampai ke sekolah.
Serangan terhadap siswa sekolah Al-Lubban Al-Sharqiya terus meningkat setelah dilakukannya pembangunan jalan menuju permukiman ilegal Yahudi, yaitu Eli dan Ma’ale Levona. Bagi 420 anak yang bersekolah di Al Sawiya dan Al Lubban Al Sharqiya, perjalanan pergi dan pulang sekolah adalah perjalanan yang berbahaya karena mereka bisa saja ditawan, ditangkap, dianiaya, bahkan diintimidasi oleh pemukim dan tentara Israel. Setibanya di sekolah, kekhawatiran tetap ada karena pemukim dan tentara Israel kerap menggerebek dan menyerang sekolah dengan bom dan gas air mata. Sejak awal tahun ajaran pada bulan September, serangan tentara Israel terhadap siswa sekolah terus meningkat. Selama hampir dua bulan, sebanyak 15 siswa ditangkap, beberapa dari mereka ditawan selama beberapa jam, sementara sisanya menghabiskan beberapa hari di dalam penjara.

Pada 2019, PBB melaporkan bahwa terdapat 257 insiden terkait pendidikan di Palestina yang berdampak pada hak anak-anak untuk mengakses pendidikan. Banyaknya insiden penyerangan di sekolah-sekolah Palestina membuat Menteri Pendidikan Palestina angkat suara. Kementerian Pendidikan Palestina mengutuk agresi Israel di sekolah, penawanan kepala sekolah, dan tindakan pasukan pendudukan Israel yang menakuti para siswa. Dalam sebuah pernyataan, dikatakan bahwa penyerangan berulang di sekolah ini adalah bagian dari agresi Israel yang berkelanjutan terhadap sistem pendidikan Palestina.
Kementerian menyeru kepada kelompok-kelompok hak asasi internasional dan pembela hak asasi manusia untuk mengambil tindakan demi melawan pelanggaran tersebut. Sekolah seharusnya menjadi tempat anak-anak belajar dan bermain dengan gembira, bukan tempat yang penuh dengan ancaman dan ketakutan.
Sumber :
https://www.aljazeera.com/features/2021/10/13/luban-ash-sharqiya
https://www.middleeasteye.net/news/israel-attacks-palestinian-school-children-nablus
https://english.wafa.ps/Pages/Details/125916
https://english.wafa.ps/Pages/Details/125909
https://english.wafa.ps/Pages/Details/126243
https://qudsnen.co/?p=29366
https://www.#/20210902-israel-detains-headmistress-from-palestinian-school-in-jerusalem/
https://www.#/20210929-palestine-occupation-soldiers-harass-and-detain-palestinian-schoolchildren/
https://www.palinfo.com/news/2021/9/12/الاحتلال–يعتقل-4-طلاب–مدرسة–في–بلدة–تقوع
https://www.palinfo.com/news/2021/9/2/الاحتلال–يحتجز–عشرات–الطلبة–ومعلمين–جنوب–نابلس
https://safa.ps/post/313323/خطوات–احتجاجية–للمعلمين–بعد–مهاجمة–طاقم–مدرسة–بنابلس
[1] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/penyiksaan-psikologis-zionis-terhadap-anak-anak-palestina-di-jalur-gaza/
[2] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/dua-pertiga-dari-tawanan-palestina-dalam-penjara-etzion-adalah-anak-di-bawah-umur/
[3] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/zionis-mencetak-prestasi-dengan-membunuh-77-anak-dalam-setahun/







