Zaitun, Baju Zirah di Sekitar Bumi Palestina #Part 2 – Minyak zaitun yang sudah diperas dapat diolah menjadi produk lain agar dapat dijual. Salah satu olahan yang terkenal dari zaitun adalah sabun. Sabun minyak zaitun terkenal kaya akan antioksidan yang berkhasiat untuk melembutkan kulit.
Nablus merupakan kota di Palestina yang terkenal dengan produksi sabun minyak zaitunnya. Produksi sabun minyak zaitun di Nablus sudah dipraktikkan sejak lebih dari seribu tahun yang lalu, kemudian berkembang menjadi skala industri pada sekitar abad ke-14.

Pabrik Tuqan, salah satu pabrik sabun tertua di Nablus yang hingga kini masih memproduksi sabun minyak zaitun, dimiliki oleh keluarga Tuqan dari Suriah yang datang ke Palestina pada abad ke-16. Pabrik ini masih menggunakan metode produksi tradisional untuk menjaga industri sabun minyak zaitun agar tetap hidup.
Pembuatan sabun dimulai dengan mencampur bahan mentah selama beberapa hari di dalam tangki yang besar. Setelah dimasak, cairan sabun dituangkan langsung ke lantai batu pabrik yang dingin. Setelah mengeras, sabun dipotong-potong dan diberi cap dengan lambang pabrik. Sabun yang sudah dipotong kemudian ditumpuk di samping jendela besar untuk proses pengeringan. Tahap terakhir dari pengeringan adalah menumpuk sabun menjadi seperti menara agar udara dapat bersirkulasi dari setiap batang sabun. Sabun yang sudah siap dijual kemudian dibungkus dengan tangan. Seluruh proses ini bisa memakan waktu hingga satu bulan atau lebih, tergantung kondisi cuaca pada tahun itu.
Pabrik Tuqan hanya memproduksi sabun minyak zaitun tradisional yang tidak diberikan wewangian, tetapi ada juga beberapa pabrik di Nablus yang menambahkan ekstrak herbal atau buah pada sabun minyak zaitun yang mereka produksi agar baunya lebih segar dan harum. Pasar utama untuk distribusi sabun minyak zaitun adalah di Palestina sendiri dan wilayah-wilayah di sekitarnya. Di samping itu, sabun minyak zaitun juga diekspor ke negara-negara Timur Tengah, bahkan hingga ke Eropa.

https://www.aljazeera.com/gallery/2016/4/8/crafting-traditional-olive-oil-soap-in-palestine
Zaitun biasanya dipanen pada Oktober—November setiap tahunnya. Momen ini merupakan waktu yang ditunggu-tunggu oleh seluruh penduduk Palestina, terutama bagi keluarga petani yang memiliki lahan zaitun. Akan tetapi, musim panen yang seharusnya dipenuhi dengan sukacita ternyata juga mendatangkan kekhawatiran pada penduduk Palestina. Hal ini sebab pada momen yang penting ini, Zionis Israel selalu mengacaukannya dengan berbagai cara.
Sejak menduduki Palestina pada 1948, Zionis telah membakar pohon-pohon yang menjadi simbol negara Palestina tersebut. Pembakaran yang mereka lakukan terhadap pohon-pohon zaitun bertujuan untuk menghapus identitas Palestina dan menggantinya dengan membangun permukiman-permukiman khusus untuk Yahud.[1] Tak hanya dengan membakar, penghancuran pohon-pohon zaitun juga dilakukan dengan cara membangun tembok pembatas, meratakan tanah dengan tank dan buldoser, juga menghalangi akses pemilik tanah yang memiliki lahan zaitun.
Kebencian Zionis terhadap penduduk Palestina dan ambisi mereka untuk merebut tanah Palestina membuat hati mereka selalu dipenuhi dengan rasa marah. Mereka tidak pernah bisa melihat penduduk Palestina hidup dengan damai, melakukan pekerjaan dengan normal, apalagi merayakan kebahagiaan atas panen zaitun. Segala cara dilakukan oleh Zionis untuk menghancurkan kebahagiaan penduduk Palestina, salah satunya dengan selalu melakukan penyerangan setiap musim panen zaitun tiba.[2] Penghancuran tersebut digambarkan oleh Mahmoud Darwish di dalam puisinya :
Baca Zaitun, Baju Zirah di Sekitar Bumi Palestina #Part 1 disini
Desa yang luluh lantak,
orang-orangan sawah, bumi, keruntuhan, dan batang zaitun kalian,
sarang burung hantu atau gagak!
Siapa yang menyiapkan pertanian tahun ini?
Siapa yang merawat tanah?
Puisi ini seakan menggambarkan kondisi setiap kali panen zaitun tiba di Palestina. Pada musim panen tahun ini, tepatnya pada 4 Oktober 2021 PBB mencatat setidaknya telah terjadi 365 kasus serangan pemukim terhadap warga Palestina,[3] terutama terhadap petani-petani yang sedang memanen buah zaitun mereka. Kebahagiaan penduduk Palestina pada musim panen dengan cepat berubah menjadi ancaman.
Tahun lalu, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) melaporkan bahwa sebanyak 9.300 pohon zaitun dihancurkan di Tepi Barat. Laporan dari OCHA juga menyebutkan bahwa selama musim panen zaitun padan 2020, setidaknya 26 warga Palestina terluka akibat serangan dan lebih dari 1.700 pohon dirusak. Pada tahun tersebut, tercatat hanya 24 persen izin akses lahan yang disetujui[4] sehingga penduduk Palestina kesulitan untuk mengolah lahan zaitun mereka akibat terkendala perizinan.
[1] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/sterilisasi-situs-ibrahimi-sebagai-langkah-yahudinisasi-atas-kota-hebron/
[2] Notula International Conference on Palestine Kuala Lumpur (ICPKL) dengan tema “Palestina, Budaya dan Warisan Ribuan Tahun” pada Sabtu, 27 Maret 2012.
[3] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/rute-60-jalan-kematian-bagi-penduduk-palestina/
[4] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/perang-senyap-silent-war-di-al-quds-timur-palestina/








